Oleh: Nova Friska, S.Kep., Ns

Mediaoposisi.com- Buat agama yuk, kak bowo jadi tuhannya, kita semua jadi umatnya.” Ungkap salah seorang remaja pada halaman social medianya.
Bowo kuh, aku rela kok jual ginjal demi meet sama kamu.” Ungkap remaja L pada postingan social medianya.

Saat ini Indonesia tengah dihebohkan dengan munculnya seorang bocah yang konon katanya adalah "artis" tik tok. Bocah yang dikenal dengan nama “Bowo” ini kerap menjadi sorotan karena aksinya yang memukau pada aplikasi tersebut.

Puncaknya adalah saat dirinya mengadakan meet and greet berbayar yang membuat sebagian besar masyarakat Indonesia, khususnya orang tua, yang selama ini khawatir dengan aplikasi tersebut, meminta pemerintah untuk segera menutup aplikasi tersebut.

Tik tok, aplikasi video musik dan jejaring sosial asal Cina ini, tidak memiliki pembatasan usia sehingga dapat diakses oleh semua kalangan. Tak hanya itu, aplikasi yang menyuburkan generasi alay ini pun kerap dijadikan para remaja sebagai ajang pengekspresian diri tanpa batas.

Sehingga dapat kita temukan, remaja putri kerap memamerkan tubuhnya, yang bukan konsumsi public, sebagai alat untuk menopang popularitas.

Dua pernyataan yang muncul sebelumnya adalah pernyataan dari fans fanatic bowo tik tok. Mereka telah menjadikan Bowo sebagai idol hingga rela menukar akidah dan menggadaikan hidupnya. Idol berasal dari bahasa Yunani “eidolon” yang berarti “image”.

John M. Echols dan Hassan Shadily menyatakan dalam “ An English-Indonesian Dictionary” bahwa idol memiliki makna “berhala”, yang jika dikembangkan ke kata idolatry dimaknai sebagai pemujaan terhadap berhala. Sungguh sangat miris! Mengingat begitulah potret remaja saat ini

Tik-Tok : Potret Degradasi Moral 
Kondisi degradasi moral yang terjadi pada remaja menyebabkan remaja kehilangan sosok yang seharunya menjadi “icon” untuk diidolakan. Mereka seakan dibuat tertidur oleh sejarah mereka sendiri. Singa yang dulu ditakuti, kini telah tertidur.

Cout Korzen, PM inggris pernah menyatakan, “ Turki tidak akan bangkit karena jantungnya telah dihancurkan yaitu Islam dan Khilafah.

Jika dulu dunia sangat mengenal sosok panglima tak terkalahkan Khalid bin Walid, pembebas the great constantine Mehmed II atau Muhammad Al Fatih, maka hari ini remaja lebih mengenal sosok seperti Bowo, Nuraini, artis korea dan artis lainnya dibandingkan manusia-manusia terbaik yang sosoknya nyata dan memberikan kontribusi konkrit bagi agama.

Remaja terus disuguhkan dengan pemikiran sekuler yang membuat mereka kehilangan jati diri dan identitasnya. Tidak adanya penanaman aqidah islam melahirkan remaja rapuh dan alay yang hanya menjadikan dunia sebagai tujuan akhir kehidupan.

Hal ini wajar, mengingat penerapan sistem Demokrasi Kapitalisme-Sekuler semakin tampak nyata. Diantara 4 point kebebasan yang diusung Demokrasi, kebebasan berekspresi salah satunya. Kebebasan ini melahirkan masyarakat yang bebas melakukan apapun yang diinginkan, meskipun hal tersebut merugikan dirinya dan orang lain, dikarenakan tidak adanya kontrol dan peran negara.

Padahal sangat mudah bagi negara untuk mengambil kebijakan seperti memblokir aplikasi tersebut, agar tidak dapat diakses kembali. Namun sayangnya, keuntungan yang kerap menjadi pertimbangan, membuat negara lebih rela menjual moral remaja bangsa ini, dibandingkan harus merelakan pundi-pundi keuntungan tersebut lenyap.

Islam dan Negara bagi remaja
Islam merupakan agama yang mengatur manusia dari bangun tidur hingga membangun negara, begitu juga remaja. Islam memandang remaja sebagai tonggak estafet penerus bangsa sehingga harus benar-benar dijaga dari serangan pemikiran yang bukan berasal darinya (read:Islam).

Tak dapat dipungkiri, bahwa keluarga merupakan madrasatul uula (sekolah pertama) bagi sang anak, sehingga peran orang tua sangat penting untuk senantiasa menanamkan akidah dan tsaqafah Islam.

Konon lagi, masa remaja adalah masa pencarian jati diri, pengekspresian diri secara totalitas serta masa pencarian pengakuan diri, sehingga peran orang tua sangatlah dibutuhkan sebagai salah satu stake holder yang akan mengarahkan sang anak menuju kebaikan berbuah syurga.

Selain orang tua, sekolah juga sangat menentukan bagaimana perkembangan selanjutnya bagi remaja. Dikarenakan sekolah adalah lingkungan kedua dimana waktu remaja banyak diluangkan untuknya. Pengajaran yang diberikan haruslah senantiasa mengarahkan para remaja menuju jalan ketaqwaan dan kebaikan.

Hal ini juga sangat ditentukan oleh kurikulum yang diterapkan. Jika kurikulum yang diterapkan masih berbasis Ideologi Demokrasi Kapitalime-Sekuler, maka mustahil output yang dihasilkan adalah individu taqwa. Oleh karenya, disinilah dibutuhkan peran negara.

Negara adalah pemilik stake holder utama yang seyogyanya dapat mengontrol setiap hal yang terjadi didalamnya. Negara dapat menjadi benteng utama akan intervensi asing khususnya yang bersifat soft power yaitu Ideologi Demokrasi Kapitalisme-Sekuler.

Namun, hal ini mustahil diterapkan jika basis negara tersebut bukanlah negara Islam. Oleh karenya jika ingin melahirkan generasi muttaqin, maka penerapan Islam secara kaffah adalah solusinya.[MO/sr]


Posting Komentar