Oleh: Ahmad Khozinudin, S.H.
(Ketua LBH PELITA UMAT)

Mediaoposisi.com-Dalam sistem demokrasi, manuver melawan nurani dan nalar publik itu hal yang biasa. Sebab, publik tidak akan pernah mampu menjangkau realitas politik dibalik aksi, statement, dukung-dukungan, dan berbagai kamuflase politik yang mengaburkan hakekat dan tujuan politik.

Hanya beberapa saja diantaranya, yang Allah SWT karuniakan ilmu dan pemahaman, sehingga mampu menjangkau apa yang ada dibalik dinding. Politisi yang tajam, tidak saja mampu mengeja ujaran kata, tapi mampu menafsirkan makna dibalik gestur dan keterkaitan tindakan dalam satu rangkaian peristiwa politik.

Sebagai awam, publik nampaknya harus benar-benar melekatkan kenyataan bahwa realitas politik dalam sistem demokrasi adalah pragmatisme. Atas dasar maslahat, semua berhak membela diri dan memberikan pembenaran atas tindakan. Sementara, maslahat itu sendiri diukur berdasarkan parameter hawa nafsu.

Politik sekuler demokrasi tidak mengenal halal haram, terpuji atau tercela, tidak mengenal wajib dan Sunnah. Semua serba mubah (halal), bahkan jika kepentingan menghendaki semua menjadi wajib. Demokrasi menghalalkan siapapun menjadi plin plan, Isuk dele sore tempe. Awalnya oposisi, setelah tak menguntungkan bergabung menjadi mitra koalisi, begitu seterusnya.

Sebab yang menjadi akar persoalan adalah pragmatisme dalam sistem sekuler demokrasi. Pragmatisme ini sendiri, akan menggerus idealisme seseorang meskipun dalam timbangan awam orang tadi dianggap sholeh, taat, dan bermartabat. Ketika menceburkan diri dalam kubangan sistem demokrasi sekuler, kesalehan dan ketaatan menjadi tidak berbekas, musnah dan sirna sama sekali.

Realitas politik menyeberang pagar, sebagaimana dilakukan oleh kapitra Ampera, TGB, Ali Mochtar Ngabalin, Yusuf Supendi, atau gerbong lain yang akan menyusul melompat dan menyeberang pagar, adalah fenomena biasa, tidak istimewa. Demokrasi akan menganggap realitas ini sebagai keniscayaan, bukan pengkhianatan.

Tuduhan itu begitu kuat dan tajam jika terhadap para individu, tapi publik kurang begitu kontras melihat keseluruhan permasalahan jika terjadi pada partai. Partai, juga bisa membangun manuver politik pragmatis, sebagaimana individu tokoh.

Menyeberangnya Golkar ke kubu Jokowi, setelah sebelumnya dibawah kepemimpinan Ichal melakukan perlawanannya sengit menjadi partai oposisi, adalah contoh paling mudah dicerna. Kemaslahatan-lah, yang membawa Golkar merapat ke kubu Jokowi, setelah posisi ketua DPR RI berhasil direbut Golkar pasca amandemen UU MD3 pertama.

PDIP kehilangan hak porsi ketua DPR RI secara otomatis, setelah Golkar bermanuver merubah mekanisme pengisian jabatan pimpinan DPR RI. Pasca merapat ke koalisi Jokowi, Golkar juga mendapat benefit politik yang signifikan. Dua posisi jabatan menteri, mampu diambil alih Golkar pasca merapat ke kubu Jokowi.

Partai juga melakukan hal yang sama, saat umat ijma' mengajukan tuntutan tolak partai Penista agama, ternyata beberapa partai yang berada di kubu oposisi melakuan koalisi dengan parta-partai yang ada di pusara Jokowi. Koalisi cair dalam Pilkada, terkadang membuat umat bingung. Di pusat partai saling tikam, di daerah partai saling berpelukan. Itulah realitas demokrasi.

Karenanya, tidak perlu berlebihan menanggapi merapatnya kapitra Ampera ke PDIP. Meski sebelumnya membantah, akhirnya kapitra membuat dalih berjuang dari dalam. Biasa saja, tidak istimewa manuver ini.

Umat akan semakin paham realitas politik demokrasi, juga akan semakin tahu tokoh mana yang benar-benar membela kepentingan umat. Yang paling urgent, umat harus benar-benar paham realitas politik demokrasi agar tidak dikhianati tokoh dan partai untuk kesekian kalinya. BECIK KETITIK ALA KETARA.

Memang benar, saat ini dinamika politik berjalan mengikuti hukum rimba. Untuk menarik pihak dalam barisan, kadangkala tawaran kemaslahatan dunia yang dijadikan iming-iming. Jika tidak bergeming, injakan kaki politik yang keras dapat memaksa tokoh atau siapapun berada dibarisan politik tertentu karena ancaman.

Jika sudah ditarget, seluruh catatan buku sejarah seseorang bisa diteliti dan dicari boroknya. Dibagian borok itulah, seseorang akan diinjak dan diberi opsi : "Anda bersama kami, atau Anda berada dibalik jeruji besi."

Disisi yang lain, godaan sekerat tulang dunia yang tidak mengenyangkan, bisa membuat anjing-anjing menyalak keras, melindungi sang tuan untuk mendapat seonggok tulang. Jadi, sekali lagi biasa sajalah melihat manuver Kapitra Ampera. Tidak perlu mencela, tidak perlu meradang, biasa saja.

Allah SWT sedang menggoyang batang pohon untuk merontokan buah busuk. Hanya buah baik dengan kualitas istimewa, yang akan tetap menggelantung di dahan umat. Mereka, akan selalu setia berada ditengah-tengah umat, membela dan melayani kepentingan umat.[MO/sr]

Posting Komentar