Oleh: Novita Sari Gunawan
(Aktivis Akademi Menulis Kreatif)

Mediaoposisi.com- Bagai menggenggam bara api, kiasan yang disematkan oleh Rasulullah Saw kepada umat Islam akhir zaman tampaknya benar-benar bisa dirasakan kini. Dimana rezim Neo Orba era ini terus saja berupaya membuahkan doktrin Islamophobia dibenak masyarakat. Mirisnya, kaum muslim pun ada pula yang tak luput ikut serta mengamini hal tersebut.

Berawal dari tudingan bibit radikalisme di pesantren-pesantren, kampus-kampus, kegiatan rohis sekolah, ormas Islam dan aktivitasnya, mengupas ciri fisik seorang lelaki maupun perempuan yang terindikasi teroris, bahkan baru-baru ini homeschooling pun diserang sebagai cikal bakal bertelurnya generasi radikal.

Dilansir dari CNNIndonesia.com, Kepala Bidang PAUD dan Pendidikan Masyarakat Disdik DKI Jakarta Ferry Safarudin menyatakan "penyebaran paham radikal sangat mudah terjadi melalui peran keluarga pada homeschooling. Khususnya pada homeschooling tunggal yang merupakan pendidikan berbasis keluarga yang dilaksanakan oleh orangtua dalam satu keluarga untuk peserta didik".

Runnymede Trust, seorang Inggris mendefinisikan Islamophobia sebagai "rasa takut dan kebencian terhadap Islam dan oleh karena itu juga pada semua Muslim." Dinyatakan bahwa hal tersebut juga merujuk pada praktik diskriminasi terhadap Muslim dengan memisahkan mereka dari kehidupan ekonomi, sosial, dan kemasyarakatan bangsa.

Didalamnya juga ada persepsi bahwa Islam tidak mempunyai norma yang sesuai dengan budaya lain, lebih rendah dibanding budaya barat dan lebih bersifat sebagai ideologi politik yang bengis daripada berupa suatu agama. Istilah ini diresmikan pada bulan Januari 2001 di "Stockholm International Forum on Combating Intolerance".

Merujuk pada definisi Islamophobia diatas, adanya skenario reka adegan dilakukan untuk memupuk stigma negatif terhadap Islam. Gencarnya upaya-upaya tersebut membuatnya lambat laun berkembang menjadi ketakutan yang teramat sangat terhadap Islam. Baik itu dalam wujud ajarannya maupun orang-orang yang menjalankannya serta menyebarkannya.

Skenario ini disutradarai oleh penjajah yaitu barat penguasa dan pengusung ide kapitalis. Dengan dalangnya para antek-antek penjajah tersebut yang berwujud pemimpin-pemimpin negeri muslim. Membidik umat Islam beserta ajarannya sebagai sasaran objeknya. Dengan tujuan terhalanginya kebangkitan Islam disebabkan para penganutnya phobia atau takut dengan agamanya sendiri. Begitu halnya agama lain akan bergidik untuk bergandeng tangan dengan Islam.

Bagaimana strategi mereka dalam menggembosi Islam menjadi momok yang menakutkan? Berikut uraiannya: Pertama, menyerang pemikiran dan pengemban ajarannya (ulama, ormas, jamaah, intelektual dan akademisi). Membenturkan Islam dengan pancasila dan NKRI. Dibuatlah seolah keduanya bagaikan air dan minyak. Tak bisa disatukan bahkan berlawanan.

Kedua, menyerang perasaan masyarakat terutama muslim khususnya. Mengombang-ambing gejolak nuraninya sehingga ketakutan jika menjalankan ajarannya secara kaffah. Memandang ada sebagian ajarannya yang berupa monster. Mengaitkan Islam dengan radikalisme serta 'fabricated terorisme'. Lalu, menunggangi media-media agar masif menggiring opini tersebut.

Ketiga, membuat aturan untuk menjegal dakwah islam kaffah dan memuluskan agenda Islamophobia. Dengan adanya UU ormas serta UU antiterorisme. Dimana mereka punya kuasa untuk mengutak-atik tatanan hukum yang dibungkus dengan apik.

Langkah-langkah tersebut bertujuan untuk membungkam perjuangan penerapan aturan Islam kaffah yang solutif bagi permasalahan bangsa. Mengaburkan akar masalah penyebab rusaknya sendi-sendi kehidupan tanah air akibat sistem sekuler dan hegemoni kapitalis penjajah. Mengkambing-hitamkan kaum muslim dan ajarannya yang seolah menjadi primadona konflik yang harus dibenahi.

Jika menggunakan logika untuk mendudukkan perkara dan melihat secara kasat mata. Terlihat secara gamblang penyebab utama kerusakan ini ialah sistem sekuler yang menitahkan terbatasnya akal manusia membuat aturan yang menubruk aturan Illahi. Padahal, sudah jelas sang pencipta yang lebih memahami aturan terbaik bagi makhluk yang diciptakanNya.

Ditambah lagi dengan adanya para pengendali kekuasaan yang menampuk aturan-aturan tersebut demi kepentingan dan hawa nafsunya.

Studi kasus paska tragedi WTC 911, dilanjut dengan skenario-skenario lainnya hingga kini demi terkabulnya Islamophobia. Disisi lain, kebangkitan Islam bagaikan bola salju yang terus bergulir semakin membesar. Begitulah yang terjadi saat ini, umat Islam semakin banyak yang memahami Islam kaffah dan berbondong-bondong mendukung bahkan ikut memperjuangkannya.

Bagaimanapun upaya yang dibuat oleh musuh Allah SWT, tak akan unggul menandingi makarNya. Begitupun halnya keimanan tak akan goyah diterjang oleh ikhtiar manusia untuk menghancurkannya. Justru membuat umat Islam semakin yakin terhadap janji dan pertolongan Allah SWT. Mempercepat pergantian rezim ini dengan kembalinya sistem Islam yang melahirkan Rahmatan Lil Alamin.

Allah SWT berfirman :

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun  dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah ( janji )  itu, maka  mereka itulah orang-orang yang  fasik". [ QS, An Nur 24:55].[MO/sr]




Posting Komentar