Oleh : Winda Sari 
(Mahasiswi)

Mediaoposisi.com- Begitu sulit di zaman sekarang untuk bisa mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang tinggi. Ditambah lagi dengan kenaikan harga listrik dan BBM. Listrik sekarang sudah menjadi kebutuhan pokok masyarakat Indonesia sebagai penerangan.

Begitu pula BBM, sekarang ini sudah banyak masyarakat Indonesia yang menggunakan kendaraan bermotor yang tentunya membutuhkan BBM agar bisa jalan.

Sungguh, miris kondisi saat ini. Di saat rakyat banyak yang menganggur kalaupun bekerja, upahnya tidak seberapa, harga listrik dan BBM naik. Naiknya harga BBM ini dimulai sejak 1 Juli 2018.

Harga BBM non subsidi dinaikkan oleh PT. Pertamina di mana harga pertamax naik Rp800 per liter. Walaupun harga pertalite tidak mengalami perubahan, keberadaannya menggeser premium yang semakin langka.

Berikut Harga BBM Non Subsidi dari pengumuman resmi di website PT Pertamina Persero, dengan alamat www.pertamina.com.

Daftar Kenaikan Harga BBM per 1 Juli 2018
Pertamax: Rp. 8.900 menjadi Rp 9.700 Perliter.
Dexlite: Rp. 8.200 menjadi Rp. 9.200 Perliter.
Pertalite: 8.000
Dex: 10.750
Solar NPSO: 8.150
Minyak tanah NPSO: 11.660.
Sumber : tribunjakarta.com

Kenaikan harga BBM bisa jadi tidak sama di semua provinsi.
Ulah rezim neoliberalisme, di mana kekuasaan ada di tangan pengusaha dan pemilik modal, mereka juga memegang penuh hak atas pengendalian mekanisme pasar. Sehingga, yang kaya semakin kaya dan yang miskin tambah sengsara. Sudah berkali-kali hal ini terjadi di Indonesia.

BBM naik tidak cuma sekali. Jika naiknya harga BBM ini ada pengaruhnya dengan kekuatan pengusaha dan pemilik modal, maka sudah dapat dipastikan rakyat akan semakin ditindas. Yang untung yang punya kekuasaan, pengusaha, dan pemilik modal.

Karena pada hakikatnya Neoliberalisme adalah konsep paling mutakhir dari Kapitalisme. Konsep ini berpendapat bahwa mengedepankan persaingan bebas adalah kunci kemajuan ekonomi, tanpa ada distorsi dari pemerintah. Neoliberalisme mengakibatkan si pemilik modal terkuat menjadi paling berkuasa untuk mengambil kebijakan dan regulasi pasar.

Jika sudah demikian, tidak ada jalan keluar lain selain menggantinya dengan sistem Islam. Demokrasi dan neoliberalisai, keduanya saling berhubungan, demokrasi dari kapitalisme, begitu pula dengan neoliberalisme yang juga dari kapitalis. Demokrasi inilah jalan masuknya neoliberalisme.

Lancarnya neoliberalisme masuk ke Indonesia karena demokrasi membuka pintu lebar-lebar. Karena itu, demokrasi ini sudah basi dan banyak janji.

Perlu adanya perubahan nyata, perubahan yang sudah ada bukti keberhasilannya selama berabad-abad bukan fiksi. Demokrasi sudah kadaluarsa, jika makanan kadaluarsa dimakan, akan menimbulkan efek samping seperti diare, muntah-muntah dan segala macam jenis penyakit lainnya.

Begitu pula dengan demokrasi, jika demokrasi masih dilanggengkan, pasti ia akan merusak tatanan masyarakat, masyarakat akan terus sakit dan merasakan kesakitannya karena ulah penguasa dzalim, pengusaha dan pemilik modal.

Maka dari itu demokrasi adalah sumber penyakitnya dan harus cepat-cepat dibasmi dengan obat penawar luar biasa kehebatannya, yaitu dengan Islam. Islam rahmatan lil alamin. Tiada bandingannya peraturan yang dibuat karena langsung diambil dari Al Quran dan Sunnah.[MO/sr]




Posting Komentar