Oleh : Nida Husnia 
(Mahasiswa IAIN Jember)

Mediaoposisi.com- Sederet pendapat dan pergolakan terhadap hadirnya Islam dengan gaya baru yaitu Islam Nusantara mulai ramai diperbincangkan. Masyarakat dilema dengan datangnya Islam lokal dari bumi pertiwi ini, yang konon mengedepankan prinsip moderat, tidak ekstrem kanan dan kiri, tidak liberal dan juga tidak tekstual dalam memahami nash-nash syara’.

Selain itu, Islam Nusantara juga kental akan budaya leluhur Indonesia. Tidak bertentangan dengan adat istiadat masyarakat Indonesia, dan sangat menjunjung tinggi nasionalisme. Berangkat dari realita konflik yang mendera wilayah Timur Tengah, islam nusantara digaungkan sebagai ‘aksu atau lawan dari Islam Arab yang tidak mengindahkan makna Islam sebagai agama damai.

Para pengusung Islam Nusantara berdalih bahwa ide ini sudah melalui masa ijtihad yang panjang yang tak lepas dari nilai-nilai konstitusi negara. Sehingga tak ada  perlawanan yang mampu menumbangkan eksistensi Islam ini sebab telah diwadahi legalitasnya oleh negara.

Pada dasarnya, sebutan Islam Nusantara merupakan sebuah konsep makna yang mengkerdilkan makna Islam sesungguhnya. Sebab Islam dibatasi dengan kata’ nusantara’ yang berarti menunjukan kekhususan terhadap Islam itu sendiri yaitu Islam yang hanya ada dan dikembangkan di Indonesia.

Hal ini dibukikan dengan pernyataan Ketum PBNU Said Aqil bahwa Islam Nusantara bukan madzhab baru, bukan ajaran baru, melainkan khoshois dan mumayyizat.

Paham ini sangat bertentangan dengan Islam yang tujuannya memberi rahmat bagi seluruh alam, karena tidak mungkin Islam Nusantara dengan prinsip negaranya bisa menjadi rahmat bagi negara lain yang mengadopsi ide serupa.

Mereka pasti akan menamai Islam-nya sesuai dengan nama negaranya, maka Islam tak lagi jadi rahmat bagi seluruh alam, rahmatnya akan terbatas kepada negara itu saja.

Berbicara tentang makna, dalam disiplin ilmu kebahasaan ada sebuah pembelajaran bernama Leksikologi yaitu ilmu yang mempelajari tentang seluk beluk makna/arti kosakata yang telah atau akan termuat dalam kamus.

Salah satu teori memahami makna disebut sebagai ‘nadzahariyah tashawwuriyah’ atau  teori konseptual dimana suatu kata dimaknai sesuai dengan pikiran manusia sehingga ia dapat berubah sesuai makna yang terkonsep dalam pikiran manusia. Si A bisa saja menyebut pakaian si B berwarna hijau tosca, dan si C mengatakan pakaian si B berwarna biru tosca.

Namun teori ini memiliki beberapa kekurangan yang salah satunya adalah ketidak jelasan acuan makna yang dimaksud. Begitu pun Islam Nusantara, tak pernah ada nash yang berbicara tentangnya juga tidak mengacu kepada syariat Islam yang sesungguhnya.

Dalam ajarannya pun mengambil jalan tengah yang tidak menafsirkan Qur’an secara tekstual namun juga tidak liberal. Bagaimana jika al-Qur’an ditafsirkan tidak sesuai bunyi ayatnya? Akankah ia ditafsirkan sesuai keinginan dan kepentingan Islam Nusantara saja? Atau hendak disesuaikan dengan porsi adat istiadat masyarakat Indonesia?

Kesalahan berfikir orang-orang moderat akan sangat berbahaya dampaknya bagi masyarakat umum. Sebab masyarakat sejatinya telah dibodohi dengan koflik yang terjadi di Timur Tengah, yang mengkambing hitamkan Islam sebagai agama yang penuh kericuhan sehingga disisi lain perlu adanya terobosan Islam baru yaitu dengan Islam Nusantara.

Sebagian ajaran Islam yang diterapkan di tanah Arab juga dinilai tidak proporsional sebab aturan pakaian tertutup dengan cadar dan jilbab adalah sebuah bentuk pengekangan, sehingga munculah Islam Nusantara yang kategori ‘menutup auratnya’ disesuaikan dengan budaya berpakaian di Indonesia.

Tidakkah kita bertanya-tanya kemana sesungguhnya arah ajaran Islam Nusantara? kemana sesungguhnya tujuannya berlabuh? Mari belajar!...,Mari belajar!...[MO/sr]

Posting Komentar