Oleh: Tety Kurniawati 
(Anggota Akademi Menulis Kreatif) 

Mediaoposisi.com- Setelah diawal bulan juli, Kepala Badan Pengelola Jalan Tol (BPJT) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Herry Trisaputra Zuna menyindir masyarakat yang masih mengeluh soal integrasi tarif Tol Lingkar Luar Jakarta atau Jakarta Outer Ring Road (JORR). (Tempo.co 02/07/2018)

Beberapa hari kemudian giliran Ketua DPR RI Bambang Soesatyo mengatakan, salah satu solusi persoalan naiknya harga bahan bakar minyak di Indonesia adalah dengan mendorong penggunaan kendaraan elektrik atau electric vehicle (EV). (kompas.com 4/7/2018)

Ironis. Ditengah kondisi masyarakat yang semakin kronis. Akibat naiknya harga berbagai kebutuhan pasca kenaikan harga BBM. Para pejabat dan wakil rakyat yang diharapkan mampu mendinginkan suasana.

Justru mengobral kalimat sindiran yang menyesakkan dada. Rasa empati atas derita rakyat telah mati. Hingga solusi ngawur tingkat tinggi pun dipublikasi. Khalayak dianggap tak lebih dari sekumpulan anak kecil yang mudah dikibuli.

Inilah fakta demokrasi. Pejabat yang diangkat  mewakili suara rakyat. Ternyata justru menyakiti. Pemimpin yang berempati tidak mungkin lahir dari rahim demokrasi. Prosesi pemilihan pemimpin yang ditentukan berdasarkan dominasi kelompok dan permainan uang bukan berdasarkan kualitas kepribadian seseorang.

Meniscayakan perjalanan kepemimpinan yang syarat dengan kepentingan individu dan golongan. Alhasil, pernyataan dan kebijakan yang dikeluarkan akan senantiasa jauh dari upaya memastikan publik memperoleh kemaslahatan.

Demokrasi yang melegalkan segala cara untuk meraih kekuasaan. Hanya akan melahirkan pemimpin yang tamak akan kekayaan dan kejayaan. Tak heran ditengah merosotnya daya beli rakyat secara masal. Ada pejabat yang tega pamer kekayaan sembari memberi solusi ngasal.

Kepemimpinan rakyat ala demokrasi nyatanya tak mampu menjadi pelindung rakyat sendiri. Maka tepatlah apa yang dinyatakan Plato tentang demokrasi. Kepemimpinan demokrasi menciptakan para demagog. Yaitu pemimpin culas yang pandai menipu dan suka mengobral janji. Padahal sebenarnya hanya mementingkan diri sendiri.

Sudah saatnya demokrasi kita singkirkan dan menggantinya dengan sistem yang terbukti mampu menghasilkan sebaik-baik pemimpin peradaban. Sebuah sistem ciptaan sang pencipta jagat raya.

Sistem Islam yang terbukti mampu mencetak para pemimpin yang senantiasa khawatir kelak di azab oleh Allah jika melakukan kezaliman kepada rakyatnya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

Tidak ada seorang pemimpin yang menangani urusan kaum muslimin, kemudian tidak bersungguh-sungguh dan melaksanakannya dengan baik, kecuali ia tidak akan masuk surga bersama mereka.” (HR Muslim)

Sejarah telah mencatat bagaimana kondisi saat Umar dilantik menjadi Khalifah. Tak ada rona bahagia di wajahnya. Ia merasa jabatannya adalah sebuah amanah yang sangat berat. Kelak setiap keputusannya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Maka iapun berusaha meri'ayah rakyatnya dengan sebaik-baiknya.

Tidakkah kita rindu akan hadirnya kembali sosok pemimpin yang di cintai dan mencintai rakyatnya. Pemimpin penuh empati yang mampu membawa kaum muslimin menggapai ridho Robb-nya. Sosok ideal yang hanya akan muncul dari ketundukkan kepada penguasa semesta. Saat aturan-aturan Allah teraplikasi dalam kehidupan secara nyata.[MO/sr]





Posting Komentar