Oleh: Cucun Ummu Nazwa 
(Ibu Rumah Tangga Tinggal di Depok)

Mediaoposisi.com- Istilah wasathiyah kini sedang  jadi primadona. Di mana-mana, di seminar-seminar, diskusi, sarasehan atau pertemuan-pertemuan lain  baik nasional maupun internasional  yang membahas terorisme, radikalisme dan istilah-istilah lain tentang kelompok garis keras, wasathiyah dikupas tuntas dari berbagai sisi.

Wasathiyah seolah telah menjadi obat mujarab untuk berbagai penyakit yang meresahkan masyarakat internasional.

Islam wasathiyah semakin menjadi perbincangan  setelah hadirnya Grand Syeikh Al Azhar Ahmed Muhammad Sth-Thayeb dan Imam Besar Al Haramain Syekh Sholeh bin Abdullah di Indonesia.  Keduanya datang untuk menghadiri forum KTT (Konsultasi Tingkat Tinggi) Islam Wasathiyah di  Novotel Bogor, 1-3 Mei lalu yang melahirkan adanya  “Bogor Message”.

ebenarnya hakikat Islam Wasathiyah yang diformulakan dalam KTT ini sama dengan Islam Moderat.

Yang mendasari masifitas gerakan Islam moderat  di dunia Islam, yang berujung pada upaya paksa menjejalkan paham ini, dikarenakan Islam moderat dalam konteks sekarang memang  suatu yang asing di benak kaum Muslimin, saat ini berupaya dikenalkan oleh kafir Barat.

Mereka narasikan Islam moderat adalah Islam yang tidak kaku,  terbuka dan toleran terhadap  pemikiran di luar Islam. Dengan narasi ini mereka ingin kaum Muslimin melepaskan genggamannya terhadap akidah dan syariat Allah.

Karena itulah, Barat butuh corong untuk menyampaikan ide Islam moderat ini di tubuh kaum Muslimin. Corong yang efektif adalah kaum Muslimin di negeri Muslim terbesar ini. Liciknya, untuk mendapatkan kader Islam moderat dari tubuh kaum Muslimin ini dilakukan  dengan menjadikan negeri ini sebagai ikon Islam moderat.

Sampai-sampai melalui lisan para anteknya mereka katakan, bahwa jika pemuda Islam Indonesia yang belajar di Timur Tengah disarankan untuk mempelajari ilmu ekonomi perdagangan atau perminyakan saja.

Tapi sebaliknya, generasi muda Timur Tengah yang ingin belajar ke Indonesia sebaiknya belajar mengenai Islam. Karena menurut mereka, Islam yang ada di Indonesia ini dalam praktik kesehariannya adalah Islam yang toleran terhadap pemikiran kufur Barat.

Bahkan Grand Sheikh Al Azhar Dr Ahmad Thoyyib berterus terang memuji Indonesia sebagai role model dari pelaksanaan moderasi Islam alias Islam wasathiyah ini. Ia beberapa kali juga menyatakan akan terus membantu dan bahkan menjadikan Indonesia sebagai mitra untuk mengembangkan moderasi Islam di masyarakat internasional.

Grand Sheikh Al Azhar telah tiga kali berkunjung ke Indonesia. Terakhir ketika menjadi pembicara kunci dalam acara High Level Consultation of World Muslim Scholars on Wasathiyyah Islam (HLS-WMS) selama tiga hari (1-3 Mei) di Bogor. 

Lebih dari 100 ulama dan cendekiawan Muslim dari dalam dan luar negeri hadir. Selama tiga hari berdiskusi, pertemuan para ulama dunia itu telah menelorkan Bogor Message, sebuah pesan dari Bogor untuk dunia.

Kehadiran Grand Sheikh Al Azhar  pada acara HLS-WMS juga mempunyai makna tersendiri. Ia diundang langsung oleh Presiden Jokowi.

