Oleh : Bagas Kurniawan
(‘Aliwa Institute)

Mediaoposisi.com- Dalam beberapa pekan terakhir ini, masyarakat dikejutkan dengan kenaikan harga BBM jenis pertamax naik Rp 600 menjadi Rp 9.500 per liter. Kemudian harga pertamax Turbo naik Rp 600 menjadi Rp 10.700 per liter.

Sedangkan pertamax dex naik Rp 500 menjadi Rp 10.500 per liter (1/7). Dan kini diikuti naiknya harga kebutuhan pangan seperti telur ayam yang mencapai Rp. 30.000 per/kg (11/7). Membuat rakyat semakin menjerit dengan kebijakan yang tentu membebani rakyat.

Apakah kenaikan harga BBM ini yang terakhir pada rezim ini ? secara pribadi saya berharap ini adalah kenaikan yang terakhir. Tetapi saya agak pesimis, karena dapat dipastikan kenaikan ini akan disusul dengan harga pasar Internasional.

Jadi, kita semua, rakyat biasa ataupun kaya, harus bersiap-siap dengan kondisi yang sangat mungkin terjadi. Buktinya telur ayam sudah naik. Dan kita semua tidak perlu tergoda oleh majalah “Time” yang mengatakan bahwa rezim sekarang merupakan ‘a new hope’.

Pertanyaanya apakah disaat harga BBM sudah mengikuti harga Internasional akan stabil ? dan tidak ada kenaikan lagi ? jawabnya : tentu tidak, kenapa ?

Sebab harga BBM akan naik dan turun mengikuti transaksi perjudian yang terjadi di NYMEX (New York Mercantile Exchange). NYMEX sendiri merupakan bursa berjangka komoditi minyak.

Bursa berjangka inilah yang mentukan harga minyak yang diperdagangkan di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Karena Indonesia salah satu negara yang membeli minyak dengan menggunkan mekanisme seperti yang sudah ditetapkan oleh NYMEX. Dengan mengadopsi pasar bebasnya.

Jadi, di NYMEX inilah harga minyak itu ditentukan oleh spekulasi. Bahasa sederhananya, harga minyak ditentukan seperti halnya dalam pejudian. Tetapi bukan sembarang perjudian, karena ini perjudian tingkat internasional.

Para spekulan bisa saja menaikan harga, lalu segera mengambil keuntungan, setelah itu ia meninggalkan pasar berjangka, contoh : harga pagi bisa jadi berbeda dengan sore hari, dan sore hari bisa berbeda dengan malam hari, dan seterusnya, yah.. namanya saja judi.

Bagaimana dengan kondisi masyarakat ? siap atau tidak siap, rela ataupun terpaksa, senang atau tidak senang, susah taupun mudah, itulah yang disebut sebagai liberalisme yang harus diterima oleh rakyat.

Dan ini akan berdapak kepada naiknya komoditas barang dan jasa, dan saya tidak berharap ini akan terjadi tapi faktanya kenaikan itu mulai terjadi, dengan kenaikan TDL (Tarif Dasar Listrik), Gas LPG, dll. Semuanya sudah di depan mata.

Tak ada lagi pelayanan kepada rakyat, apalagi rakyat miskin. Bagi negara dan pemerintah yang mengadopsi sistem Kapitalisme-Demokrasi-Liberalisme rakyat miskin hanyalah beban bagi negara.

Coba, perhatikan berapa ratus kali pemerintah menyebut subsidi sebagai beban rakyat ? iya menjadi beban. Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa mereka adalah pelayan bagi rakyatnya, bagaimana pertanggung jawaban atas kepemimpinannya di akhirat nanti ?

Itulah sesungguhnya negara yang menganut sistem kapitalis-liberalisme. Apakah tidak ada harapan lagi sehingga kita akan terus merasakan kesempitan dan kemiskinan di dalam negeri ? jawabannya tergantung kepada siapa kita berharap.

Bila harapan itu kepada Allah SWT, tentu sangat di waijibkan, bahkan orang yang berputus asa dari rahmat Allah SWT, dianggap sebagai orang yang kafir.

Tetapi, jika harapan itu ditujukan kepada setan tentu sangat dilarang oleh Allah SWT. Termasuk harapan kepada sistem Sekuler-Kapitalisme-Liberalisme. Sistem ini tidak akan pernah memberikan harapan, karena harapan yang diberikan selalu palsu.

Satu-satunya harapan yang harus diberikan adalah kepada Allah SWT dengan sistem Syariah-Nya yang agung, yang akan membawa kebaikan yang hakiki dibawah sistem Khilafah lah satu-satunya harapan. Sementara berharap kepada sistem Sekuler-Demokrasi-Kapitalis hanya akan mendapatkan pukulan demi pukulan yang menyakitkan.

Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari fenomena kenaikan BBM dan di ikuti kenaikan bahan pokok lainnya yang sedang dihamparkan Allah SWT kepada kita. Namun, jika itu semua tidak memberikan kesadaran kepada kita, Allah SWT mungkin akan membangunkan kita dengan fenomena yang lebih dahsyat lagi, agar kita semua tersadar.[MO/sr]


Posting Komentar