Oleh: Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com- Ini kisah 1001 malam, di negeri dongeng, dimana kesejahteraan seperti mimpi, keadilan terpenjara tirani. Ada salah tangkap, ada salah tembak, ada salah bunuh, ada ini dan itu belum tuntas, ada banyak pertanyaan rakyat yang tidak kunjung dijawab. Ada pembunuhan jiwa yang Allah SWT haramkan, pembunuhan tanpa putusan pengadilan, ekstra judicial killing, dimana pertanggungjawabannya?

Setelah muter-muter, dari wacana Perppu sampai revisi UU, dari dar der dor teror horor sampai minta tambahan wewenang dan perluasan penalisasi, ternyata ujung-ujungnya minta duit. Duit 44 triliun itu besar sodara ! Itu duit dari pajak rakyat, yang hari ini terseok-seok bertahan hidup.

Lantas, triliunan duit yang lalu untuk apa ? Bikin sinetron 'terorisme' ? Sudahlah ! Penenggak hukum jangan terlalu telanjang mengungkap aib dan persoalan. Kalo minta THR, nanti tunggu kelar urusan BPIP dan THR oleh Pemda yang sampai saat ini juga belum kelar. Jangan ikut latah minta duit disaat kondisi sulit.

Entah dimana nurani penguasa negeri ini, rakyatnya terpuruk dalam himpitan kemiskinan dan perlakuan tidak adil, yang diatas suka-suka dan semaunya, kotak katik anggaran, untuk nemenuhi hajat dan kepentingan sektoral. Semua mengerubuti anggaran negara, memelorotinya, padahal utang negara sudah diatas 4000 triliun.

Astaghfirullah, kok nekat semua, tidak tahu malu, muka badak, tidak melihat jeritan rakyat, aji mumpung semua, mumpung berkuasa. Semua berlaku tanpa fikir apa yang ada di benak rakyat.

Duit 44 triliun itu banyak, banyak sekali, Kalo untuk beli cendol, bisa banjir cendol se DKI Jakarta. Duit itu, bisa untuk kasih makan jutaan penduduk, bisa untuk ngobati rakyat yang sakit, bisa untuk membantu pendidikan anak bangsa, bukan dihamburkan untuk dar der dor yang banyak sikap teledor. Belum lagi, jika ada jiwa yang terbunuh, yang Allah SWT haramkan itu, maka sama saja membunuh seluruh manusia.

Apa manfaatnya 'terorisme' itu ? Kenapa terus dibiayai ? Rakyat tidak takut terorisme ! Rakyat itu takut lapar, takut tidak bisa bayar listrik, takut tidak bisa sekolahkan anak. Jadi, duit 44 triliun mending untuk beli beras daripada makan keong sawah, untuk bayar sekolah, bayar listrik, lebih manfaat.

Sinetron terorisme itu ga akan tayang, jika biaya produksinya dipangkas. Sudahlah, fokus menyejahterakan rakyat, jangan jualan ketakutan publik untuk memperoleh duit.

Capek, saben hari disuguhi sinetron jadul yang ga mutu dan selalu dapat ditebak ujungnya. Ujungnya selalu duit, proyek, semua urusan diperdagangkan.

Nanti Klo ga dikasih duit ngambek, bikin dar der dor lagi, eksploitasi ketakutan publik lagi, dramatisasi kegentingan, butuh tindakan antisipasi dan pencegahan, butuh pula agenda penindakan, ujung-ujungnya butuh duit lagi untuk mengeksekusi program. Olala, ini repetisi sodara, tidak ada hal yang baru. Semua lagu lama kaset nya saja yang baru.

Karenanya semua harus bersuara, setiap rupiah anggaran negara itu keringat rakyat. Jangan seenaknya bancakan anggaran, dan itu juga digunakan untuk menindas rakyat. Jika tidak, para kurawa akan semakin jumawa mengangkangi duit negara.

Sekali lagi, tidak boleh ada satu rupiah pun, duit rakyat yang dicuri para mafia dengan dalih apapun. Wahai umat, mari pasang mata, pasang telinga, siapkan sapu. Pukul, setiap kepala tikus yang nongol, pukul kepala tikus-tikus itu, sebelum mereka menggerogoti duit negara.[MO/sr]

Posting Komentar