Selain menjadi pembicara kunci, dalam kunjungan beberapa hari di Indonesia ia manfaatkan untuk menyampaikan tentang pentingnya wasathiyah dalam berbagai pertemuan. Di Solo ia bertemu dengan sekitar 500 alumni Al Azhar yang datang dari berbagai wilayah di Indonesia.

Sheikh Al Azhar menegaskan, para alumni Al Azhar yang berjumlah lebih dari 30 ribu orang harus bisa bekerja sama dengan berbagai pihak. Mereka harus terbuka, tidak boleh eksklusif. Kepada Sheikh Al Azhar, Ketua Organisasi Internasional Alumni Al Azhar untuk Indonesia Tuan Guru Bajang (TGB) Dr H Muhammad Zainul Majdi menyampaikan bahwa “Para alumni Al Azhar berkhitmad dalam berbagai bidang. Dari pebisnis, pendidik, birokrat, hingga politisi dan bidang-bidang lainnya. Namun ada satu hal yang tidak pernah kami lupakan, Ya Maulana, yaitu meskipun kami terjun dalam berbagai bidang sejatinya kami adalah dai. Dakwah yang kami sampaikan adalah Islam Wasathiyah seperti yang diajarkan Al Azhar,” ujar Gubernur NTB ini.

TGB sendiri sejak didaulat memimpin organisasi alumni Al Azhar tahun lalu terus berkeliling ke berbagai wilayah di Indonesia. Ia bersafari dakwah dan bersilaturahim dengan para tokoh, ulama dan kiai. Dalam berbagai kesempatan itu ia selalu menyampaikan akan pentingnya wasathiyah di tengah masyarakat yang pluralistik ini. Wasathiyah bukan hanya di bidang keagamaan, namun juga dalam politik, ekonomi, sosial, budaya dan seterusnya. Ia mengistilahkan apa yang ia lakukan adalah safari untuk menebar kebaikan.

Selain membahas wasathiyah dengan tokoh-tokoh Muhammadiyah, para kiai Pondok Modern Gontor, Ketua Umum PBNU Prof Dr KH Said Aqil Siroj, Sheikh Al Azhar juga menggalang koalisi wasathiyah di Indonesia. Antara lain dengan memberi tambahan beasiswa kepada para pemuda Indonesia untuk menimba ilmu di Al Azhar Mesir.
Sejalan dengan Grand Syeikh Al azhar, Indonesia dipandang sebagai salah satu negeri Muslim yang berhasil mewujudkan Islam moderat oleh wapres Amerika."Sebagai negara mayoritas Muslim terbesar di dunia, Islam moderat di Indonesia dan keberagamannya menjadi inspirasi dunia. Dan kami, sangat kagum dengan hal itu," ucap Wapres Amerika Serikat Mike Pence di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Kamis (20/4).

Secara khusus Amerika Serikat memberikan apresiasi atas keberadaan Islam moderat di Indonesia. Bahkan, sejumlah tokoh lintas agama Indonesia direncanakan akan berkeliling ke sejumlah negara di benua Eropa dan Amerika Serikat, untuk memperkenalkan nilai-nilai toleransi antar umat beragama termasuk peran Islam moderat dalam mewujudkan hal tersebut.

Dari pengarusan pemikiran Islam moderat ini, sebenarnya,  Islam moderat itu adalah mainan Barat yang ingin mempertahankan pengaruhnya dengan cara menyiapkan penguasa  di negeri-negeri Muslim yang bisa dikendalikan (antek Barat). Namun Barat juga tahu kalau umat sudah muak dengan rezim mereka.  Barat juga tahu kalau umat Islam menginginkan Islam sebagai alternatif satu-satunya yang mengatur kemaslahatan mereka.

Bila kita mau mencermati lebih jauh,  ternyata Islam moderat ini memiliki bahaya besar bagi kelangsungan umat. Bahaya tersebut adalah, pertama, mengebiri Islam.  Jalan tengah yang menjadi ciri Islam moderat ini merupakan pandangan yang mengabaikan sebagian dari ajaran Islam. Padahal,  menimbang-nimbang ajaran Islam dengan mengambil yang menguntungkan dan menolak yang dianggap keras merupakan suatu tanda kekafiran. 

