Oleh : Nida Husnia
 (Mahasiswa IAIN Jember)

Mediaoposisi.com- Mengingat merebaknya kasus radikalisme di Indonesia, Lembaga pendidikan Ma’arif PBNU menggelar Focus Group Discussion pada 5 Juli 2018 di gedung PBNU, Kramat Raya, Jakarta Pusat.

FGD tersebut bertema “ Penguatan Kurikulum 2013 dalam Menumbuhkan Islam Wasathiyah”. Pengajaran Islam moderat ini dicanangkan untuk menangkal paham-paham radikalisme dan untuk menjaga anak bangsa dari paham anti-nasionalisme.

 Perwakilan dari Pusat Kurikulum dan Perbukuan Balitbang, Kemendikbud, M Hamka yang turut hadir dalam FGD juga mengatakan dukungannya kepada upaya menumbuhkan semangat ber-Islam wasathiyah.

Begitu pula Sekjen Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu’ti mengatakan nilai-nilai Islam wasathiyah adalah nilai universal yang tidak bertentangan dengan agama lain, sehingga pelajar agama lain bisa mendapatkan pelajaran berkaitan dengan nilai-nilai Islam wasathiyah. (republika.co.id)

Bahkan untuk memperkenalkan Islam wasathiyah dikalangan pelajar, mulailah disosialisasikan senam Islam Nusantara di Semarang, Jawa Tengah. Senam tersebut dipadukan dengan gerakan shalat yang nantinya akan membuat masyarakat mencintai sholat sebab gerakannya yang mampu menyehatkan badan.

Wacana Islam wasathiyah sebenarnya mulai ramai digaungkan sejak ideologi Khilafah ramai dibicarakan.

Para pengusung Islam Moderat sepakat menolak keberadaan Khilafah yang disebut mereka sebagai ideologi impor karena mampu mengancam eksistensi ideologi Pancasila yang telah finish digunakan di Indonesia. Terlebih lagi mereka menilai Khilafah sangat bertentangan dengan kebudayaan dan nilai-nilai yang telah berkembang di Indonesia.

Namun benarkah kita sudah ber-ideologi Pancasila? Mengamalkan nilai-nilai Pancasila? Dan hidup sesuai dengan karakter butir-butir Pancasila? Sebut saja sila keempat : “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan”.

Salah satu dari butir pengamalan yang terkandung dalam sila keempat adalah “mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat”. Pada realitanya, ketika pemerintah getol mendirikan proyek tol dimana-mana, proyek tersebut memakan biaya yang sangat besar seperti proyek tol trans Sumatera dengan 8 ruas yang diperkirakan akan menghabiskan dana sekitar 80 trilyun hingga 2019 mendatang.

Padahal jalan tol bukan menjadi kebutuhan dasar bagi rakyat khusunya di Indonesia, hal ini dibuktikan dengan merebaknya problematika ekonomi, sosial, pendidikan dll.

Seperti ketika harga BBM dan elpiji 3 kg melesat, subsidi keduanya dicabut dengan alasan agar kuota bagi si Miskin tepat sasaran. Namun pencabutan subsidi ini tak kunjung mengurangi hutang Indonesia. Justru Bank Indonesia mencatat Utang Luar Negri (ULN) Indonesia naik 8,7 % menjadi 5.425 T. Beginikah pengamalan butir Pancasila?

Hal ini malah menunjukkan kepada kita wajah Kapitalisme. Kita dapat mencium aura tajam ideologi Kapitalisme yang sangat kental dengan diplomasi berbentuk hutang, ketenagakerjaan, perdagangan, dll. Dimana kapitalisme sarat akan unsur imbalan atau kemanfaatan hanya bagi kedua belah pihak yang bersangkutan tanpa menghiraukan imbasnya bagi rakyat.

Namun perjalanan ideologi Kapitalisme buatan Eropa ini terlanjur meresap dalam tubuh bangsa Indonesia, sehingga seolah ia bukanlah idelogi impor. Ia justru diterima dan digunakan dengan senang hati, meski harus menginjak hak hidup orang lain.

Dan yang terjadi Pancasila malah mati dalam Kapitalisme, beda pandangan langsung dipersekusi, penipuan besar-besaran terjadi kepada rakyat. Gula rasa susu ternyata sudah lama dipasarkan.
Nyatanya kapitalisme lebih dapat diterima oleh Islam wasathiyah. Islam moderat yang khas akan sifat damai nya tak serta merta menolak ide Barat untuk turut bercokol di Nusantara.

Namun Khilafah dengan konsep Islamnya yang hendak menyelamatkan negri dari penjajahan, memperbaiki pengelolaan migas agar bisa dijangkau oleh seluruh masyarakat, malah ditolak mentah-mentah.

Khilafah dengan konsep Islamnya tegas mengatakan riba adalah haram sesuai dengan pedoman Qur’an dan sunnah. Tapi Islam moderat membolehkan riba dengan porsi yang kecil, dan menolak hukum riba yang disamakan dengan menzinahi ibu kandungnya, karena tak dapat dipungkiri keberadaan Bank telah menjadi nadi masyarakat. Dan kaum kapitalis tertawa dibelakang.

Islam moderat sesungguhnya bertentangan dengan esensi syariat Islam itu sendiri. Lebih tepatnya, Islam wasathiyah digunakan untuk menandingi penerapan Islam kaffah dalam kekhilafahan. Dan grand project terdekat Islam moderat adalah masuk dalam kurikulum pendidikan untuk menanamkan Islam moderat dalam diri setiap peserta didik.

Sebagai ummat terpilih, kita harus cerdas menyikapi hal ini. Mempelajari kembali Islam wasathiyah, sesuaikah ia dengan Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin?[MO/sr]





Posting Komentar