Oleh : Siti syamsiyah 
(Mahasiswi Universitas Jember)

Mediaoposisi.com- Siapa yang tak mengenal aplikasi Tik Tok? Aplikasi yang tengah naik daun terutama pada kaum milenial zaman now. Munculnya aplikasi ini telah banyak mengantarkan manusia menuju ketenaran dunia nyata dan maya.

Sebagai contohnya, sebut saja Bowo dan Nurani. Kedua remaja ini menjadi buah bibir bahkan telah mengundang fans-fans dadakan yang ingin mengetahui kiprah prestasinya. Berkat aplikasi ini, kedua remaja ini melanglang buana tampil di stasiun televisi dan dikenal banyak orang.

Tak tanggung tanggung, menurut Senior Vice President Bytedance Technology, Zhen Liu, pengguna aplikasi ini mencapai 10 juta orang di Indonesia (Viva.co.id) dan kebanyakan penggunanya dibawah umur (bisnis.tempo.co).

Namun sayang, ketenarannya justru mengundang ironi dan kemirisan.
Tak jarang pengguna aplikasi ini adalah kaum Muslim, termasuk kedua remaja di atas. Bahkan mereka rela menggadaikan aqidahnya demi bertemu pujaan hati.

Seperti yang diungkapkan Yusriana, Pemerhati Generasi, yang mengatakan bahwa semakin banyak generasi alay yang abai terhadap identitas dirinya dan rela melepaskan keIslamannya demi bertemu dengan orang yang dikaguminya (Mnews).

Di tengah permasalahan krisis identitas generasi, diperparah dengan fasilitas sosial media yang tidak mendidik dan merusak menambah masalah baru. Tentu tak lain dan tak bukan, masalah ini merupakan watak dari sistem yang sekarang diterapkan, sistem kapitalisme-sekuler.

Tabiatnya sistem ini memisahkan agama dari kehidupan serta pemuasan asas manfaat dengan meraup untung sebanyak banyaknya. Pemuda menjadi sasarn empuk sebab pemuda merupakan tonggak perubahan suatu bangsa. Apabila pemudanya telah dirusak, maka dapat dipastikan nasib suatu bangsa akan buram.

Berbeda sekali dengan masa diterapkannya Islam pada masa silam. Pemudanya tak sibuk dengan ketenaran dunia, justru benar benar bijak menyikapi godaan dunia.

Sebut saja Muhammad Al-Fatih yang mampu menaklukkan konstantinopel pada usia yang masih muda, 21 tahun. Imam syafi’i, salah satu Imam madzhab yang mampu menghafal Al Qur’an pada usia tujuh tahun dan mampu menghasilkan karya tulis yang bermanfaat untuk umat.

Banyak sekali potret pemuda muslim yang menorehkan prestasinya demi kemaslahatan ummat. Keadaan ini dapat terjadi sekali lagi dan bukan hal mustahil jika generasi generasi seperti

Muhammad Al Fatih dan Imam Syafi’i akan muncul kembali pada masa sekarang.
Hal ini tidak dapat terwujud di dalam sistem kapitalis-sekuler, sebab generasi muslim gemilang dalam sejarah tidak lahir dari sistem ini, namun lahir dari sistem yang diturunkan oleh Sang Maha Penyayang dan Pengatur, ialah Islam.

Islam tidak dapat diterapkan secara keseluruhan apabila negara tidak menginginkannya. Perbaikan masalah generasi tidak bisa hanya menitik beratkan dalam keluarga, namun perlu diterapkan dalam kehidupan bernegara agar Islam dapat digunakan dalam seluruh sendi kehidupan.

Ketiadaan Islam menyebabkan manusia menutuup mata dari akhirat dan berlomba dalam mengejar dunia sebab yang menjadi pijakan adalah hukum jahiliyah. Allah SWT berfirman

Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang yang meyakini agamanya?” (Al – maidah : 50

Inilah yang menyebabkan generasi zaman sekarang kehilangan identitas kemuslimannya. Gaya hidupnya mengikuti hukum hukum jahiliyah yang diterapkan. Maka tidak ada alasan untuk menolak Islam, sebab dengan diterapkannya Islam secara kaffaah, masalah generasi akan tersolusi secara tuntas.[MO/sr]






Posting Komentar