Oleh : Suratin Robiyatna SE.Sy

Mediaoposisi.com- Ini kisah pribadi saya yang nyatanya saya beberkan karena ada pertanyaan yg memancing saya bercerita ini. Seorang ibu bercerita telah belanja pakaian, dia menceritakan bahwa pakaian yg ia beli semua total harga dihitung langsung oleh penjual nya. Bahkan penjualnya menghitung satu-persatu pakaian tadi dan mentotal jumlah harga bahkan ngasih diskon.

Tapi yang bikin bingung adalah harga awalnya berbeda dengan harga total. Menjadi lebih murah dan itu agak tidak masuk akal.

Ibu bertanya pada saya :" bukan salah saya kan kalau saya dpt harga murah, wong itu dia hitung sendiri?".

Tegasnya, sebagai muslim wajib jujur bukan karena orang lain. Maka sebagai muslim sikap kita adalah mengklarifikasi dan membantunya menghitung ulang sampai penjualnya sadar bahwa itu benar hitungannya. Karena manusia bisa saja khilaf, lupa, dan salah hitung.

Saya contohkan bahwa saya sering mengalami ini. Ketika saya membeli pulsa 15.000 dengan uang pecahan 50.000 harusnya uang kembali 35.000 tapi malah kembali 85.000. Brati 50.000 lebihnya itu bukan hak saya, maka harus saya kembalikan.

Suatu hari juga pernah, saat berangkat ke kantor saya mampir SPBU untuk isi bensin. Nyatanya saya sudah bilang tepat didepan telinga petugas "Pertalite, 9.000" tapi petugas saya perhatikan pencet tombolnya 19.000  saya sempat heran dan takut. Karena hanya pegang uang 9.000. Dan setelah selesai saya ulang memang di mesin terlihat 19.000 tepat.

Saya pun siap jika harus ninggalin hp atau apa untuk jaminan kurang 10.000 tapi sampai saya serahkan uang 9.000 petugas diam saja. Sampai saya menstater motor saya pun tidak ada petugas yang menstop saya.

Ah nanti saja pulang kantor, karena saya sedang terburu-buru sekali. Benar pulangnya saya jelaskan kenapa saya membayar lagi kurangnya yang 10.000 petugas SPBU terheran heran. Dan berterima kasih.

Cukup. Lega rasanya. Dan itu adalah kekuatan iman. Secara dhohir saya tidak mencuri dan itu kesalahan dari petugas tapi tetap itu menjadi kewajiban saya yang tahu letak salah untuk membenarkan walaupun kesalahan orang lain itu menguntungkan saya.

Disinilah nilai Rizki itu berkah dan tidaknya disana. Dan rizki yang begini lebih menentramkan, karena apalah nikmatnya keuntungan dunia yang merugikan orang lain. Jujur itu ajaran Islam di hargai atau tidak itu urusan Allah.

Kehidupan kita yang rumit, sulit di sistem yang menghimpit ini jangan sampai jadi alasan untuk berpasrah dengan ketidakjujuran meski itu menguntungkan. Karena itu hanya bersifat sementara saja di dunia ini. Dan syetan selalu menggunakan celah ini untuk terus menjerumuskan manusia dalam kesalahan.

Awalnya tidak sengaja dan kita berpasrah dengan kemaksiatan tidak melawan lama lama terbiasa dan mulai tidak mampu mengindikasikan mana perbuatan yang baik dan yang buruk karena toh semua efeknya sama.

Tentang perbuatan manusia itu ada pertanggungjawaban kelak di akhirat, walaupun di dunia nampak tidak terdeteksi sesama manusia. Tapi sang Khalik maha tahu. Dan hidup itu ada keterikatan dengan sang pencipta bukan semaunya sendiri.

Dan Islam mengajarkan muslimnya untuk jujur karena jujur itu perintah Allah, bukan karena kehebatan atau karena menguntungkan. Itulah kenapa muslim yang benar-benar memahami makna kejujuran adalah perintah Allah, tidak butuh pencitraan. Beramal dan beribadah tanpa butuh publikasi.

Dan semoga semakin banyak pribadi pribadi muslim yang menyadari bahwa yang lebih membutuhkan kejujuran itu adalah dirinya sendiri. Karena kejujuran itu sudah sesuai fitrah penciptaan manusia, manusia yang tidak jujur itu melawan fitrah dan itu tidak akan memberi ketentraman hidup sama sekali. Hidup penuh dengan kepalsuan.

Dan di zaman saat ini kejujuran justru bisa diperjualbelikan. Ini karena sebab mulai menguapnya ketakwaan individu dari setiap pribadi muslim, ditambah menipisnya kontrol dari masyarakat.

Bahkan parahnya lagi negara yang memiliki kewajiban memberikan edukasi akhlak kepada masyarakat tentang makna kejujuran saat ini justru terbalik memberikan contoh-contoh sikap tidak jujurnya dan cenderung dengan menonjolkan pencitraan yang jelas-jelas sudah nampak kebobrokannya.

Maka sangat dibutuhkan sekali lahirnya pribadi pribadi muslim yang bertakwa dan bersikap jujur karena ajaran Islam.[MO/sr]

Posting Komentar