Oleh: Ropi Marlina

Mediaoposisi.com- Isu terorisme kembali menguat. Segala macam cara dilakukan agar umat teralihkan dengan isu ini. Memainkan isu terorisme dengan tampilan Islam merupakan drama lama yang diulang-ulang. Tidak semua rakyat Indonesia menerima drama ini mentah-mentah.

Baru-baru ini terjadi teror terhadap rumah Mardani Ali Sera dan mobil Neno Warisman meledak, namun kenapa tak ada identifikasi pasukan Densus 88 dan dianggap sebagai tindakan teroris ?

 Jika itu baru desas desus, kabar burung, mereka diam saja,  tetapi jika terkait umat Islam yang diduga, pasukan Densus laksana pahlawan bertopeng unjuk kebolehannya. Bahkan saat sholat tarawih ketika Ramadhan, terduga tidak boleh menyelesaikan sholat witir, langsung digelandang tanpa ampun.

Mengulik motif juga luar biasa, mulai dari sel tahanannya, jaringannya, organisasinya, dll. Dalam sekejap, mereka ditangkap hidup atau mati.  Inilah drama yang senantiasa dimainkan oleh yang berkepentingan. Yang menjadi sasaran utamanya tidak lain adalah umat Islam.

Mereka membuat politik stigmatisasi terhadap Islam, seolah-olah teroris selalu identik dengan ajaran Islam. Teroris dibuat sebagai sebuah kebencian global pada Islam.Isu ini akan terus dimainkan untuk memberikan stigma dan framing negatif kepada Islam dan kelompok islam yang dianggap radikal versi mereka.

Seperti yang disampaikan Prof Din Syamsudin dalam debat ILC bahwa terorisme adalah rekayasa global yang dibuat oleh barat untuk menghancurkan islam dan kaum muslimin. Hasilnya, islamofobia semakin merajalela.

Kaum muslim menjadi takut belajar islam dan pada akhirnya mereka hanya berislam ala kadarnya. Sesuai yang diinginkan barat yaitu menjauhkan kehidupan kaum muslim dari agamanya.

Teroris bukan ajaran Islam dan tidak bisa dijadikan alasan untuk mereduksi kenyataan bahwa Islam adalah ideologi (agama,politik dan spiritual). Karena Islam adalah agama (diin) yang diturunkan oleh Allah swt kepada Nabi Muhammad saw. untuk mengatur hubungan antara manusia dengan Allah, dengan sesamanya, dan dengan dirinya sendiri. 

Karena itu, Islam tidak hanya mengajarkan akidah yang mengharuskan setiap pemeluknya untuk mengimani keberadaan Allah, malaikat-malaikat Allah, kitab-kitab Allah, Rasul-rasul Allah, hari kiamat dan qodho qodar.

Islam juga mengharuskan setiap pemeluknya untuk terikat dengan syariat-Nya; baik yang berkaitan dengan masalah ibadah, muamalat (seperti sistem ekonomi), munakahat (seperti sistem pergaulan pria-wanita), hudud dan jinayat (seperti sistem sanksi dan peradilan), jihad, maupun ahkam sulthaniyah (seperti sistem pemerintahan), dsb. Inilah yang disebut  Islam kaffah.

Inilah keberislaman yang diperintahkan oleh Allah SWT. Oleh karena itu, sungguh kekejian yang sangat nyata jika barat berupaya mengaburkan ajaran Islam kaffah dengan membenturkan istilah teroris. Sejatinya setiap muslim wajib mengamalkan dan mendakwahkan Islam apa adanya, tidak dipilih-pilih apalagi dikompromikan sesuai arahan barat.

Sungguh, Aksi terorisme dibuat untuk memunculkan sikap defensif apologetik ditengah umat sehingga mereka takut menyerukan kewajiban menegakkan sistem politik islam dengan menerima gagasan moderasi Islam hanyalah upaya menciptakan islamphobia di tengah-tengah umat.[MO/sr]

Posting Komentar