Oleh: Qatrunnida Al-Banat
(Pengajar di SD Asyifa Bandung)
Mediaoposisi.com- Nilai tukar rupiah Rupiah menembus Rp 14.400 per USD 5 Juli  lalu. Rupiah melemah hingga 10 poin atau 0,07 persen. Banyak yang beranggapan bahwa melemahnya rupiah bukan masalah, juga pelemahan rupiah bukan yang terparah dibandingkan kurs negara di Asia.

Bahkan Gubernur Bank Indonesia  Perry Warijyopun menyatakan bahwa “Pasar tidak perlu panik, karena rupiah masih terkendali”. Sedangkan pada faktanya dari kenaikan rupiah tersebut banyak sekali kerugian di berbagai sektor kehidupan masyarakat. Sektor usaha paling rentan adalah industri pengolahan, sector bangunan/property dan perdagangan (kompas.com).

Seakan tak mau tahu atau pura-pura dengan kondisi masyarakat, pendapat-pendapat yang menyatakan bahwa melemahnya rupiah bukanlah sebuah ancaman justru berbanding terbalik dengan fakta yang ada.

Dari kerugian berbagai sektor diatas tentu hal ini juga semakin memberatkan rakyat kecil, karena rakyat hidup dengan bahan-bahan yang mahal. Belum lagi terjadinya inflasi menyebabkan kondisi keuangan masyarakat semakin menghimpit.

Bisa jadi bila kondisi ini terus menerus terjadi yang ada Indonesia diambang krisis moneter yang berkepanjangan. Penyebab dari pelemahan rupiah ini terjadi karena persaingan dagang antara AS dengan China dan Uni Eropa, namun hal ini juga disebabkan faktor internal. Detik.com.

Menginduknya rupiah pada dolar AS tentu menjadi penyebab awal dari krisis ini, mau tidak mau ketika dolar naik tentu negara pengikutnya harus mengikuti. Harga pokokpun mengikuti.

Padahal dalam Islam, nilai tukar uang tidaklah ada. Karena dalam Islam hanya diberlakukan dinar dan dirham saja. Penggunaan dinar dalam Islam juga dapat meningkatkan kestabilan moter karena dinar dapat membyat uang menjadi stabil dengan kandungan 1 dinar senilai 4,25 gram, karena dinar mengandung emas 22 karat maka tidak ada perbedaan nilai dinar di negara lain.

Hal ini tentu memberikan kemudahan pula bagi masyarakat dan tidak akan ada kekhawatiran lagi karena negara yang menggunakan dinar tidak akan bergantung pada valuta negara asing. Tentu dinar hanya bisa berlaku dalam negara yang menerapkan Islam di dalam pemerintahannya.[MO/sr]


Posting Komentar