Oleh : Septa Yunis 
(Staf Khusus Muslimah Voice)

Mediaoposisi.com-Pemerintah kembali memberikan kado yang tak terduga, yaitu dengan menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) secara diam-diam. Setelah sebelumnya rakyat dihebohkan dengan diedarkannya LPG 3 kg nonsubsidi yang di banderol Rp 39.000/tabung.

Terhitung mulai tanggal 1 Juli 2018 kemarin, PT Pertamina (Persero) menaikkan harga BBM nonsubsidi, seperti Pertamax dan Dexlite. Dikutip dari laman resmi Pertamina, Minggu (1/7/2018), harga pertamax naik sebesar Rp 600/liter dibandingkan harga sebelumnya Rp 8.900/liter. Pertamina menaikkan harga pertamax terakhir kali pada 24 Februari 2018. (iNews.id)

Pemerintah berdalih alasan menaikkan harga BBM nonsubsidi tersebut tidak lain adalah karena harga minyak mentah dunia terus mengalami kenaikan. Padahal saat ini harga minyak mentah dunia mengalami penurunan harga.

Dilansir dari Reuters, harga minyak mentah berjangka Brent merosot US$1,93 menjadi US$77,3 per barel. Dalam sesi perdagangan, harga Brent sempat merosot 2,4 persen akibat pemberitaan pada akhir pekan yang memicu kekhawatiran pasar. (CNNIndonesia).

Walaupun harga minyak mentah dunia menurun, asumsi harga minyak dalam APBN 2018 sebesar 48 dolar AS per barel. Padahal pendapatan dari sector migas sendiri cukup besar.

Di tahun 2018 sendiri pendapatan dari sektor migas hingga Mei 2018 mencapai US$ 6,9 miliar atau setera Rp 95 triliun dengan nilai kurs Rp 13.900. penerimaan ini mencapai 58% dari target tahun 2018 yang sebesar US$ 11,9 miliar. (CNBCIndonesia.com)

Selain harga minyak mentah dunia yang memicu kenaikan harga BBM, melemahnya nilai tukar rupiah juga menjadi penyebab kenaikan harga BBM. Indonesia sebagai negara importir minyak mentah sangat sensitive terhadap pergerakan dolar.

Tercatat nilai impor minyak Indonesia sebanyak 350-500 ribu barel per hari. Selain itu pencabutan subsidi yang dilakukakan pemerintah juga membawa dampak pada kenaikan BBM. Tidak hanya BBM saja, namun gas LPG dan tariff dasar listrik juga naik akibat pencabutan subsidi.

Perekonomian rakyat semakin terpuruk, ditambah lagi BBM yang semakin meroket membuat perekonomian Indonesia semakin tidak stabil. Kekayaan migas yang besar, negeri ini tetap tidak mampu mensejahterakan rakyatnya. Kacaunya pengelolaan BBM yang membolehkan pihak asing turut ambil bagian dalam pemanfaatan BBM.

Hampir 85% minyak dan gas Indonesia dikuasai oleh asing. Investasi asing di sector migas juga semakin meningkat. Kenaikan ini menunjukkan bahwa modal asing semakin mendominasi di sector migas Indonesia.

Hal ini adalah kewajaran dalan sistem kapitalisme yang berlandaskan pada materi. Sistem ekonomi kapitalisme telah mengajarkan bahwa pertumbuhan ekonomi hanya akan terwujud jika semua pelaku ekonomi terfokus pada akumulasi kapital (modal).

Kapitalisme bersifat monopoli yang terus mengonsentrasikan capital, dengan kartel dan konglomerasi yang mengikat seluruh ekonomi dunia ke tangan segelintir perusahaan raksasa. Inilah yang disebut imperialism, yakni tahapan tertingi kapitalisme.

Kapitalisme berhasil mencengkram Indonesia dan membuat negeri ini bergantung kepada pihak asing pemilik modal. Akibatnya, migas yang seharusnya dapat dikelola sendiri harus rela dikelola asing.

Hal ini karena kapitalisme bukan berasal dari Sang Pencipta melainkan buatan manusia yang berlandaskan pemisahan agama dengan kehidupan (sekularisme), sehingga tidak jauh dari sifat manusia yaitu lemah dan tidak akan bisa mensejahterakan rakyat.

Selama sistem neolib kapitalistik tetap diterapkan, maka jangan harap rakyat sejahtera, yang ada rakyat makin sengsara, karena negara mencari untung dari rakyatnya dengan menerapkan kebijakan-kebijakan yang absurd tersebut.

Saatnya tumbangkan sistem kapitalisme
Di dalam hadits Rasulullah SAW disebutkan, “Kaum muslim berserikat dalam tiga hal ; air, padang rumput, dan api, dan harganya haram.” (HR. Ibnu Majah)

Yang bermakna, pengembilan manfaat atas kepemilikan umum bukan untuk kepentingan kaum muslim ialah haram. Di dalam islam migas termasuk ke dalam kepemilikan umum. Negara bukan pemilik migas, namun negara bertugas mewakili umat untuk mengelola migas demi kemaslahatan umat.

Negara harus sebisa mungkin mempersiapkan sumber daya baik sumber daya manusia maupun teknologi yang canggih untuk bisa mengelola sendiri industry migasnya.

Adapun adanya biaya yang dikeluarkan oleh rakyat itu hanya biaya operasional saja, sehingga rakyat akan bisa menikmati SDA (termasuk migas) dengan cuma-cuma bahkan gratis tanpa harus mengeluarkan biaya yang melambung tinggi seperti saat ini. Kondisi seperti itu akan didapatkan ketika Islam diterapkan diseluruh aspek kehidupan.


Dengan demikian, perlu kesadaran dari semua elemen masyarakat untuk melakukan perubahan dan menjadikan Islam sebagai landasan dan jalan satu-satunya menuju negara yang lebih baik. Dengan mempertahankan kapitalisme, berarti sejatinya kita telah menyetujui negeri ini pada kehancuran. Oleh karena itu saatnya melakukan perubahan dengan mengusung Islam sebagai solusi.[MO/sr]

Posting Komentar