Oleh : Istighfaris SE.sy 
(Anggota revowriter jombang)

Mediaoposisi.com-  Dilematika mengelola keuangan
"Menjadi seorang ibu harus pinter membagi uang, apalagi di jaman now semua serba mahal tetapi gaji tak kunjung naik, itu bagi yang punya gaji kalau yang pendapatan tidak tentu, dapatnya harian kadang cukup kadang tidak cukup".

Entahlah statement itu bisa dikatakan sebagai nasihat atau curhatan. Faktanya tidak sedikit para ibu yang pusing mengatur keuangan, agar cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Ada yang sampai hutang atau bahkan turun tangan membantu mencari income tambahan.

Terlebih jika harga bahan pokok naik. Manajemen keuangan mulai di bolak balik. Mengejar harga yang paling murah. Bahkan buat ibu-ibu selisih harga 1000 rupiah pun akan dikejar lumayan bisa dibuat tambahan beli bumbu dapur. Dengan naiknya harga beras sekarang bulog pun turut "membantu" mengatur keuangan keluarga, dengan munculnya beras kemasan sachet.

Menurut perhitugan Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Bulog, Karyawan Gunarso, beras kemasan 200gr ini bisa digunakan untuk makan 4-5 orang. Beras ini akan dijual dengan harga Rp2500,- sehingga sisa uangnya bisa digunakan untuk membeli kebutuhan yang lain.
http://jakarta.tribunnews.com/2018/05/24/bulog-akan-hadirkan-beras-sachet-seharga-rp-2500-untuk-makan-sekeluarga.

Akan tetapi jika kita cermati lagi dengan harga Rp2500,- /200gr versi sachet dari bulog akan lebih mahal jika dibandingakan dengan 1kg. Sedangkan untuk makan satu keluarga utuh dengan 2 anak akan membutuhkan setidaknya 1 kg beras dalam sehari jika makan 3x sehari dengan perhitungan umum kurang lebih 1ons/porsi.

Belum lagi beras akan dibutuhkan setiap hari. Bagi para ibu akan lebih ekonomis jika membeli per-kg. Bukannya membantu, kebijakan ini justru seakan hendak mengambil keuntungan tambahan.
Sebagai seorang ibu saya ikut merasakan bagaimana pusingnya mengatur keuangan. Untuk pendapatan masyarakat tingkat middle low, Sangat tidak mudah memang mencari solusi dari problem ekonomi ini. Yang menjadi pertanyaan adalah apa yang salah?

jika kita sudah sedemikian rupa mengolah keuangan tetapi masih saja income tidak mampu mencukupi kebutuhan dengan layak. Beberapa hari lalu sedang viral video seorang anak dan nenek nya yang hanya makan sahur dengan nasi dan garam saja. Ini adalah salah satu bukti bahwa saat ini tidak sedikit keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan pokoknya. Seakan semua kebutuhan hidup harus ditopang sendiri tanpa bantuan dari negara.

Sejarah mengungkap terjaminnya kebutuhan pokok rakyat.
Teringat kisah kelembutan hati sang khalifah. Saat khalifah umar bi al khaththab blusukan ke sendi-sendi wilayah yang menjadi tanggung jawabnya. Beliau sebagai seorang kepala negara (khalifah) bersama sahabatnya memastikan apakah ada warganya yang mengalami kesulitan. Dan suatu ketika beliau menemukan ada keluarga yang ternyata tidak bisa makan sehingga memasak batu.

Akhirnya khalifah umar lah yang langsung mengambilkan gandum, daging dan uang untuk kebutuhan beberapa hari kedepan. Begitu besar tanggung jawab pemimpin islam pada rakyatnya bahkan saat aslam sahabat khalifah umarbyang menemaninya hendak membantu mengambilkan bahan makanan dan menundanya esok hari, sayyidina umar pun menolaknya.

Sekelumit kisah dari beribu kisah kesejahteraan pada saat pengaturan kehidupan menggunakan aturan islam. Tampak bahwa kebutuhan pokok setiap individu akan dijamin. Bahkan tidak sekedar terpenuhinya makanan tetapi akan diberikan pula solusi untuk menyelasaikan problem perekonomian setiap keluarga agar bisa memenuhi kebutuhan pokok di hari-hari berikutnya.

Islam mampu menjawab semua problematika kehidupan. 
Secara awam, banyak sekali yang berfikir pendek. Bagaimana mungkin bisa menjamin kebutuhan pokok setiap warga negara bahkan menjamin kualitas hidup setiap individu per individu. Barapa rupiah yang harus d keluarkan negara dalam memenuhi kebutuhan hidup masyarakat. Banyak orang yang memiliki sudut pandang yang demikian.

Seakan utopis kondisi yang sejahtera seperti masa kepemimpinan khalifah umar yang dikisahkan diatas bisa terjadi di negeri kita tercinta ini.

Islam memiliki pengaturan khusus dalam perekonomian. Dalam sistem ekonomi islam memiliki anggaran pendapatan belanja negara yang kuat dan terbukti mampu mengoptimalkan SDM dan SDA sehingga dapan menyejahterakan rakyat. Dalam sistem ekonomi islam pendapatan negara dibagi menjadi dua yaitu pendapatan tetap dan pendapatan tidak tepat. Pendapatan tetap diantaranya adalah zakat, kharaj, jizyah dan laba BUMN.

Sedangkan pendapatan tidak tetapnya adalah fai, ghanimah, bagian harta milik umum (migas dan non migas), pajak saat kondisi keuangan minim dan lain-lain. Sedangkan anggaran belanja negara adalah pengeluaran tetap yaitu belanja umum contohnya kebutuhan administrasi negara, dan pembangunan fasum, sedangkan belanja khusus adalah kebutuhan 8 asnaf yang diambilkan khusus dari dana zakat. Sedangkan kebutuhan yang tidak tetap adalah biaya dakwah dan jihad.

Dari stuktur APBN sistem ekonomi islam diatas kita bisa melihat bahwa untuk kebutuhan pokok akan menjadi anggaran belanja utama yang akan diprioritaskan. Dengan sumber pendapatan yang sangat banyak akan sangat mungkin perindividu rakyat terpenuhi kebutuhan pokoknya secara baik.

Bukan hanya beras tetapi sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan dan keamanan akan terjamin. Dengan penerapan islam kaafah sebuah keniscayaan jika  kesejahteraan akan terwujud karena islam adalah rahmatan lil 'alamiin.[MO/sr]

Posting Komentar