Oleh : Suratin Robiyatna SE.Sy

Mediaoposisi.com-Begitulah pengemban dakwah pejuang khilafah. Mereka adalah orang-orang yang terdidik untuk menjadi manusia ikhlas, sehingga setiap kata yang terucap akan menginspirasi begitu pula setiap sikap dan keputusannya.

Akan ada yang menduplikasi 2, 3 bahkan lebih banyak lagi. Baik sebagian dari atau malah secara keseluruhan. Tentang beliau ustadz Hari moekti saya yakin akan bermunculan orang-orang yang mirip atau bahkan menyerupai beliau, karena beliau adalah pejuang khilafah dan beliau menginspirasi. Terutama saya secara pribadi.

Entah kenapa saya yang dulu sering mengikuti kajian beliau teringat saat beliau berkisah tentang keikhlasan. Dimana beliau yang dari awal tenar saat menjadi artis selalu dengan para penggemar yang sangat banyak, saat itu beliau yang juga sudah tenar sebagai da’I mantan rocker pun di uji.

Ketika menejemennya menjadwalkan beliau menjadi iman sholat isya’ sekaligus penceramah. Ternyata beliau yang awalnya hanya diinfokan lokasi wilayah yang akan beliau kunjungi dan agenda dakwah disana. Beliau tidak diberi tahu secara detail lokasi dan kondisinya tempatnya.

Beliau mempersiapkannya dengan sangat baik. Beliau mempersiapkan sampai terbayang seolah yang nanti akan hadir adalah masyarakat luas yang sangat mengenal masa lalu beliau. Sehingga beliau merasa sangat bersemangat dan merasa perlu membuat jamain’ah terinspirasi dengan dakwah beliau.

Tapi ternyata beliau menjelang isya’ hanya diajak mampir di masjid atau mushola yang kecil di pelosok desa dengan jumlah jama’ah yang bisa dihitung jari. Disana beliau merasa dikerjai.

Tapi kemudian beliau tetap mengimami sholat dan kemudian naik mimbar untuk berceramah setelah sholat sampai semua materi yang telah beliau siapkan tersampaikan. Dan dari peristiwa tersebut beliau akhirnya bisa menarik kesimpulan setelah acara, bahwa selama ini beliau belum teruji secara kualitas dalam dakwah.

Karena selalu merasa dapat menguasai forum dengan jumlah peserta yang membludak. Dan saat itu beliau benar-benar merasakan bagaimana caranya agar khutbahnya tetap diterima dan disimak oleh orang-rang yang sama sekali tidak mengenal beliau dan hamper tidak menghargai beliau kecuali sebatas iman dan khotib saat itu.

Dan awalnya beliau merasa tercabik dan dipermalukan. Tapi beliau akhirnya memahami arti tulus ikhlas menjadi pejuang dan pengemban dakwah khilafah.

Dan itu pula yang menginspirasi saya, betapa sekaliber beliau pun tetap berjuang dengan segala kepayahan dan kesulitan justru di usia yang tidak muda dan sering sakit. Beliau memberi contoh makna syabab=pemuda secara istilah bukan sekedar secara harfiah.

Akhirnya saya berkesimpulan, bahwa kontribusi itu lebih utama dibanding status dan posisi. Sekalipun di tengah hutan, dipinggir sungai dan di pelosok pulau peran pengemban dakwah pejuang khilafah itu sangat berharga dan bernilai bagi keterwujudannya penegakkan daulah khilafah.

Jadi setiap diri harus mengoptimalkan setiap potesi tanpa pamrih. Dan dengan begini, sekalipun ia petani, peternak, juru parkir ia akan tetap semangat untuk memberikan kontribusi dakwah, dan akan semakin cepat terwujud penegakkan institusi daulah khilafah ala minhajin nubuwah. Aamiin.
#Harimoektipejuangkhilafah[MO/sr]

Posting Komentar