Oleh: Nurhayati
(Mahasiswa, Aktivis Back to Muslim Identity Community Samarinda)

Mediaoposisi.com- Memasuki bulan Juli pada tahun 2018 ini, pemerintah membuat kejutan kepada rakyat yang dicintainya. PT Pertamina (Persero) memastikan akan segera menjual gas elpiji 3 kilogram nonsubsidi. Penjualan ini rencananya akan dimulai pada tanggal 1 Juli 2018.

(https://economy.okezone.com/read/2018/06/22/320/1912700/gas-elpiji-3-kg-nonsubsidi-mulai-dijual-1-juli-2018).

Pada 1 Juli ini juga harga BBM Nonsubsidi naik. Terhitung sejak Minggu, 1 Juli 2018 PT Pertamina (Persero) langsung menaikkan harga bahan bakar minyak nonsubsidi. Revisi harga BBM nonsubsidi mengalami kenaikan perliternya. (http://kaltim.tribunnews.com/amp/2018/07/01/1-juli-2018-harga-bbm-nonsubsidi-naik-berikut-daftar-harga-barunya-di-seluruh-indonesia)

Menurut yang dilansir oleh RMOL.co, pemerintahan Jokowi dinilai mengalami kepanikan menyusul tagihan hutang luar negeri yang jatuh tempo.

Pengamat Kebijakan Publik dari Budgeting Metropolitan Watch (BMW), Amir Hamzah mengungkapkan hingga Juli 2019, Jokowi harus membayar utang luar negeri sekitar Rp 810 Triliun. Artinya setiap bulannya wajib mencicil Rp 70 Triliun.

Kejutan dibulan Juli dari penguasa untuk rakyatnya. Kado kenaikan harga BMM dan gas elpiji. Sebuah kado yang membuat rakyat benar-benar terkejut. Bahkan tercekik hingga hidup diujung tandu. Hal yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat, sedikit demi sedikit pemerintah menarik tanggungjawab mereka atasnya.

Jika harga BBM dan gas elpiji melambung, bisa dipastikan kebutuhan pokok lain akan meroket. Pasalnya BBM dan gas elpiji merupakan kebutuhan mendasar masyarakat yang dengan kebutuhan tersebut hendak memenuhi kebutuhan pokok lainnya.

Misal dalam perdagangan, untuk mengadakan barang disuatu wilayah maka memerlukan distribusi dari daerah lain dan dalam pendistribusian ini memerlukan transportasi baik dari darat, laut maupun udara. Alat transportasi pasti membutuhkan bahan bakar.

Kemudian dalam kebutuhan dapur dan rumah makan, gas sangat dibutuhkan untuk memasak sebab Jika menggunakan minyak tanah pun harganya lebih tinggi. Bayangkan jika BBM dan gas elpiji terus melambung, masyarakat sebagai korban utama akan semakin menderita.

Kemudian yang paling merasakan dampak dari kenaikan harga ini adalah masyarakat yang tinggal di pelosok dan daerah yang jauh dari pusat ibukota. Barang-barang dan kebutuhan pokok biasa dipasok dari kota besar ke daerah terpencil dan daerah-daerah di perbatasan.

Untuk sampai ke tujuan, barang-barang tersebut harus berhenti disatu tempat lalu pindah ke tempat lain. Hal ini disebabkan karena akses menuju daerah tersebut masih minim fasilitas sehingga membutuhkan waktu dan biaya untuk benar-benar sampai ke tempat tujuan tersebut.

Akibat pendistribusian yang seperti ini, maka harga yang awalnya melambung akan semakin melambung naik. Tentu saja karena ongkos kirim perjalanan dan biaya lainnya yang membuat harga suatu barang lebih mahal dari tempat produksinya.

Jika sudah seperti ini maka masyarakat yang tinggal dipelosok dan daerah perbatasan yang paling menderita terkena dampak kenaikan harga. Uang sulit dicari namun harga kebutuhan pokok semakin meninggi.

Kado di bulan Juli yang kita terima ini, hadiah penderitaan dari penguasa kita takkan pernah menjadi yang terakhir kalinya. Sebab selama yang diadopsi adalah sistem kapitalis maka selama itu pula masyarakat akan terus menjadi korban keserakahan lintah penguasa tamak.

Mereka yang korupsi, rakyat korbannya. Mereka yang bergaji tinggi, rakyat hidup miskin. Mereka yang berhutang, rakyat yang disuruh bayar.

Akibat sistem yang tidak memanusiakan manusia. Hanya mementingkan kepentingan pribadi dengan sibuk memperkaya diri sendiri. Pada akhirnya hanya akan membawa negeri ini semakin merosot menuju ambang kehancuran.

Penguasa tak lagi menjalankan perannya sebagai pelindung rakyat dan rezim ini amnesia terhadap amanat kesejahteraan rakyat yang dipercayakan padanya. Selama rezim ini masih berkuasa, selama negeri masih mengadopsi sistem kufur maka selamanya hidup akan menderita.

Tak cukup hanya mengganti penguasa, tak cukup sekedar mengganti wajah baru pemimpin kita. Tapi lebih mendasar dari semua itu ialah karena sistem yang menguasai kita dzolim dan akan terus mendzolimi.

Permasalahan kita bukan sekedar kebijakan pemerintah, namun karena kita masih berkubang pada sistemang sama. Maka solusinya tentu saja mengganti semuanya. Ganti penguasa, ganti rezim, ganti sistem kita.[MO/sr]

Posting Komentar