Oleh: Ahmad Fadholi

Mediaoposisi.com- Beberapa tokoh politik dan pemikir muslim Indonesia seperti Romahurmuzy dan alm Nurcholis Madjid pernah membawa pengertian kalimatin sawain kepada Pancasila.
Betulkah?

Kalimatin sawain terdapat di dalam QS Ali Imron ayat 64 :

قل يا اهل الكتاب تعالوا الى كلمة سواء بيننا وبينكم الا نعبد الا الله  ولا نشرك به شيئا ولا يتخذ بعضنا بعضا اربابا من دون الله فان تولوا فقولوااشهدوا بانا مسلمون

Artinya : "Wahai ahli kitab mari kita berpegang kepada kalimat sawa' antara kami dan kalian, agar kita tidak menyembah kecuali kepada Allah dan agar kita tidak menyekutukan Allah dengan satu apapun dan agar sebagian kita tidak menjadikan sebagian yang lain sebagai sesembahan selain Allah, jika mereka berpaling katakanlah (Wahai ahli kitab) saksikanlah oleh kalian bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri."

Menurut jalalain kalimatin sawain adalah kalimat yang mustawin amruha atau urusannya sudah sempurna, final, tidak bisa diutik utik, harga mati.

Arraghib Alasfihani menyebut salah satu arti sawain adalah wasath; tengah tengah, ibarat ada  tali yang mempunyai dua ujung maka sawa' berada pas di tengah tengahya.

Ibnu katsir menyebut arti sawain nishfu (pertengahan) dan 'adl.

Jika kita mentadabburi QS Ali Imron ayat 64 secara tidak utuh alias berhenti di kalimatin sawain dan tidak mentadabburi kalimat setelahnya maka pengertian ayatnya membuka peluang dibawa ke pengertian yang bermacam-macam termasuk dibawa ke Pancasila.

Akan tetapi Al Quran tidak menjadikan ayatnya berhenti di kalimat kalimatin sawain, Al Qur'an meneruskannya dengan frase :

ان لا نعبد الا الله ولا نشرك به شيئا ولا يتخذ بعضنا بعضا اربابا من دون الله

Agar kita tidak menyembah kecuali kepada Allah, tidak mensekutukan Allah dengan satu apapun dan tidaklah sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai sesembahan selain Allah.

Tiga hal inilah maksud dari kalimatin sawain sesuai kaedah baku penafsiran Al Qur'an dimana kalimat-kalimatnya menguatkan satu dengan yang lain.

Arti jangan sebagian kita menjadikan sebagian yang lain arbaban (sesembahan) selain Allah.

Siapa yang dimaksud arbaban yang dijadikan sesembahan oleh Ahli kitab.

Jalalain menyebut arbaban yang mereka jadikan sesembahan adalah akhbar dan ruhban atau ahli agama dan pendeta mereka.

Disebut demikian karena mereka menjadi sumber penghalalan dan pengharaman yang karena itulah disebut ahli kitab menjadikan mereka sebagai arbaban (sesembahan).

Tafsir jalalain itu sejalan dengan riwayat at-Tirmîdzi:

«أَنَّ عَدِيْ بنِ حَاتِمٍ قَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ مَا عَبِدُوْهُمْ قَالَ بَلَى إِنَّهُمْ أَحَلُّوْا لَهُمْ الحْرَامَ وَحَرَّمُوْا عَلَيْهِمْ الحْلاَلَ فَاتَّبَعُوْهُمْ فَذَلِكَ عِبَادَتُهُمْ إِيَّاهُمْ»

Sesungguhnya 'Adi bin Hatim berkata kepada Rasulullah, bahwa mereka tidak menyembahnya. Nabi menjawab, “Benar. Namun, mereka (ulama dan rahib) itu telah menghalalkan untuk mereka (umatnya) hal-hal yang haram dan mengharamkan untuk mereka hal-hal yang halal, kemudian mereka mengikutinya. Itulah ibadah (penyembahan) mereka kepadanya.

Ibnu Katsir menukil perkataan Ibnu Juraij :

يطيع بعضنا بعضا فى معصية الله

"Sebagian kita mentaati sebagian yang lain dalam bermaksiat kepada Allah."

Jika kita merujuk perntataan Ibnu Juraij ini  maka banyak sekali hukum-hukum Islam yang merupakan perintah Allah tapi tidak diformalkan sebagai hukum yang berlaku dan Pancasila yang disebut kalimatin sawain oleh Nurcholis Madjid, Romahurmuzy, politisi serta pemikir muslim kontemporer tidak meniscayakan pemberlakuannya.

Poin ketiga dari rincian kalimatin sawain ini hanya bisa dipenuhi dalam satu sistem yang menjadikan kedaulatan di tangan syariat yaitu khilafah.[MO/sr]

Posting Komentar