Oleh: Mr Brav
Mediaoposisi.com-  Hingga Perang Dunia 1 berkecamuk, sistem mata uang yang berlaku di dunia saat itu adalah sistem mata uang dengan menggunakan standar emas. Uang yang berputar merupakan potongan emas dan uang kertas yang bisa ditukarkan dengan emas sesuai dengan nilai nominalnya.

Namun , ketika Amerika menjadi super power dunia, ia menghentikan penggunaan sistem uang emas dan mengalihkan standar uang dunia Menjadi US dolar. Maka sejak itu emas praktis tidak terkait lagi dengan uang. Emas hanya sekedar menjadi salah satu barang saja

Dalam Buku Satanic Finances bahwa :

Uang kertas berupa dolar bagaikan cek kosong semata, ia tidak memiliki nilai sama sekali. Hanya saja, uang ini menjadi berharga dan secara sah berfungsi sebagai aim pembayaran (legal tender) barang dan jasa ataupun utang, karena diterbitkan oleh Pemerintah yang diakui. Artinya, kalau Pemerintah itu kehilangan kepercayaan, demikian pula yang terjadi dengan uang kertas yang diciptakan. Ia tidak akan berharga, kecuali seharga kertas dan biaya produksi yang diperlukan”.

Uang kertas  memang bisa menjadi ilusi yang berbahaya. Dan itulah kehebatan, selalu bisa mengubah apa yang sejatinya buruk dan berbahaya bagi manusia, tampak menjadi baik dan berguna. Melalui itusi uang kertas itulah, eksploitasi manusia atas manusia dimungkinkan. Mereka yang punya kekuasaan bisa mendikretkan berlakunya uang kertas yang seolah-olah "sebaik” logam berharga atau kekayaan lain yang serupa.

Berapa peredaran dolar yang dipompa keluar dari Amerika setiap harinya? Diperkirakan lebih dari 1,5 miliar dolar AS. Dengan menimbang produksi untuk satu dolarnya kurang dari satu sen, maka sudah pasti dolar bukan sekadar mata uang, tapi telah menjadi produk ekspor paling unggul Amerika

Dampak penetapan dolar sebagai standar mata uang semakin nyata. Dolar kemudian merajai aset internasional di pasar dan mencengkram kekayaan tersebut. Dan yang lebih penting adalah kurs pertukaran kekayaan tersebut. Dan yang lebih penting adalah kurs pertukaran mata uang pun menjadi berubah-ubah secara drastis.

Untuk lebih menancapkan cengkeraman imprealisme ekonomi, Amerika Serikat menggunakan badan dunia seperti IMF (Internasional Monetary Fund) dan Word Bank. Lengkapnya upaya Amerika Serikat menjadikan dolar sebagai standar moneter.

Ketidakmampuan membayar utang berakibat aset-aset negara diobral. Investor asing yang mendapat restu lMF pun panen. Tak hanya kehilangan aset-aset berharga. Karena utang, Indonesia juga kehilangan harkat dan martabat (dignity) sebagai negara berdaulatTermasuk, tak berdaya menepis resep obat lMF yang ternyata justru menambah parah sakit ekonomi nasional. Rakyat Indonesia pun bertambah miskin dan menderita.[MO/sr]

Posting Komentar