Oleh: Merli Ummu Khila 

Mediaoposisi.com- Banyak sekali perdebatan di media sosial atau di forum tentang ide khilafah bahkan Sekilas professor pun menanyakan dalil wajib nya menegakkan khilafah, wajar saja karena kita sebelumnya belum pernah di faham kan apa itu khilafah dan di pendidikan pun jauh sebelum kekhilafahan runtuh sudah di susupin pemikiran asing dari penjajah.

Ummat islam sengaja di jauhkan dari keislamannya. Dalam kurikulum pendidikan tidak pernah diajarkan apa itu khilafah, bahkan dalam pelajaran system pemerintah an didunia, tidak tercantum bentuk pemerintahan khilafah disana.

Jadi sangat wajar kalau kata khilafah terdengar asing di telinga ummat muslim kebanyakan, karena sudah sejak lama sejarah kegemilangan khilafah sengaja di sembunyikan bahkan dihilangkan dari ingatan kaum muslim. Pemikiran kaum terpelajar muslimin sudah terkontaminasi oleh pemikiran asing yang memisahkan agama dari kehidupan yang disebut sekuler.

Jadi, menurut mereka agama hanya sebatas ritual semata, sedangkan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara tidak boleh ada peran agama disana. Pemikiran ini lah yang banyak diemban kaum terpelajar sehingga masyarakat pun menjadi pragmatis.

Dan di Indonesia menganut system demokrasi yaitu turunan dari paham sekuleisme, Rakyat terpilih lah yang membuat hukum dan tentu saya bukan Al Qur'an dan As Sunnah yang menjadi rujukan tetapi berdasarkan akal manusia itu sendiri. Sedangkan akal manusia terbaik, siapa pun pemimpin nya pasti punya kelemahan.

Secara logika saja siapa yang mampu mengatur manusia? Tentu saja Sang Pencipta manusia itu sendiri yang dalam islam adalah Allah SWT.

Demokrasi itu ibarat pasar di musim hujan, siapa pun boleh masuk, yang berpakaian rapi atau yang sekenanya, orang yang masuk ke dalam nya pasti terkena kotoran lumpur, sepintar apapun dia memilih jalan, tidak akan bisa terhindar dari lumpur atau setidak nya bau amis di pasar.

Seperti istilah orang baik di tempat yang salah maka dia akan Terjebak berbuat salah, Contoh yang baru - baru ini di berita kan seorang pemimpin yang hafidz Al Qur'an yang seharusnya faham apa saja aturan Allah dalam Al-Qur’an tetapi di terjebak dalam demokrasi maka secara fragmatis dia mengikuti aturan main demokrasi.

Sedangkan Islam ibarat Mall, suatu tempat yang bersih, orang yang mau masuk pun pasti memantaskan diri untuk masuk, seseorang yang kotor pun pastinya berusaha membersihkan diri untuk masuk, contoh kecil aja di Aceh yang sudah menerapkan sebagian syariat Islam, jadi siapa pun yang masuk ke daerah Aceh mau tidak mau harus tunduk patuh pada aturan di daerah tersebut.

Jika ada yang mempertanyakan dalil wajib berdiri nya khilafah, agar lebih mudah memahaminya maka di analogikan hukum berwudhu itu tidak wajib tetapi dikarenakan tidak sah shalat seseorang tanpa wudhu maka wudhu menjadi wajib. Karena kaidah nya "Perkara yang menjadi sebab terlaksananya kewajiban adalah wajib pula".

Jika aturan dalam Al-Qur’an harus diterapkan maka harus ada negara yaitu khilafah karena negara demokrasi tidak akan mau menerapkan hukum syara tersebut. Misal dalam Al-Qur’an banyak sekali aturan Allah yang tidak terlaksana contohnya riba .

Tidak ada negara yang terbebas dari riba, dan tidak ada seseorang yang sanggup menghentikan riba bank, karena negara melegalkannya. Padahal dalil tentang riba bertebaran  dalam Al-Qur’an.

Maka dari itu dikarenakan kita harus berislam secara kaffah sesuai dengan dalil dalam Al-Qur’an

" Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu. Tetapi jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran, maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.H” (QS Al-Baqarah [2]: 208-209)

Jadi, berislam yang menyeluruh itu berarti muslim harus tunduk patuh kepada apa saja yang di berita kan Al Qur'an termasuk hukum-hukum syara yang menyangkut bagaimana ber masyarakat dan bernegara.[MO/sr]

Posting Komentar