Oleh: Dwi P. Sugiarti
(Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

Mediaoposisi.com- Identitas lebih sering dikaitkan dengan labelling atau hanya tanda pengenal belaka. Namun, jika “identitas” dikaitkan dengan kata islam tentu tak bisa hanya dikaitkan dengan hal itu. Sebab islam adalah agama dengan segala konsep hidup yang khas. 

Hari ini sedang ramai orang berbicara tentang apa yang disebut sebagai “Islam Nusantara”. Dilansir dari berbagai sumber, islam Nusantara adalah wacana gambaran muslim di Indonesia.

Dalam Simposium Nasional Agama yang diadakan di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Dr. Siti Ruhaini Dzuyatin menyampaikan bahwa Indonesia semestinya tampil sebagai negara yang menjadi representasi wajah islam saat ini dengan percaya diri.

Sekarang sebenarnya mata dunia itu melihat ke Indonesia. Bagaimana Indonesia mampu mengelola keberagaman. Jadi Indonesia harus muncul dan menjadi representasi diri sebagai negara islam yang damai.” (www.voaindonesia.com, 17/07/2018)

Beliau juga menambahkan bahwa Presiden Joko Widodo sendiri berkeinginan Islam Nusantara yang berkemajuan diterapkan di Indonesia.

Pernyataan senada dipaparkan juga oleh Guru Besar UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Prof. Al Makin menegaskan pentingnya para muslim Indonesia mengenakan identitas lokalnya yang lebih kuat dan tidak perlu menerapkan identitas global karena akan cenderung melahirkan radikalisme.

Pernyataan di atas  seolah menyimpulkan bahwa  Islam ada bermacam-macam. Pernyataan tersebut pun memiliki indikasi bahwa identitas Islam Nusantara tak hanya diartikan sebagai simbol keberadaan islam di Nusantara atau Indonesia.

Namun lebih dari itu, Islam Nusantara digaungkan sebagai sebuah ide “baru” yang dianggap model terbaik percontohan islam masa kini. Toleran, cinta damai dan bebas konflik menjadi bagian dari karakteristik yang ingin direkatkan dalam konsep Islam Nusantara. Padahal hal tersebut justru akan membuat identitas islam menjadi kabur.

Ujungnya, Islam Nusantara akan melahirkan “identitas baru” dalam islam itu sendiri. Sebab hakikatnya Islam Nusantara  memiliki beberapa konsep yang berbeda dengan islam di negeri muslim lain terutama di Timur Tengah.

Jika hal ini dibiarkan, maka umat islam akan terpecah belah. keberadaan islam akan menjadi tersekat-sekat. Padahal hakikat islam adalah persatuan. Islam tak pernah mengajarkan perpecahan dan intoleransi. Sebab islam adalah agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Allah SWT berfirman :

Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam" (QS. Al Anbiya : 107)

 Sebagai seorang muslim sepatutnya memang kita memiliki cara pandang yang lebih luas. Namun bukan berarti kita memisahkan diri seolah kita berbeda dengan muslim di negara lain. Muslim Indonesia atau di negeri manapun tetaplah sama.

Tuhan, Nabi, kitab hingga aturan tak ada yang berbeda. Keberadaan konflik, pelanggaran HAM yang ada hari ini hanyalah buah dari kesalahan penerapan islam oleh manusia hingga melahirkan intoleransi, kedzaliman, penindasan hingga terorisme.

Ada banyak hal yang harusnya menjadi sorotan kita hari ini. Sebagai negeri mayoritas muslim terbesar di dunia, Islam dan umat islam di negeri ini terus dijadikan sebagai sebagai bahan tontonan. Sekulerisme telah menjadikan umat islam terhadap simbol-simbol islam seperti kata jihad, syariah dan khilafah.

Hal ini jelas tak bisa dibiarkan. Umat harus sadar bahwa kondisi islam dan umat muslim hari ini dikarenakan pengaruh ideologi sekulerisme yang ingin mencoba menjauhkan umat islam dari islamnya sendiri.

Kesadaran islam ini akan muncul ketika ia benar-benar memahami islam dengan sudut pandang yang benar bukan sudut pandang sekulerisme. Maka upaya mengembalikan pemahaman umat kepada islam yang benar adalah hal yang tak boleh kita tinggalkan. Umat islam harus tetap menjalankan aktivitas menyeru (dakwah) agar islam kembali dimabil sebagai ajaran yang dijadikan way of life. [MO/sr]

Posting Komentar