Oleh : Bagas Kurniawan
('Aliwa Institute)

Mediaoposisi.com- Integritas seorang pemimpin, sangat dibutuhkan. Baik itu mencakup pemimpin keluarga, perusahaan, bahkan negara. Bagi seorang pemimpin bila dalam kepimpimpinannya ia tidak bisa mengurus atau menyelesaikan peemasalahan suatu negeri maka bisa dipastikan bahwa pemimpin tersebut telah gagal dan layak untuk diganti dengan yang lebih baik.

Pilkada serentak yang telah di lakukan pada (27/6) ini, memberikan suatu gambaran bahwa koalisi tanpa kompromi. Jelas, dimasa injury time perhelatan Pilkada 2018, dua partai politik yang berkoalisi di pemerintahan, terlibat perseteruan. Seperti dikutip. (Rmool.co.id).

Pangkal soal lantaran kedua kubu saling mengklaim dukungan dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk jagoan mereka masing-masing di Pilkada Jawa Timur (Jatim). Menurut Ketua Umum Golkar, Airlangga Hatarto, Jokowi telah memberi instruksi untuk memenangkan Khofifa Indar Parawangsa. Sedangkan kata Sekjen PDIP, Ahmad Basarah tak mungkin Jokowi tidak loyal pada Megawati Soekarnoputri, sehingga sudah pasti ia mendukung Puti Guntur Soekarno.

Kepercayaan publik terhadap pemerintah kian tumpul, dengan melakukan tindakan yang dirasa bermain diantara dua kaki, Presiden Jokowi makin hari semakin menunjukkan sikap yang di nilai memberikan contoh yang tidak elok dalam konstelasi perpolitikan di negeri ini.

Wajar, itulah karakter sebagai seorang pemimpin disaat pemimpin itu tidak menjadikan sebuah standar dalam menjalankan roda pemerintahan. Yaitu standar yang pasti benar dan akan membawa kepada kebaikan. Tentu dengan meneladani kepemimpinan Rasulullah Saw.

Kepentingan atau manfaat, itulah sejatinya partai-patai politik yang saat ini ada. Yang saat ini terjadi bukan lagi partai politik yang membawa kebaikan kepada Umat, namun lahir partai politik yang membawa kepada kesengsaraan, kehancuran, pada diri Umat.

Pangkal dari diterapkannya sistem Sekulerisme-Demokrasi, melahirkan pemimpin dan sistem kepemimpinan yang tidak amanah dan sering melukai hati Umat. Inilah pangkal yang sesungguhnya.

Pemimpin dan sistem kepemimpinan yang amanah hanya ada di dalam Islam. Maka kita sebagai seorang Muslim wajib tahu, bahwa Islam mempunyai suatu cara dan metode untuk menyelesaikan persoalan-persoalan pada diri Umat.

Bila saat ini, Presiden Jokowi selalu menunjukkan ketidakseriusannya dalam berbuat dan mengurusi Umat, maka patut di pertanyakan bahwa Presiden Jokowi bekerja untuk siapa ? Dan mengapa selalu menunjukan kesan dan perbuatan yang tidak sesuai dengan ucapannya ? Publik bertanya ?

Wallahu 'alam.

Posting Komentar