Oleh: Abu Nawas Barnabas

Mediaoposisi.com- Muke gile, Bujug Dah, dunia pendidikan perlu merombak methode penelitian, ada revolusi ilmiah di bidang perteluran. Si engkoh membuat teori kasualitas *"HUBUNGAN KENAIKAN HARGA TELUR DENGAN PIALA DUNIA".*

Si Engkoh mengonfirmasi bahwa memang ada kaitan langsung antara Piala Dunia dengan kenaikan harga telur, terutama yang untuk konsumsi rumah tangga. Selama gelaran sepakbola dunia itu, permintaan telur meningkat, sebagai makanan instan untuk menemani bergadang sambil menonton sepakbola.

Bayangan si engkoh, semua rakyat tidak kerja. Hanya duduk didepan tipi melototin bola. Rakyat semua makmur, jadi tidak perlu mengais idup, cukup mojok dirumah nonton tivi sambil makan mie instan campur telor ceplok. Begitu seterusnya.

Gagagagagag, ini Menteri Perdagangan apa Menteri Dagelan ? Klo dulu suruh nawar jika harga beras naik, sekarang nyalahin piala dunia saat harga telor naik. Untung saja, tidak berfatwa *"telor naik rakyat suruh nelor sendiri",* kelar idup rakyat.

Tak ada, satupun logika yang mewakili logika waras, agar rakyat membenarkan kesimpulan nyeleneh dari ujaran-ujaran aneh. Pejabat era Now, tidak pernah mikir saat ngomong. Pejabat dengan preman pasar tidak ada bedanya, kerjanya ngasal.

Pejabat yang tidak lahir dan dibesarkan dari umat, tidak akan pernah mampu mencerap dan merasakan derita umat. Karenanya, dalam membuat kebijakan tidak akan pernah menjadikan asas umat, sebagai pertimbangan.

Pejabat dari kalangan pedagang (kapitalis), hanya melihat rakyat sebagai objek , pasar belaka. Tidak ada visi melayani umat, yang ada adalah berdagang kewenangan untuk mencari keuntungan dengan mengeksploitasi derita umat.

Lihat saja, jika kasus telur ini tidak juga reda, pasti pejabat keluarkan jurus Import. Alasannya, untuk menambah stok agar harga stabil. Tidak mikir lagi imbasnya bagi peternak lokal. Tidak juga memikirkan masa depan perteluran, agar peternak lokal untung, harga terjangkau bagi pelanggan, dan Value meningkatkan benefit bagi negara.

Jika buka keran impor, yang terbayang fee Import dari sekian ribu ton. Tidak pernah memikirkan dampaknya bagi rakyat. Pejabat tdk ubahnya makelar, pedagang ! Mereka hanya menjadi kepanjangan tangan para penjajah aseng dan asing.

Wahai umat, wahai kaum muslimin. Sesungguhnya urusan politik ini tidak akan pernah selesai, jika kalian semua tidak kembali kepada syariat Allah SWT, dzat yang menciptakan kalian semua. Kalian, akan terus dicekik oleh kebijakan-kebijakan zalim yang ditelurkan sistem sekuler demokrasi.

Lihatlah keseluruhan kebijakan pejabat di negeri ini, saksikanlah ! Betapa mereka secara terbuka menghinakan kalian ! Kalian disuruh diet, disuruh makan keong, disuruh makan cacing, disuruh cabut meteran listrik, sementara mereka terus berfoya dengan fasilitas negara sodara !

Karena itu, kalian harus potong seluruh ikatan legitimasi. Potong setiap kaki yang menopang sistem zalim demokrasi. Potong seluruh loyalitas pada sistem kufur, ikat akidah kalian hanya dengan Islam, dan campakkan loyalitas selain kepada Islam.

Berhimpunlah, dalam barisan politik Islam untuk memperjuangkan tegaknya syariat Islam dimuka bumi. Ingat ! Kita semua, akan dikumpulkan di Padang makhsyar, dan ingat ! Kita semua akan dimintai pertanggungjawaban atas amanah menjadi Khalifah dimuka bumi ini.

Posting Komentar