Oleh:  Ummu Najmi

Mediaoposisi.com-Menjelang pilpres 2019 situasi politik di negeri ini sudah mulai memanas, terlihat berbagai parpol sudah berusaha untuk mencari kekuatan dengan berbagai cara untuk merebut suara rakyat yang banyak agar rakyat mendukung calon yang dijagokannya.

Parpol yang mengatasnamakan Islam pun sudah tidak lagi berjuang untuk Islam, mereka pun merapat ke parpol yang dianggap kuat dan yang akan mengusung pilihannya yang dianggap berpotensi untuk memenagkan pilpres.

Hampir setiap pesta demokrasi digelar, orang-oarang yang tidak tetap pendiriannya menggunakan agama dan simbol-simbolnya menjadi alat untuk meraih kursi.  Kemuliaan Islam sudah dipinggirkan yang diperhatikan adalah kepentingan individu dan kelompoknya saja.

Seorang tokoh yang awalnya dipandang berpihak pada agama (Islam) tidak lepas dari fenomena ini. Hingga Tenaga Ahli Kantor STAF Kepresidenan (KSP), Ali Mochtar Ngabalin mengaku merinding setelah mengetahui Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Muhammad Zainul Majdi atau yang karib disapa Tuang Guru Bajang mendukung Joko Widodo (Jokowi) dua periode.

Sebagai orang beragama, saya merinding karena itu saya tidak ragu, dan apa yang salah dari dukungannya kepada Presiden Jokowi bahwa 5 tahun saja tidak cukup,” kata Ngabalin ditemui di acara Rembuknas 98 di daerah Kemayoran, Jakarta Pusat, Sabtu (7/7/2018). (Oke zone news, 7 Juli 2018).

Sikap Tuan Guru Bajang (TGB) ini merupakan salah satu dari gagalnya sebuah perjuangan yang dilakukan lewat jalan demokrasi. Demokrasi tidak akan memberikan peluang untuk memperjuangkan Islamkarena Islam dianggap sebagai pengahambat jalannya demokrasi. Yang terjadi justru Islam akan dihadang dan tidak akan dibiarkan eksis dalam sistem demokrasi.

Sangat disayangkan bahwa masih ada yang melakukan perjuangan ke arah Islam tapi  hanya mengganti orang dan jalannya lewat demokrasi.

Dengan jalan ini maka perubahan yang didapat hanya perubahan rezim/penguasa yang justru akan menimbulkan kerusakan. Padahal yang harus diperjuangkan bukan hanya menyeru pada pergantian orang saja tetapi pergantian sistem dari sistem sekuler menuju tegaknya sistem Islam.

Oleh karena itu berharap adanya perubahan hakiki pada demokrasi ibarat punduk merindukan bulan. Utopis!

Untuk mengadakan perubahan hakiki diperlukan pilar pengokoh perjuangan berupa keberadaan umat dan para tokoh yang sadar atas kewajiban penegakkan sistem Islam dan siap untuk memperjuangkannya dengan jalan mendakwahkannya.

Tugas mereka memahamkan umat dengan ideologi Islam sebagai solusi atas seluruh permasalahan kehidupan. Inilah perjuangan politik Islam yang sesungguhnya.

Sistem Islam ini terbukti berhasil selama berabad-abad lamanya. Ketika Islam  diterapkan, kemajuan dan kesejahteraan dapat dicapai dengan gemilang, karena Sistem tersebut adalah buatan Allah Subhanawata’ala yang maha benar dan maha adil.[MO/sr]
                                                                                                                           
                                                                                                                       




Posting Komentar