Oleh: Susi Maryam Mulyasari

Mediaoposisi.com- Sejak sepekan lalu, publik Indonesia di hebohkan dengan berhasilnya Muhammad Zohri meraih juara dunia lari 100 meter di kejuaraan atletik di Finlandia. Semua tak menyangka Zohri bisa menjuari kejuaraan itu, bukan hanya itu publik juga tidak tahu akan ada kejuaraan itu.

Di video cuplikan detik-detik Zohri meraih juara, kita bisa lihat ketika peserta di negara lain begitu antusias karena ada dukungan dari para supporter, atribut kejuaraan menghiasi para pendukung negara lain, namun berbeda dengan zohri, harus berjuang sendiri, meluapkan ekspresi juara sendiri, bahkan ketika dia meraih juara,

berlari kesana kemari untuk mencari bendera merah putih yang tak kunjung ada, selang beberapa waktu akhirnya zohri mendapatkan bendera merah putih yang asalnya bendera Finlandia yang posisinya dibalikan.

Melihat kejadian ini sontak membuat publik marah karena seakan-akan tidak ada peran pemerintah. Namun, rasa empati mulai bermunculan dari masyarakat Indonesia ketika sosok zohri mulai di beritakan, peraih medali emas ini ternyata sudah meraih 20 kejuaraan yang mampu mengharumkan nama Indonesia,

namun kondisi sang juara ini sangat memprihatinkan melihat rumah zohri yang sangat sederhana, bahkan mendekati mau rubuh. Sejumlah apresiasi dari pemerintah pun tak mau ketinggalan, untuk membalas jasa sang juara ini.

Bercermin dari sosok Zuhri dan Raihan emas yang di dapatkan di berbagai turnamen, semua orang sepakat bahwa medali emas adalah capaian tertinggi yang harus diwujudkan dari sebuah turnamen. 

Semua perangkat disiapkan baik official tim, para sponsor dan tak lupa dukungan dari pemerintah, sejumlah apresiasi sudah disiapkan bagi para juara, walaupun menggunakan dana APBN yang sebenarnya bisa dialokasikan untuk yang lain, namun semuanya dilakukan dengan asumsi bahwa meraih emas di berbagai turnamen akan mampu mengharumkan nama bangsa.

Kalau seandainya asumsi bahwa meraih emas adalah sebuah prestasi yang tertinggi yang harus diraih oleh negara, maka seharusnya berlaku sama terhadap penguasaan tambang emas terbesar dunia yang kita miliki yang sekarang dikuasai oleh PT Freeport,

bukan hanya mampu mengharumkan nama bangsa tapi juga bisa mempertahankan kedigdayaan sebuah bangsa, lebih jauh dari itu sejumlah problem yang dialami bangsa ini bisa terselesaikan, kita tidak perlu berhutang ketika APBN kita defisit cukup dengan mengoptimalkan hasil tambang emas tersebut.

Sehingga bisa dikatakan Muhammmad Zohri telah menyelesaikan tugasnya dengan baik, yaitu meraih sekeping emas dengan berlari secara kilat. Sekarang kira-kira kapan ya rezim ini atau penguasa ini lari untuk mengejar gunung emas yang ada di Papua.

Usaha pemerintah untuk meraih kembali emas yang di kuasai PT Freeport kelihatannya "serampangan", "sporadis" bahkan cenderung dipaksakan bahkan berbau pencitraan sebagai respon dari kebijakan yang telah dibuat sebelumnya.

Penguasaan saham PT Freeport 51% yang telah dilakukan pemerintah, menurut pandangan para ahli cenderung dipaksakan dan bahkan berbau pencitraan yang terlalu berlebih. Kesepakatan akuisisi 51% saham Freeport mendapat kritikan dari mantan Menteri Keuangan, Fuad Bawazier yang menurutnya kesepakatan tersebut hanya sebuah pencitraan di tahun politik.

Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN), Amien Rais, juga menyindir kesepakatan divestasi saham Freeport bohongan. Sebelumnya, Kamis (12/7), Freeport McMoRan inc meneken head of agreement divestasi 51% saham Freeport dengan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum).

Emang benar penguasaan saham PT Freeport tidak bisa 100% kita kuasai, karena sejak awal kita di ikat oleh MOU yang jelas-jelasnya merugikan bangsa kita.  Namun demikian pembelian saham PT Freeport 51% perlu kita sikapi dengan serius, kenapa?

Karena gunung emas yang ada di papua sepenuhnya milik rakyat Indonesia, seharusnya negera kita mempunyai daya tawar yang tinggi yang mencerminkan kewibawaan negeri ini, tapi nyatanya tidak sama sekali, ini lah dampak dari neoimpealisme dampak dari penerapan sistem kapitalisme. 

Oleh karena itu sudah selayaknya kita kembali kepada aturan Allah swt niscaya kesejahteraan kita dapatkan.[MO/sr]







Posting Komentar