Oleh : Nida Husnia 
(Mahasiswa IAIN Jember)

Mediaoposisi.com- Perang Israel-Palestina belum  juga menemui ujung penyelesaian. Militer zionis Israel malah semakin ganas memangsa setiap nyawa dengan  tanpa mengikuti aturan perang internasional. Beberapa waktu lalu media ramai dengan serangan seorang snipper yang bangga karena berhasil menembak dua nyawa sekaligus yaitu ibu hamil dan bayinya yang syahid seketika.

Bahkan hingga saat ini Israel tetap melancarkan serangan darat dan udaranya, membunuhi warga sipil tak bersalah, dan mengkriminalisasi seorang penulis Palestina dengan memperpanjang masa tahanannya. (pesonaalquds.com)

Namun sejujurnya dunia mau saja mengakui kebodohan, ketakutan, dan kecerobohan tentara zionis saat menghadapi warga Palestina. Seperti yang kita tahu, apa yang Palestina punya untuk melawan kebiadaban Israel selain satuan kemiliteran HAMAS?

Pemuda dan anak-anak yang diancam hanya melawan dengan sebongkah batu, sedangkan tentara Israel bersiap dengan seragam, senjata dan tameng untuk menghindari lemparan.

Beberapa hasil reportase media menunjukkan nyali ciut Israel saat melakukan aksi penyerangan seperti saat mereka berlari ketakutan menghindari lemparan batu dan kerikil padahal ditangannya tersimpan laras panjang. Saat roket HAMAS melayang diudara, mereka menangis histeris, juga rombongan menangkap anak-anak dan perempuan, mereka tak pernah maju seorang diri.

Rupanya rekaman peristiwa itu menjadi momok bagi pemerintahan Israel. Para penjajah itu khawatir dunia akan menjadikan militer nya sebagai bahan tertawaan. Oleh karenanya anggota Knesset, Robert Ilatov mengusulkan RUU larangan dokumentasi dan disetujui oleh parlemen Israel meski masih membutuhkan 2 kali persidangan sebelum disahkan menjadi UU. (manado.tribunnews.com)
 
RUU tersebut berisi larangan keras mempublikasikan foto, rekaman suara atau visual ke media manapun dan akan memberlakukan hukum pidana 5-10 tahun penjara bagi yang mempublikasikan rekaman.

Hal ini sontak mengundang protes dan tuntutan kepada PBB sebab Israel menjegal kebebasan pers dengan alasan yang tak masuk akal yaitu hanya ingin menjaga fokus tugas tentaranya. Padahal zaman semakin berkembang dan batas informasi dunia sudah tak berlaku, publik berhak mengetahui segala realita di lapangan apalagi menyangkut kasus antar negara.

Apa yang melatar belakangi Israel hingga tergesa meng-goalkan RUU ini? Sebagai penjajah tertua, zionis tetap ingin tampil memukau. Menghindari berbagai dokumentasi rekaman yang membongkar wajah asli dibalik topeng kegagahannya. Israel tak ingin dikenai sanksi dikancah internasional sehingga ia mengambil langkah untuk membungkam media agar aktifitasnya tak terbaca dunia.

Rancangan undang-undang ini nyatanya semakin membuat warga dunia geram. Israel telah melakukan kriminalisasi dan serangan membabi buta terhadap Palestina sejak 1948. Jutaan korban berjatuhan, jutaan hektare bangunan rata dengan tanah. Sekarang ia malah hendak melarikan diri dari media.

Apa yang mampu kita lihat selain ketamakan Israel menguasai wilayah Palestina? Mendapat dukungan penuh Amerika saja tak cukup karena warga dunia masih lebih memihak Palestina yang memang telah nyata di porak-porandakan oleh mereka.

Warga dunia mengetahui segala realita perang Palestina-Israel melalui media karena tak semua orang bisa menjangkau wilayah konflik tersebut.

Terlebih lagi RUU ini dikeluarkan karena pemerintahan Netanyahu tahu betul ketakutan dan kebodohan tentaranya yang menjadi bahan cemoohan warganet. Pantas, sebengis Isarel justru takut pada jepretan kamera.[MO/sr]


Posting Komentar