Oleh: Eriga Agustiningsasi, S.KM

Mediaoposisi.com-  Lagi-lagi Indonesia dikejutkan dengan aksi teror yang mengatasnamakan Islam. Detasemen Khusus atau Densus 88 Antiteror menangkap dua terduga teroris di Kota dan Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, pada Kamis, 17 Mei 2018 (nasional.tempo.co). Mereka juga berhasil menangkap terduga teroris di Kabupaten Mojokerto dan Jombang.

Setelah terjadi tiga ledakan bom bunuh diri di Surabaya dan Sidoarjo, Jawa Timur, banyak unggahan di media sosial yang menyatakan bahwa terorisme bukan bagian dari agama.

Seperti akun media sosial Presiden Indonesia Joko Widodo, selain mengatakan bahwa terorisme adalah tindakan biadab, beliau juga mengatakan bahwa, Terorisme adalah musuh bagi semua agama. Unggahan Presiden Jokowi tersebut kemudian sudah disebar 13.000 kali dan disukai 19.000 kali. (http://www.bbc.com).

Selain itu, unggahan media sosial Cholil Nafis, Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia, juga mengatakan bahwa, Terorisme itu bukan produk agama apalagi termasuk ajarannya.  Sementara itu, postingan di media sosial  juga ramai dibagikan meminta agar orang "pisahkan agama dengan perilaku manusianya" dan bahwa para pelaku aksi terorisme adalah "oknum yang membajak ajaran agama".

Terorisme bukan Ajaran Islam

Opini terorisme bukan ajaran dari Islam viral dimedia sosial. Bahkan tagar #TerorismeBukanIslam pun ramai digunakan. Spredfast mencatat ada sekitar 152.000 cuitan lebih yang memakai tagar itu sejak 14 Mei 2018. Ada beberapa tagar lain yang juga kurang lebih sama populernya dan menyampaikan pesan serupa, seperti #islamlawanterorisme, #dakwahtanpakekerasan, #waspadaskenariojahat, dan #islamselamatkannegeri.

Ditambah lagi Greg Fealy, pengamat politik dan Islam Indonesia dari Australian National University (ANU) di Canberra, mengatakan bahwa polisi merupakan salah satu musuh utama teroris. Greg juga mengatakan bahwa serangan bom ke gereja di Indonesia sebetulnya tidaklah banyak terjadi. Dan tentu terorisme bukanlah ajaran agama manapun, senada yang diungkapkan oleh Presiden Jokowi dan MUI.

Meskipun pemerintah dan jajarannya menganggap terorisme bukan ajaran agama, namun perlakuannya berbeda dengan Islam. Sikap pemerintah yang tetap menggodog RUU Anti Terorisme tetap diberlakukan. Penangkapan-penengkapan terduga teroris masif digencarkan. Barang bukti pun telah dikumpulkan, mulai dari buku agama Islam hingga Al Quran yang merupakan pedoman hidup manusia di dunia dan akhirat. Lantas, siapa teroris yang sebenarnya?

Definisi terorisme menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai tujuan (terutama tujuan politik); praktik tindakan teror. Berarti terorisme adalah usaha membuat rakyat menjadi ketakutan, tidak nyaman dan dalam ancaman.

Sementara itu, Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin dalam salah satu acara di televisi swasta, 15 Mei 2018 beliau menyebutkan bahwa terorisme adalah sebuah gerakan global made in America.  Beliau juga mengungkapkanbahwa barang bukti teroris itu bukan Al Quran, karena Al Quran tak pernah tercantum ajaran teror.

Allah berfirman,

Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya” (QS. Al Maidah: 32).

Jadi sudah jelaslah terorisme bukanlah ajaran Islam. Teror mengatasnamakan Islam merupakan opini hoax masa kini, jelas tak benar adanya. Apalagi fitnah keji tersebut mengorbankan nyawa kaum muslim. Rosulullah bersabda,

 “Barangsiapa bunuh diri dengan besi, maka kelak besinya di tangannya,  dia akan memukulkannya ke perutnya pada hari kiamat di neraka Jahannam, dia kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan barangsiapa bunuh diri dengan racun, maka racunnya kelak di tangannya, dia akan menghirupnya di neraka Jahannam, dia kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan barangsiapa menjatuhkan diri dari (atas) gunung, sehingga dia mati, maka kelak dia akan menjatuhkan diri di neraka Jahannam, dia kekal di dalamnya selama-lamanya.” (Muttafaqun ‘Alaih) [MO/sr]

Posting Komentar