Oleh: Siti Aminah. S.Pd.I

Mediaoposisi.com- Dalam kehidupan sehari - hari saja jika kita akan kedatangan tamu istimewa, maka akan menyiapkan keperluannya jauh- jauh hari.

Mulai dari bersih- bersih rumah, dan menyiapkan makanan yang akan disajikan. Begitu juga Indonesia tanah air tercinta ini yg akan menjadi tuan rumah perhelatan besar ASEAN GAMES, pada tanggal 18 agustus- 2 september 2018 di dua tempat, Jakarta dan Palembang.

Sebagai tuan rumah berarti sudah harus menyiapkan segalanya jauh - jauh hari, dari persiapan tempat, pembersihan area lokasi, sampai pada jaminan keamanan acara.

Ya, kalau kita perhatikan setiap akan ada perhelatan besar ditanah air, seperti pemilu, hari raya - non islam- sampai ASEAN GAMES, juga rupanya pemerintah berupaya untuk membersihkan terorisme- yg dianggap sampah- , meskipun masih terduga.

Seperti rentetan bom yang terjadi menjelang ASEAN GAMES kali ini, ada di Indramayu, sabtu 14-7-2018 malam dan minggu 15-7-2018 dini hari 5 orang terduga teroris yang terdiri atas ayah dan anaknya AS (43),I (16), R(30), M(39), dan Mu (32).

Berhasil ditangkap dilokasi berbeda. Sementara itu masih di Indramayu, dua terduga teroris srrang polres Indramayu, yang melempar panci diduga bom. Pelaku merupakan suami istri, meski sempat kabur, salah satu dari mereka bisa dilumpuhkan.

Demikian juga di sleman, beberapa waktu lalu. Rentetan suara tembakan PISTOl dar- der- dor dijalan kaliurang km 9,5 itu terdengar sebanyak 10 kali, yg lokasinya tidak jauh dari kantor polsek nganglik sleman, akibat kejadian tersebut, ketiga teroris meninggal tertembus timah panas, dan dua anggota densus terluka...

Semua dilakukan agar dapat acungan JEMPOL dari negara lain, bahwa dengan pemerintahan saat ini bisa membersihkan teroris, dengan menjajakan islam nusantara... Semua itu dengan bayaran nyawa., lagi lagi dengan atas nama teroris masih  terduga.

Sering kali aksi terorisme disematkan pada Islam, padahal terorisme bukanlah ajaran islam, islam mengajarkan kasih sayang, bahkan nyawa seorang kafir dzimmi sekalipun yg berada dalam negara islam akan sangat diperhatikan. Tidak akan mudah untuk membunuh nyawa seseorang.

Aksi- aksi teror dibuat untuk memunculkan sikap takut terhadap islam, sehingga menganggap islam harus dimusuhi, apalagi jika diterapkan hukum islam.. Yang anggapan mereka akan lebih berbahaya, na'udzubillah.

Sehingga masyarakat diharapkan takut menyerukan dan diseru kewajiban penegakan sistem politik islam, dengan menerima gagasan moderisasi islam, termasuk ada islam nusantara yg lebih toleran, ini lah yang dijual dimasyarakat, berusaha menyaingi, mengimbangi islam yg diturunkan Allah lewat nabi Muhammad.

Padahal islam adalah agama yang tinggi dan tidak ada yang mampu untuk menandinginya, yairu islam yang diterapkan didalamnya sistem politik islam, sistem ekonomi ialam, dan semuanya diatur oleh islam dari Allah sang pencipta manusia.

Dengan ini jika jika Indonesia dan belahan dunia manapun diterapkan aturan islam, umat ini mampu bangkit kembali, dan mengalahkan hegemoni kapitalisme atas mereka. Itu jika Indonesia ingin "jempol" dari Sang Maha Hidup.[MO/sr]

Posting Komentar