Oleh: Riris Putri, A.Md
(SEORANG PRAKTISI PENDIDIKAN)

Mediaoposisi.com- Baru – baru ini pemerintah menetapkan sistem zona sekolah untuk pendidikan sekolah menengah dan sekolah menengah atas.

Dan kebijakan ini wajib diterapkan oleh semua sekolah di seluruh Indonesia berdasarkan permendikbud Nomor 17 Tahun 2017 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) pada Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, Sekolah Menengah Kejuruan, atau Bentuk Lain yang Sederajat.

Dengan penetapan zona sekolah ini, diharapkan semua sekolah bisa sederajad statusnya, sehingga tidak ada lagi sekolah favorit yang hanya dihuni oleh siswa-siswi berprestasi dan dari kalangan elit saja sehingga marak terjadi jual beli kursi. Seklain itu,

dengan adanya system zona, diharapkan siswa dari kalangan kurang mampu bisa mengenyam pendidikan yang setara dengan adanya program gratis biaya sekolah.

Namun benarkah hal ini bisa menjadi solusi terhadap masalah pendidikan yang saat ini seolah-olah tidak pernah habis dibahas dan tidak pernah tuntas dalam penyolusian.

Memang benar, setiap kebijakan pastilah tidak langsung menuai keberhasilan, terlebih sebuah kebijakan pemerintah yang mengatur urusan hajat hidup orang banyak.

Namun perlu kita pahami bersama ketika kita hendak menyolusi permasalahan, maka haruslah kita kaji dahulu akar masalah dari yang terjadi.Agar solusi konkrit dan efektif bisa menjadi solusi yang tepat untuk  menyelesaikannya.

Permasalahan pendidikan memang tiada habisnya jika kita bahas bersama, hal ini karena semua komponen dalam masyarakat dan pemerintahan terlibat langsung dalam praktiknya. P

endidikan, seharusnya mampu mencetak generasi unggul tidak hanya di bidang akademik, tetapi juga harus unggul dalam hal moralitas dan akhlakul karimah yang baik dan benar sesuai apa yang menjadi norma-norma sosial di masyarakat dan sesuai dengan ajaran agama.

Namun kenyataannya, pendidikan saat ini belum bisa mencetak generasi yang demikian, sekalipun sekolah tersebut adalah sekolah favorit dengan fasilitas lengkap dan canggih dan dengan biaya sekolah yang mahal.

Terbukti meskipun jebolan sekolah favorit dan elit, masih banyak yang menjadi penyumbang masalah kenakalan remaja. Mulai dari sex bebas, aborsi, tawuran pelajar, bullying, generasi alay dan lain-lain.

Lalu mengapa hal ini bisa terjadi? Apa yang salah dari sekolah-sekolah tersebut? Jika kita kembalikan pada akar masalah, ternyata penyebab mendasarnya bukan karena status sekolah tersebut favorit ataupun bukan. Karena pada hakikatnya, semua lembaga pendidikan menerapkan sistem pendidikan yang sama, yakni sistem pendidikan sekuler kapitalis.

Dimana kurikulum yang dibuat dan pelajaran yang ditanamkan ke para siswa, adalah pelajaran yang menjauhkan mereka dari hakikat ketaatan kepada Allah SWT. Dan pendidikan kapitalistik yang berorientasi hanya pada nilai akademik dan materi semata. Sehingga wajar, kasus kenakalan remaja masih menjadi PR besar pemerintah dalm menuntaskannya.

Lalu bagaimana solusi yang tepat dalam hal pemerataan pendidikan? Status sekolaf favorit atau tidak, harusnya kita pandang dari sudut output generasinya. Output dimana yang dihasilkan, bukan sekedar ahli dalam akdemik semata, tapi bagaimana sudut pandang generasi dalam memandang kehidupan.

Output genarasi unggul dalam hal akademik dan ketaatan individu yang akan menjadikan moralitas baik, hanya bisa dicapai ketika kurikulum pendidikan yang diterapakn adalah kurikulum yang mencakup pemahaman itu semua. Sementara itu, setiap orang memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan berkualitas.

Dan pendidikan yang layak dan berkualitas akan menghasilkan generasi uyang tidak hanya unggul di bidang akademik saja, namun di bidang moralitas dan ketaatan terhadap Allah SWT.

Sehingga akan tercipta ketaatan individu, yang mampu membentengi diri mereka dari godaan kemaksiatan. Maka, sudah saatnya kita menggunakan kurikulum pendidikan yang mampu menjadikan generasi menjadi generasi unggul. Dengan kurikulum yang berasal dari dzat yang maha esa, yakni kurikulum islam.[MO/sr]




Posting Komentar