Oleh: Hafshah Damayanti, S.Pd
(Forum Muslimah Pantura)

Mediaoposisi.com-Rilis Kementerian Keuangan terkait utang negara mencatat total utang pemerintah hingga akhir April 2018 mencapai Rp4.180 triliun, naik 13,99 persen dibanding periode yang sama tahun lalu Rp3.667,41 triliun. Adapun sejak Januari-April 2018, total utang yang ditarik pemerintah mencapai Rp187,2 triliun. Okezone.com(26/5).   

Menteri keuangan pun menegaskan utang sebanyak itu tidaklah dilakukan seenaknya melainkan sudah dipikirkan dan diatur oleh undang-undang.

Bahkan, seolah ingin menenangkan rakyat agar tak risau dengan menggunungnya utang, Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebut total utang Indonesia yang mencapai Rp4.180 triliun hingga akhir April 2018 masih berada di bawah batas aman. Dengan asumsi Produk Domestik Bruto (PDB) tahun ini sebesar Rp14 ribu triliun, batas aman utang Indonesia sesuai Undang-Undang (UU) mencapai Rp8.400 triliun.

Dengan lagu lamanya, pemerintah pun mencoba meyakinkan rakyat bahwa semua utang  yang ada itu semata  untuk pembangunan dan kesejahteraan. Walau sampai detik ini rakyat masih terus menanti kesejahteraan yang dijanjikan. Karena rakyat hanya merasakan ketika utang semakin bertambah hidup  kian susah, jauh dari sejahtera.

Padahal negeri ini bukanlah negeri yang gersang, bahkan berlimpah bahan tambang. Tapi untuk membangun seolah tak ada jalan lain kecuali dengan utang. Tampak sudah bagaimana salah urusnya negeri ini oleh penguasa yang tak amanah. Kekayaan alam berlimpah pun diobral ke penjajah demi mencicil utang berikut bunganya.

Harapan rakyat  agar negerinya terbebas dari utang luar negeri dan menjadi negara yang mandiri pun harus pupus ditelan bumi. Betapa tidak, dengan utang luar negeri yang fantastik tapi rezim tak merasa terusik akan negeri ini yang sudah tergadaikan semua yang dimiliki. Kehormatan bangsa, kedaulatan negera serta  kekayaan alam yang berlimpah telah dilego ke asing dan aseng hingga tak tersisa sedikitpun kecuali bertambah melaratnya rakyat ditangan pejabat dan konglomerat yang khianat.

Bukan hal yang sulit untuk dipahami jika utang luar negeri yang digelontorkan oleh negara-negara Kapitalis imperialis melalui lembaga keuangan internasional semisal IMF dan Worl Bank adalah alat untuk menyandera kemandirian politik  negeri ini. Indonesia sebagai negeri muslim terbesar di dunia tak lagi leluasa untuk mengelola sumber-sumber kekayaan alam yang bernilai strategis demi kesejahteraan rakyatnya.

Beragam regulasi yang menyangkut kepentingan khalayak umum sarat dengan intervensi asing. Rakyat tentu semakin merana tak mendapat pengayoman selayaknya dari penguasa. Negeri ini pun tak berdaulat, tunduk patuh pada  penjajah laknat.

Sudah seharusnya pemimpin dan rakyat negeri ini segera menyadari bahaya yang mengancam dibalik jerat utang luar negeri. Tidak lagi menganggap aman walau konstitusi membenarkan. Karena sesungguhnya utang luar negeri adalah jalan tol negara imperialis menjajah negeri ini.[MO/sr]


Posting Komentar