Oleh: Iit Oktaviani Patonah
(Mahasiswi Pendidikan Biologi)

Mediaoposisi.com- Belum lama ini, masyarakat Indonesia bersama-sama mengikuti pagelaran pesta demokrasi dengan diadakannya pencoblosan Pilkada serentak 2018 di 171 daerah.  Pesta demokrasi seperti ini sudah menjadi agenda tersendiri di negara Indonesia.

Namun sepertinya ada yang menarik perhatian pada Pilkada tahun ini. Pasalnya, salah satu kandidat yang menjadi mantan bupati Tulungangung Syahri Mulyo akan tetap dilantik usai menang dalam Pilkada Serentak 2018, meskipun saat ini dirinya tengah terjerat kasus korupsi.

Namun demikian, peristiwa tersebut di dalam sistem demokrasi hukumnya halal-halal saja. Tentu hal ini senada dengan pernyataan Kemendagri Tjahjo Kumolo yang mengatakan bahwa "Suara rakyat kan suara Tuhan, apapun proses Pilkada, yang memilih masyarakat, siapa yang dipilih itu yang dimau masyarakat ya jalan terus," jelasnya.

Itulah kenyataannya. Di negeri Indonesia yang kita cintai, pencuri dibiarkan menjadi pemimpin secara terang-terangan. Tentu hal ini sangat memprihatinkan. Mau di bawa kemana negeri Indonesia jika hal itu tetap saja dibiarkan? Sedangkan pemimpin haruslah mampu memberikan teladan yang baik untuk masyarakatnya.

Penyebab mendasar dari peristiwa ini tentunya adalah dari sistem demokrasi itu sendiri. Demokrasi membiarkan bahkan memfasilitasi orang-orang yang bukan ahlinya untuk menjadi pemimpin.

Oleh karena itu, sudah saatnya kita meninggalkan sistem yang fasad ini. Mari kita mulai fokus pada solusi mendasar bagi setiap permasalahan yakni pada sistem Islam. Karena dalam Islam tidak akan pernah dibiarkan masyarakat dipimpin oleh yang bukan ahlinya. Tidak akan masyarakat di pimpin oleh seorang pencuri. [MO/sr]










Posting Komentar