Oleh : Humaimah Rafeyfa Dhiyaulhaq 

Mediaoposisi.com-  Negeri ini kembali meratap, belum lama ini data APBN menunjukkan utang pemerintah indonesia per April ini sebesar Rp 4.180,61 triliun, terdiri dari pinjaman Rp773,47 triliun dan penerbitan Surat Berharga Negara SBN sebesar Rp 3.407,14 triliun. Jakarta, kamis (17/5/2018),  Dilansir dari Liputan6.com,

Terhitung sejak awal januari hingga April 2018 utang Indonesia terus mengalami peningkatan. Lonjakan utang Indonesia faktanya sudah terjadi sejak tahun 2015 lalu. Ditambah dengan melemahnya Nilai tukar terhadap dollar memperburuk pembengkakan terhadap utang negeri ini. Nilai tukar sempat menyentuh 13.400 per dollar Amerika. Tekanana inilah yang berdampak pada outstanding utang pemerintah yang mencapai Rp 10,9 triliun.

Memandang permasalahan ini, Utang negara seolah – olah bukanlah problem riskan bagi negeri ini. Pasalnya ini merupakan permasalahan lama yang setiap tahunnya tidak menemukan titk temu, bahkan solusi yang diberikan adalah solusi parsial yang tidak menyeluruh menuntaskan problem.

Adanya ketidakseriusan dari pemerintah juga nenambah daftar buram negeri ini. Ketika negara saja tidak lagi berperan aktif, lantas siapa pihak yang akan berperan. Inilah bentuk ketidakpedulian negara terhadap nasib rakyat.

Utang negara yang kian meningkat tidak luput dari adanya faktor yang mempengaruhinya, adapun diantaranya ialah, pelemahan terhadap nilai tukar uang terhadap dolar, berdampak kepada kenaikan harga barang.

Ketika harga barang menjadi naik maka akan meningkatkan inflasi, ketika kita ketahui banyak produsen yang mengandalkan bahan baku luar negeri, hal ini mendorong peningkatan utang negara, faktor lain adalah peminjaman dana kepada luar negeri untuk memenuhi pembangunan di dalam negeri, karena masa pemerintahan periode ini mengandalkan pembangunan daerah sebagai titik pusat geraknya.

Ketika kita tahu bahwa dana yang dibutuhkan untuk itu tidaklah sedikit, maka jalan yang di ambil untuk merealisasikan programnya adalah  dengan berhutang.

Seperti yang kita ketahui bahwasannya utang adalah jalan negara ini untuk memenuhi pemasukan kas negara selain pajak. Langkah ini merupakan cara negara dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi, harapannya ketika negara berhasil menambah pemasukan melalui hutang, ini akan mampu menggenjot roda perekonomian.

Namun pada faktanya tidak demikian, sekian lama negara ini berhutang lantas pertumbuhan ekonomi juga tidak terwujud, bahkan negara menjadi terpuruk dan tergadai eksistensinya.

Inilah akar permasalahan dari problem ini, tentulah kita ketahui di era kapitalisme ini. Meminjamkan utang bukanlah atas dasar tolong menolong, melainkan atas dasar manfaat. Dimana utang yang dipinjamkan di sertakan dengan tambahan berupa bunga, bunga itulah yang dinamakan dengan riba.

Dimana bunga tersebut akan terus bertambah selama periode. Dan inilah mengapa utang indonesia kian melonjak, sebenarnya yang bertambah itu adalah bunganya, yang kian menambah bengkak kantong penguasa akibat utang. Indonesia juga pada fakanya baru mampu membayar bungannya sedang pokoknya belum tersentuh.

Mirinya negara ini yang terkungkung dengan utang, segala potensi alamnya lantas raib karena harus terelakan terganti untuk membayar utang negara.[MO/sr]






Posting Komentar