Allah berfirman dalam Surah An-Nisa 150-151 yang artinya : 

Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan Rasul-Rasul-Nya dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasulNya,”  dengan mengatakan :”Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagiaan (yang lain)", serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir). Merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.” 

Kedua, menimbulkan keraguan umat terhadap Islam.  Para pengusung Islam moderat menyuarakan untuk meninjau ulang hukum-hukum qath'i,  baik yang terdapat dalam Al-Qur'an maupun Al Hadits, maka semua itu harus disesuaikan dengan pemikiran moderat yang standarnya bukan dari Islam.

Hal ini menjadikan umat menjadi ragu akan ajaran agamanya sendiri. Akibatnya umat menjauh dari Islam,  fobia terhadap Islam dan memusuhi para ulama dan pendukung dakwah yang hanif.

Ketiga, menyusupkan paham pluralisme yang memandang semua agama benar.  Melalui  kedok istilah Islam moderat itu pula,  kemudian disebarkan paham Pluralisme Agama.  Konsekuensinya, orang yang keluar dari Islam tidak dianggap murtad dan tercela.  Pernikahan antar agama juga tidak bisa disalahkan. Keempat, memecah belah Islam dan  umat Islam.

Umat dikotak-kotakkan dan dipertentangkan antara Islam moderat dengan radikal,  Islam Indonesia dengan Arab dan seterusnya.  Padahal Islam adalah satu, yaitu yang diturunkan Allah SWT kepada Rasulullah SAW, kitab sucinya juga satu yaitu Al-Qur'an.

Kelima, meminggirkan dakwah, menerapkan syariat Islam dengan penolakan terhadap formalisasi syariah dalam sebuah institusi negara,  maka dakwah yang menyerukan penerapan syariat Islam dianggap ekstrem dan radikal.  Dakwah semacam ini akan ditolak dan dimusuhi sehingga langkah untuk kembali menghidupkan Islam dalam kehidupan akan menjadi lebih berat. 

Sejatinya, Islam moderat sangat bertentangan dengan Islam.  Telah sangat jelas bahwa  Allah SWT memerintahkan kita mengamalkan Islam secara kaffah,   bukan sebagian,  seperti Islam moderat yang mengambil jalan tengah. Firman Allah dalan Surah Al-Baqarah  ayat 208 yang artinya,

Wahai orang-orang beriman!  Masuklah kalian ke dalam Islam secara kaffah,  dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan.  Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.”  

Seorang Muslim dituntut memiliki keimanan yang benar juga wajib membuktikan keimanannya dalam wujud keterikatannya pada semua syariat Islam, baik menyangkut kehidupan pribadi, keluarga maupun dalam bermasyarakat dan bernegara.  Selain individu,  negara memiliki kewajiban untuk menjaga akidah umatnya dengan memberi kemudahan melaksanakan aturan  Islam.

Negara menerapkan berbagai kebijakan yang saling mendukung bagi terciptanya akidah yang bersih, kuat dan berpengaruh pada diri kaum Muslim. Pada saat yang sama, negara  berupaya agar akidah tersebut dapat tersiar ke seluruh dunia agar Islam sebagai rahmatan lil aalamiin dapat dirasakan. 

Dengan demikian,  sudah jelas bahwa Islam moderat bukan berasal dari Islam. Penyebaran paham ini justru akan memecah belah umat Islam, menjauhkan penerapan Islam kaffah serta semakin melanggengkan penjajahan Barat.  Oleh sebab itu,  umat Islam harus membendung dan membuangnya. 

Negara harus berperan aktif dan turut campur dalam melindungi akidah umat. Semua itu hanya mungkin dilakukan jika syariah Islam diterapkan secara total dalam sistem pemerintahan Islam yakni Khilafah Islam.[MO/sr]

Posting Komentar