Oleh: Ummu rumaisha

Mediaoposisi.com- Terpapar radikalisme
Inilah istilah yang saat ini diopinikan atau mungkin sengaja ditrendingkan ,menyusul data dari Pemrov DKI Jakarta yang merilis tentang informasi 40 masjid di Jakarta yang terpapar radikalisme. (http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/18/06/06/p9whc2384-40-masjid-di-jakarta-terpapar-radikalisme-ini-tanggapan-mui)

Ditambah pemberitaan dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang mendata ada 7 Perguruan Tinggi yang tersusupi berkembangnya paham radikalisme.

Diantaranya Universitas Indonesia (UI), Universitas Diponegoro (UNDIP), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Teknologi Sepuluh Nopember(ITS),  Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Airlangga (UA), Univ Brawijaya (UB). Menurut BNPT, yang terbanyak terpapar radikalisme di fakultas eksakta dan kedokteran. Belum lagi data dari Budi Gunawan (Kepala BIN) yang menyatakan bahwa 39% mahasiswa terpapar radikalisme.

Data yang membuat tercengang

MUI menyatakan keprihatinannya menyusul himbauan MUI agar pengisi acara keagamaan di televisi adalah ustadz yang bersertifikat.

Hal senada juga diungkapkan oleh Azyumardi Azra (mantan rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) bahwa sarang terorisme itu muncul dari Perguruan Tinggi Umum yang  gejalanya menganut paham radikalisme.

Ini bukan kali pertama Islam selalu dikaitkan dengan terorisme, anti NKRI, radikalisme. Apalagi pasca kejadian BOM sebelum ramadhan. Geliat tumbuhnya semangat kesadaran kaum muslimin dalam memahami agamanya, teruji dengan sematan opini negatif yang terus mengiringi aksi aksi dakwah para ustadz dan aktivis. Apalagi pasca aksi 212.

Data yang disampaikan oleh BNPT maupun pemrov DKI Jakarta tentunya tidak bisa ditelan mentah mentah. Alias perlu pembuktian. Benarkah ini sebuah acara yang bergandengan dengan permainan politik era now, ataukah benar data yang valid.

Sebagaimana pernyataan Al Chaidar (pengamat terorisme) yang mengatakan pernyataan BNPT merupakan blunder dan tidak mendasar. Al Chaidar mengatakan bahwa selama ini dia tidak melihat mahasiswa suka paham teror maupun radikal. Dia mengaku sangat terkejut dengan data BNPT seolah semua kampus darurat terkena paham radikal. Bahkan Al Chaidar menantang BNPT untuk menggelontorkan temuannya secara rinci.

(https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180530111844-20-302170/data-bnpt-soal-kampus-terpapar-radikalisme-dipertanyakan)

Sekali lagi, ini bukan tuduhan pertama tentang isu radikalisme yang disematkan pada umat Islam. Bahkan seakan akan geliat yang terus tumbuh akan semangat Islam dikalangan pemuda selalu  direspon dengan tuduhan-tuduhan negatif yang menyerang para pelaku dan juga Syariat Islam.

Seakan isu kemiskinan, pengangguran, TKA, pergaulan bebas yang terus menjangkiti negeri ini tidak penting untuk dicari solusi tepat. Kasus OPM yang belum kelar kelar yang murni sebagai tindakan makar terhadap negeri, juga tidak nampak dibahas BNPT sebagai tindakan teror darurat untuk negeri.

Sungguh, Islam yang diturunkan lewat Nabi Muhammad SAW tidak pernah menyuruh berbuat radikal. Umat islam wajib waspada terhadap fitnah yang terus menimpa agama ini. Umat Islam juga wajib terus menjalin komunikasi dan persatuan serta ukhuwah dengan sesama muslim.

Apa yang menimpa umat ini, harus disadari sebagai resiko saat agama terpisah dari kehidupan. Sehingga kehidupan diatur dan dihukumi oleh manusia-manusia yang tidak berpihak pada islam dan kaum muslimin. Hendaknya umat islam merenungkan apa yang disampaikan oleh Imam Syafi’i.

Imam Syafi’i rohimahullah pernah ditanya oleh salah satu muridnya tentang bagaimana caranya kita mengetahui pengikut kebenaran di akhir zaman yang penuh fitnah.

Jawab beliau, "Perhatikanlah panah-panah musuh (ditujukan kepada siapa) maka akan menunjukimu siapa pengikut kebenaran".

Jadi pilihlah dan ikutilah ulama dengan ciri berikut agar selamat di jaman penuh fitnah ini:

* Ulama yang paling dibenci dan tidak disukai orang kafir
* Ulama yang paling tidak disukai orang munafik
* Ulama yang keras terhadap orang kafir yang mengganggu
* Ulama yang lemah lembut terhadap orang Islam
* Ulama yang selaras antara ucapan dan perbuatan
* Ulama yang tidak peduli dengan caci maki orang kafir sejauh ia menyuarakan kebenaran
* Ulama yang jika kita memandangnya dan mendengar petuahnya semakin membuat hati kita semangat untuk lebih rajin beribadah.[MO/sr]


Posting Komentar