Oleh:Winda Sari 
(Aktivis Mahasiswi)

Mediaoposisi.com-  Politik itu identik dengan orang-orang hebat di dalamnya, banyak orang-orang mumpuni di bidang yang ia emban dalam perkara politik. Tak sembarang orang yang bisa masuk dalam politik, selain berat beban yang diemban sebagai politikus, ia juga harus amanah dalam menjalankan tugasnya.

Tapi, akhir-akhir ini banyak sekali orang-orang dari panggung hiburan yang berbondong-bondong masuk dalam politik dan bergabung dengan partai politik.

Fenomena artis yang turut terjun ke dunia politik dan menjadi bagian dari badan legislatif atau wakil rakyat tidaklah sedikit. Partai politik pun menerima kesempatan ini untuk menunjukkan eksistensinya.

Hal ini karena partai politik saat ini bergerak menjadi match all party atau mengambil figur dari seluruh kalangan, menurut Pangi Syarwi Chaniago, pengamat politik. Termasuk dari kalangan artis. Tak salah jika setiap parai politik terdapat artis di dalamnya.

Partai politik yang bergerak menjadi match all party disebabkan karena kemungkinan adanya kemacetan dalam kaderisasi anggota partai. Kondisi seperti inilah, kemacetan kaderisasi.

Partai politik terjebak dalam kepanikan, disaat partai politik panik, akhirnya partai politik mengambil sikap atau langkah dengan menerima kaum populis dari kalangan artis dan kalangan kaum populis atau artis inilah yang digunakan partai politik untuk menjadi daya tarik partai agar mendapatkan suara dan target kursi di parlemen terpenuhi.

Seperti itulah politik saat ini yang ramai dari kalangan orang-orang populis atau kalangan artis. Bahkan ada yang mengatakan bahwa banyaknya kalangan artis yang menjadi caleg itu karena Jokowi. Jokowi dinilai sebagai tokoh inspirasi untuk berkontribusi dalam dunia politik.

Ialah Giring vokalis Nidji yang mengakatan demikian, ia menilai bahwa tak ada salahnya menjadikan Jokowi sebagai sosok untuk para artis yang terjun ke dunia politik.

Politik itu harus bersih, karena politik adalah tumpuan Negara dalam membangun bangsa. Termasuk orang-orang yang ada dalam politik, harusnya orang-orang yang amanah. Kondisi semacam ini terjadi dalam Negara yang menganut sistem demokrasi dan liberalisme.

Tidak boleh sembarang orang yang masuk ke dalam politik, harus orang yang paham betul dengan hukum-hukum syara’, orang yang bertanggung jawab, bukan untk tempat eksistensi diri dan partai.

Politik itu bersih, apabila dihuni oleh orang-orang yang menjunjung tinggi syariat islam. Jika dilihat bagaimana kondisi politik sekarang, banyak caleg-caleg atau wakil rakyat yang tidak paham syariat islam secara kaffah, bahkan mereka ada yang menetang jika syariat islam secara kaffah diterapkan, begitu pula pemimpinnya yang berasal dari partai anti islam.

Orang yang terjun dalam politik itu orang yang harus siap melaksanakan syariat islam secara kaffah dan bahkan mendukung jika syariat islam secara kaffah itu diterapkan. Politik itu tak lepas dari islam.

Islam juga mengatur masalah politik, oleh sebab itu dalam politik islam, politik bagian dari hukum syara’. Begitu pula dengan orang-orangnya yang harus bertanggung jawab dan menjadi pelaksana hukum-hukun syara’ dalam Negara, bukan demokrasi dan kawan-kawannya.

Maka dari itu, politik ada untuk umat dengan diterapkannya syariat islam secara kaffah, bukan untuk ajang eksistensi diri dan partai.[MO/sr]

Posting Komentar