Oleh:Ahmad Muntaha
(Mahasiswa Peraih Beasiswa Bidikmisi Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Sultan Agung Semarang)

Mediaoposisi.com- Di era modern ini, tenta masyarakat tidak asing lagi mendengar kata “politik”. Namun, masih banyak masyarakat yang belum memahami sistem politik atau pun pentingnya politik bagi kehidupan.

Tidak sedikit dari mereka yang merasa geli bahkan alergi dengan kehidupan politik. Ibarat berenang di kolam yang airnya sangat keruh seperti itulah gambaran politik saat ini. Berbagai macam cara dilakukan  demi menikmati kursi kuasa dan bagi-bagi hasil dirasakan.

Tradisi suap dan korup sudah menjamur dikalangan pelaku politik. Wajar, jika generasi saat ini enggang bersentuhan dengan politik dan lebih memilih untuk menjauh.

Indonesia yang sedang terjerat hutang hingga 7000 T berimbas ke pajak yang dinaikkan dengan memeras keringat rakyat lebih kuat demi melunasi hutang yang membengkak.

Selangkah demi selangkah, penghapusan minyak jenis premium atau subsisdi beralih ke pertalite yang juga samakin hari semakin naik yang berimbas naiknya harga bahan pokok. Sementara itu keran ekpor yang tersumbat memaksa negara harus membuka keran impor dengan lebar.

Belum lagi ditambah kasus korupsi yang kian mencuat dan bergulir tanpa henti. Ini baru secuil problematika dari efek politik di dalam negeri yang hanya memperkeruh politik itu sendiri. Sebagai generasi yang cerdas tentu tidak bisa menilai suatu istilah hanya dari fakta atau perilaku pelaku politik. Sebab, fakta dan perilaku pelaku bukanlah sumber dasar rujukan istilah atau konsep.

Dalam bahasa Arab, politik dikenal dengan istilah siyasah yang bermakna mengatur urusan rakyat. Sedangkan dalam kamus al-Muhith, siyasah diartikan dengan pengurusan. Secara gamblang arti politik adalah mengurusi urusan berdasarkan suatu aturan tertentu berupa perintah dan larangan.

Sudah menjadi keharusan bagi generasi saat ini untuk menjadi generasi politik agar meletakkan kembali roda politik pada rel yang benar. Sehingga diharapkan generasi politik mempunyai kesadaran dengan perspektif yang unik dan khas yang tentu berdasarkan pada akidah Islam.

Bila kita menilik kebelakang pada masa Rasulullah, beliau telah mengajarkan kepada kita aktivitas berpolitik yang baik sejak di Makkah hingga berdirinya Negara Islam di Madina yang menggunakan syariat Islma dalam mengurus urusan ummat. Wawasan yang dimiliki generasi saat itu terhadap dakwah Islam memungkinkan mereka memiliki visi dan misi Islam di dalam hati dan jiwa mereka.

Berbanding terbalik 180 derajat dengan generasi masa kini yang memilih menjauhi dakwah Islam dan bahkan merasa asing dengan dahwah Islam itu sendiri. Inilah yang menyebabkan semakin menipisnya kedekatan dan kepedulian terhadap politik dan kondisi umat Islam saat ini secara kompleks.

Padahal sering kita mendengar Sabda Rasulullah mengenai politik:

barang siapa yang tidak terbesit terhadap berbagai perkara kaum muslimin, maka orang itu bukanlah golongan kaum muslimin

Sejak Islam sudah tidak dipimpin oleh pemimpin yang mengurus dengan syariat Islam dalam institusi yang kaffah, sejak saat itulah sistem politik Islam perlahan demi perlahan diganti dengan sistem politik kufur yang ditanam di negeri kaum muslimin, tidak terkecuali Indonesia.

Di era saat ini, umat mulai dijejali dengan pemahaman-pemahaman yang keliru juga menyesatkan. Kamu kapitalis sekuler menggambarkan kepada kaum muslimin bahwa politik tidak selaras dengan agama. Politik itu kotor, pragmatis dan mustahil mengubah sesuatu yang sudah ada.

Politisi dan penguasa kian lama kian dlolim sehinggan bersikap acuh tak acuh terhapa kondisi rakyat saat ini. Tidak sedikit dari mereka yang memperlakukan rakyat dengan tidak baik. Bahkan ada pula politisi boneka yang dijadikan perantara demi keuntungan pribadi atau kelompok tertentu.

Sudah tidak diragukan lagi, saat ini jarak antara pejabat dengan rakyat kian jauh. Seakan-akan antara atasan dan bawahan. Jika menggunakan terma yang sedikit nakal, rakyat bagaikan pengemis di pasar sedangkan pejabat pedagang yang kaya raya.
Saatnya Melek Politik

Dengan melihat realita saat ini, sudah seharusnya makna politik ditegakkan kembali. Politik harus dikembalikan kembali ke makna yang sesungguhnya, yaitu mengatur, mengurus ummat. Sehingga setiap politisi harus mengatur, memperbaiki, dan mengurus ummat sesuai dengan syariat Islam.

Sekarang adalah saatnya kaum muslim bangun dari tidur panjang. Membuka mata lebar-lebar terhadap kondisi ummat Islam saat ini. Bukan malah menjauh dan mengunci diri dari politik. 

Akan tetapi berusaha menggunakan Islam untuk mengatur dan mengurus ummat dan berusaha menerapkan dan menegakkan esensi ajaran Islam demi terwujudnya kesejahteraan dan keadilan sosial dan ekonomi dalam segala aspek kehidupan. Itulah aktivitas terpenting saat ini.

Upaya melek politik tentu tidak dapat muncul begitu saja. Melainkan harus melewati jalur terjal dan proses yang berkesinambungan. Yaitu dengan memahami tsaqofah Islam, hukum-hukum dam pemikiran politik Islam dengan menggalinya akidah Islam. Sehingga terbentuklah pemikiran politik dan kesadaran politik.

Berkenaan dengan hal tersebut penulis teringat dengan penyerangan pasukan Portugis terhadap Spanyol yang menyebabkan jatuhnya kerajaan Granada ke tangan orang-orang kafir. Dan menyebabkan berakhirnya kejayaan kerajaan Islam di Spanyol saat ini.

Dari sini penulis berharap dengan meleknya kaum muslim terhadap politik dapat mengembalikan kejayaan Islam seperti dulu, dan dapat menguasai politik bahkan ekonomi di negri ini. Sehingga tatanan kehidupan berpolitik didasari dengan syariat akidah Islam.[MO/sr]

Posting Komentar