Oleh: Lili Agustiani, S.Pd 
(Pemerhati Masalah Sosial, Anggota Komunitas Revowriter 6 Samarinda)

Mediaoposisi.com- Zaman sekarang apakah masih ada masyarakat memasak pakai kayu bakar? Kalau daerah pedalaman mungkin yah, tapi sudah tidak murni monoton kayu bakar. Karena kemajuan teknologi saat ini membuat semuanya mudah didapati. Baik di desa, kampung-kampung apalagi perkotaan.

Kalaupun ada tungku untuk memasak dengan kayu bakar, pasti juga ada terdapat kompor gas. Karena saat ini untuk menggunakan kompor minyak tanah sudah jarang kita jumpai.

Perubahan yang dulunya menggunakan kayu bakar untuk memasak kebutuhan rumah tangga, beralih ke kompor sumbuh dengan bahan bakar minyak tanah, kemudian saat ini berpindah ke gas adalah alternatif yang ditawarkan pemerintah untuk mempermudah masyarakat dalam memasak berbagai macam kebutuhan rumah tangga.

Namun alternatif yang ditawarkan ke masyarakat tidaklah gratis. Tentu harus ditukar dengan uang. Disinilah peran seorang pemimpin kepada rakyatnya. Dia wajib memberikan yang terbaik dan memudahkan masyarakat dalam mendapatkannya.

Namun sudah tidak menjadi rahasia lagi bahwa, yang dulunya gas melon diedarkan untuk Rakyat Miskin kini akan diganti dengan gas Strawbery atau gas elpiji 3 kg non subsidi. Artinya gas untuk Rakyat Miskin akan beralih untuk gas semua kalangan. Tidak ada lagi subsidi dari pemerintah untuk meringankan beban rakyat miskin.

Seperti yang dilansir oleh okezonefinance PT Pertamina (Persero) memastikan akan segera menjual gas elpiji 3 kilogram nonsubsidi. Penjualan ini rencananya akan dimulai pada tanggal 1 Juli 2018.

Plt Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati mengatakan, elpiji ini nantinya akan dijual bebas kepada masyarakat. Artinya baik masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) maupun yang mampu bisa membelinya.

Meskipun sudah mantap, namun Nicke belum menentukan berapa harga yang akan dijual. Namun berdasarkan usulan dari Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis, dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno, elpiji 3 kg nonsubsidi akan dijual dengan harga Rp39.000.

"Belum nanti (kisaran harganya). Belum tahu (apakah akan dijual Rp39 ribu atau tidak)," tegasnya.
Penjualanan Gas Elpiji 3 kg dengan klasifikasi subsidi dan non subsidi sejatinya telah menciptakan kesenjangan ekonomi ditengah-tengah masyarakat. Hal seperti ini hanya terjadi di sistem kapitalisme. Dimana tujuan akhir dari klasifikasi adalah kembali menguntungkan para pemilik modal.

Jika memang gas elpiji strawberry diperuntukkan untuk kalangan menengah ke atas, yang menjadi pertanyaan. Berapa banyak mereka yang membutuhkan dibandingkan dengan kalangan masyarakat kebawah atau yang tergolong tidak mampu. Sementara angka kemiskinan kian meningkat dari tahun ke tahun.

Seperti fakta yang sering kita jumpai, untuk memenuhi kebutuhan gas elpiji 3 kg subsidi saja masih sering mengalami kelangkaan ditengah-tengah masyarakat. Ketika suatu saat kelangkaan gas elpiji 3 kg subsidi itu terjadi. Maka mau tidak mau masyarakat yang seharusnya mendapat gas elpiji subsidi akan beralih membeli gas non subsidi. Karena ini adalah soal kebutuhan.

Sudah terlihat kemana sebenarnya arah dikeluarkannya kebijakan ini. Secara halus akan menghapus keberadaan gas elpiji 3 kg yang disubsidi untuk masyarakat, seperti yang dulu pernah terjadi pada minyak tanah.

Lalu apakah kita sebagai masyarakat yang mayoritas muslim masih mau berpegang teguh pada sistem yang tidak berpihak kepada rakyat? Masihkah kita ingin diatur dengan aturan yang hanya mementingkan para pemilik modal? Jawabannya tentu tidak. Lalu adakah solusi atau adakah sistem yang berpihak kepada masyarakat tanpa memandang kelas kaya atau miskin?

Jawabannya hanya dengan Islam masyarakat akan sejahtera. Dalam islam kekayaan alam yang dibutuhkan oleh orang banyak adalah milik umum. Bukan milik individu apalagi Negara. Rosullullah saw bersabda.

Kaum muslim berserikat dalam tiga hal, yaitu air, padang dan api”. (HR. Ahamad). Tidak seperi kondisi fakta saat ini. Kekayaan alam yang seharusnya milik umum telah diserahkan kepada asing.

Negara mempunyai hak untuk mengelola kekayaan sumber daya alam untuk hajat orang banyak. Kemudian hasilnya dijual kepada masyarakat dengan harga semurah-murahnya. Kalau kita bandingkan saat ini justru masyarakat dijadikan konsumen untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya.

Maka wajar jika angka kemiskinan kian hari kian meningkat.
Maka pilihan tetap ada ditangan kita masing-masing, mau berubah kearah yang lebih baik yaitu Islam ataukah masih betah dipimpin oleh sistem kapitalisme seperti saat ini.[MO/sr]

Posting Komentar