Oleh: Wulan Eka Sari
(Aktivis Mahasiswi)

Mediaoposisi.com- Masjid Tempat Radikal
Sebanyak 41 masjid yang ada di kantor pemerintahan terindikasi sebagai tempat penyebaran paham radikal. Puluhan masjid ini berada di Kementerian, Lembaga Negara dan BUMN.

Ketua Dewan Pengawas P3M, Agus Muhammad menyampaikan diantara indikasinya adalah dilihat dari tema khotbah jum'at yang disampaikan seperti ujaran kebencian, sikap negatif terhadap agama lain dan sikap positif terhadap khilafah dan sikap negatif terhadap pemimpin perempuan dan non muslim. (https://m.liputan6.com/news/read/3582361/survei-41-masjid-di-kantor-pemerintahan-terindikasi-sebar-radikalisme?medium=Headline__mobile&campaign=Headline_click_8)

Radikalisme dan Asal-usulnya
Radikalisme adalah istilah Barat, bukan dari Islam. Radikalisme berasal dari kata radical atau radix yang berarti "sama sekali" atau sampai ke akar-akarnya. Dalam kamus Inggris-Indonesia susunan Surawan Martinus kata radical disama-artikan dengan kata "fundamentalis" dan "extrem".

Radikalisme berasal dari bahasa Lathin "radix, radiks", artinya akar; (radicula, radiculae: akar kecil). Berbagai makna radikalisme, kemudian mangacu pada kata "akar" atau mengakar.

Istilah fundamentalis atau radikalisme muncul pertama kali di Eropa pada akhir abad ke-19. Istilah ini untuk menunjukkan sikap gereja terhadap ilmu pengetahuan (sains) dan filsafat modern serta sikap konsisten mereka yang total terhadap agama kristen. Gerakan Protestan dianggap sebagai awal mula kemuncula fundamentalis.

Radikalisme Alat Untuk Menyerang Islam
Istilah radikalisme oleh Barat kemudian dijadikan sebagai alat untuk menyerang dan menghambat kebangkitan Islam. Barat melakukan monterisasi bahwa Islam adalah paham radikal yang membahayakan.

Monterisasi inilah yang melahirkan Islamophobia di Barat dan seluruh dunia. Inilah cara terakhir Barat untuk melanggengkan hegemoni ideologi Kapitalisme sekular dengan menyebarkan paham demokrasi. Proyek antiradikalisme atau deradikalisasi terus digulirkan dengan menggulirkan wacana moderasi agama hingga memunculkan istilah baru, yakni "Islam Nusantara".

Ironinya, banyak kaum Muslim tertipu dengan proyek ini. Mereka ikut terlibat dalam berbagai program deradikalisasi, bail karena kebodohan maupun karena pragmatisme semata. (Al-wa'ie, edisi 1-31 Januari 2018)

Khilafah Mengancam Barat
Sungguh Khilafah adalah ancaman serius bagi negara-negara imperialis. Terbitnya Khilafah merupakan mimpi buruk yang terus menghantui tidur imperalis Barat (dan Timur). Kekhawatiran akan bangkitnya Khilafah islamiyah itu terungkap jelas dari mulut-mulut mereka.

Henry Kissinger, dalam sebuah pidatonya di India pada 6 November 2004 M, dalam Konferensi Hindustam Times yang kedua, menyampaikan,

 " Ancaman-ancaman itu sesungguhnya tidak datang dari teroris, sebagimana yang kita saksikan pada 11 September. Akan tetapi ancaman itu sesungguhnya datang dari Islam fundamentalis ekstrem yang berusaha menghancurkan Islam moderat yang bertentangan dengan pandangan-pandangan kelompok radikal dalam masalah Khilafah Islamiyah."

Tidak hanya itu, Mantan Perdata Menteri Inggris Tony Blair,di hadapan Konferensi Umum Partai Buruh pada 16/07/2005 M, mengatakan,

"Kita sesungguhnya sedang menghadapi sebuah gerakan yang berusaha melenyapkan negara Israel dan mengusir Barat dari Dunia Islam serta menegakkan Daulah Islam tunggal yang akan menjadikan syariah Islam sebagai hukum di Dunia Islam melalui penegakkan Khilafah bagi segenap umat Islam." (Al-wa'ie, edisi 1-31 Desember 2017)

Khilafah Solusi bagi Indonesia
Indonesia dirundung banyak masalah. Akarnya adalah sekulerisme yang melahirkan Kapitalisme. Kapitalisme melahirkan seperangkat aturan (sistem) yang dibuat oleh manusia.

Di bidang ekonomi lahir sistem ekonomi kapitalis. Di bidang politik lahir sistem demokrasi. Di bidang sosial-budaya lahir sistem sosial-budaya yang liberal. Di bidang pendidikan lahir sistem pendidilan sekular (yang jauh dari agama). Demikian seterusnya.

Di bidang ekonomi, sistem ekonomi kapitalis gagas mensejahterakan umat manusia, kecuali segelintir saja. Di Indonesia, misalnya, jelas jauh lebih banyak orang miskin ketimbang orang kaya. Ini karena sumberdaya alam milik rakyat yang melimpah-ruah banyak dikuasai dan dinikmati segelintir orang, terutama pihak asing, daripada dinikmati oleh rakyat sebagi pemiliknya.

Di bidang politik, sistem demokrasi hanya melahirkan banyak kekacauan politik. Faktanya, DPR sebagai lembaga wakil rakyat justru banyak memproduksi UU yang menindas rakyat dan lebih memihak para pemilik modal.

Pemerintah pun melahirkan banyak kebijakan yang mendzalimi rakyat sekaligus memanjakan para pemilik modal tersebut. Alhasil, kedaulatan rakyat dalam demokrasi juga bohong belaka.

Oleh karena itu, berbagai persoalan yang mendera negeri ini tidak mungkin dapat diselesaikan kecuali dengan menyingkirkan sistem Kapitalisme dan sistem demokrasi. Solusinya tidak mungkin bisa didapatkan hanya dengan mengganti rezim, melainkan melalui perubahan sistem dan ide-ide umum tentang kehidupan. (Al-wa'ie, edisi 1-31 Mei 2018)

Karena itu, penerapan Islam secara kaffah adalah solusi nyata bagi NKRI. Khilafah adalah satu-satunya sistem pemerintahan Islam, bukan yang lain.

Dengan Khilafah Indonesia dan umat Islam akan dipersatukan dalam satu kepemimpinan dan satu negara. Di dalamnya seluruh hukum syariah Islam diterapkan secara kaffah dan dakwah islam disebarkan keseluruh penjuru dunia.

Ketika hukum-hukum Allah diterapkan secara sempurna, niscaya Allah SWT akan melimpahkan kebaikan dan keberkahan. Tidak rindukah kita dengan sistem yang mulia ini. Sistem dalam naungan ridho Illahi.[MO/sr]

Posting Komentar