Oleh: Ulfiatul Khomariah
(Koordinator Komunitas Penulis Qiroah, Pemerhati Masalah Sosial dan Politik)

Mediaoposisi.com- Entah sampai kapan umat Islam akan menjadi korban stigma negatif manusia  yang tak berakal. Tidak cukupkah mereka menuduh umat islam dengan tuduhan radikal, intoleran, teroris hingga pelecehan terhadap simbol-simbol islam seperti bendera tauhid dan kumandang adzan. Dan saat ini mereka menyerang tempat peribadatan umat islam (masjid) dengan tuduhan radikal.

Sebagaimana yang dikabarkan oleh (cnnindonesia.com), Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) dan Rumah Kebangsaan menyebut ada 41 masjid lembaga pemerintah yang tersebar di Jakarta terindikasi terpapar paham radikal. Temuan ini berdasarkan survei yang dilakukan terhadap 100 masjid pemerintahan di Jakarta.

Dari 100 masjid pemerintahan ini terdiri dari 35 masjid di Kementerian, 28 masjid di Lembaga Negara dan 37 masjid di Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

"Dari 100 masjid yg kami survei, sebanyak 41 masjid terindikasi radikal yaitu gerakan secara mendasar tanpa memperdulikan kelompok yang berbeda," kata Ketua Dewan Pengawas P3M Agus Muhammad di Kantor PBNU Jakarta Pusat, Minggu (8/7).

Respon dari umat pun berdatangan. Banyak para ulama yang meragukan hasil survei tersebut. Bahkan Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja Sama Antaragama dan Peradaban Din Syamsuddin juga meragukan hasil survei yang mengungkapkan 41 masjid pemerintah di Jakarta terindikasi radikal.

Justru survei tersebut hanya akan menimbulkan kecemasan dan memecah kerukunan di kalangan umat Islam.

Jangan melempar isu secara verbal karena bisa menimbulkan keresahan masyarakat,” ujarnya saat konferensi pers Para Pemuka Agama Kebangsaan di Kantor Centre for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC), Selasa (10/7).

Ia meminta masyarakat tidak cepat mempercayai penilaian yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa. Sebab, penelitian tersebut bisa dilakukan dengan paradigma yang salah terhadap pemahaman radikalisme. (republika.co.id)

Sebagai manusia yang berakal, tentunya kita harus mampu mengambil sikap dan mencari kebenarannya. Yang perlu kita ketahui, sikap kritis dan radikal harus dibedakan agar tidak ada kerancuan dalam menyikapi masalah terorisme dan radikalisme.

Coba kita pahami, penggunaan narasi “Masjid Radikal” ini memberikan unsur tendensius terhadap tempat peribadatan umat Islam. Seakan-akan masjid merupakan tempat penyebaran paham radikal.
Sebenarnya definisi radikal sendiri tidak pernah ada titik temunya. Hal ini akan menyebabkan kerancuan penafsiran ditengah-tengah umat.

Oleh karena itu, penafsiran radikalisme itu sendiri tergantung kepada siapa yang menafsirkan dan sesuai dengan apa kepentingan yang hendak dicapai oleh si penafsir.

Istilah terorisme dan radikal sebelumnya bermula dari peristiwa WTC 9/11 tahun 2001 silam. Dimana kelompok muslim dituduh bertanggungjawab atas kejadian tersebut.

Akhirnya umat islam menjadi tertuduh, dan diciptakanlah istilah “Islam Radikal” untuk memberikan labeling negatif terhadap umat Islam. Alhasil, muncullah gejala Islamophobia akut di Eropa dan dunia Islam lainnya. Hingga saat ini gejala Islamophobia ini melanda Indonesia.

Perlu kita ketahui bersama, Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin. Dalam Islam tidak ada yang namanya ajaran terorisme maupun tindakan radikal. Namun, Islam dengan seperangkat syariatnya justru hadir sebagai solusi atas segala permasalahan yang ada di negeri ini.

Jika radikal yang dimaksud adalah memegang teguh prinsip syariat Islam dalam kehidupan, bukankah seorang hamba memang wajib berpegang teguh pada tali agama-Nya?

Sebagaimana firman Allah Swt, “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan.” (QS. Al-Baqarah: 208). Dan sabda Rasulullah Saw, “Telah aku tinggalkan untuk kalian, dua perkara yang kalian tidak akan sesat selama kalian berpegang teguh dengan keduanya; Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya. "(HR. Imam Malik).

Sebagai mukmin, Allah memerintahkan kita untuk masuk ke dalam Islam secara keseluruhan, tanpa pengecualian apa kedudukan dan pekerjaan kita.

Lalu apa yang salah dari prinsip hidup tersebut? Dengan adanya cap “Radikal” itu akan membuat umat muslim semakin takut terhadap agama-Nya sendiri. Mereka akan semakin takut mengunjungi masjid-masjid, padahal menunaikan shalat wajib di masjid pahalanya lebih besar daripada di rumah.

Sungguh, ini merupakan narasi yang digunakan oleh pembenci Islam agar umat Islam menjadi jauh dengan agama-Nya sendiri. Oleh karena itu, umat Islam jangan terjebak dengan istilah ciptaan Barat yang menginginkan kita melepaskan dan menjauhkan syariat Islam dari kehidupan. Itulah tujuan besar mereka, karena sejatinya Islam adalah musuh bagi kedzaliman dan penjajahan.[MO/sr]

Posting Komentar