Oleh : Neti Kusmiati 
   
Mediaoposisi.com- Amerika Serikat (AS) memiliki pemimpin yang begitu besar pengaruhnya di dunia, kita tahu bahwa AS adalah negara adidaya dan ketika AS memiliki presiden yang baik maka besar harapan berbagai pihak, ia bisa ikut memperbaiki nasib dunia. Namun untuk menitipkan harapan seperti itu sepertinya kita harus melihat sejarah dan kebijakan dasarnya.

Sebuah pertanyaan yang cukup penting jika kita mengamati peta negara AS adalah adakah hubungan antara bentuk batas-batas negara bagian yg sangat teratur di AS dengan I,perialisme? 

Pertanyaan ini harus dijawab karena melihat batas -batas diwilayah AS sangat teratur sekali,  berupa garis garis-garis. Banyak negara bagian yg bentuknya persegi panjang.  Betapa berbeda dgn batas batas wilayah yang ada dinegeri indonesia umumnya sangat tidak teratur ,berdasarkan batas-batas alamiah seperti gunung,bukit atau sungai. kondisi wilayah di AS itu tidak terlepas dari sejarah nya.

Bangsa-bangsa eropa penghuni AS di masa awal adalah bangsa peradaban tinggi yg melihat tanah mahaluas menghampar.  Penghuni dari wilayah itu pun hanyalah suku-suku india yg tentu dengan mudah akan mereka kalahkan.

Hal ini membuat AS gampang mempunyai lanskap pembagian wilayah berdasarkan koordinat.  Walau mereka masih tinggal ditimur akan senantiasa pindah ke barat, sehingga tak ada yang kalah  di AS.

Ini tentu sangat berbeda dengan yang diindonesia dimna orang yang kalah akan menjadi tukang becak atau glandangan.

Bila tanah di AS penuh, maka imprealisme adalah solusi bangsa AS.

Pada faktanya,  imperialisme memang menjadi tuntutan bangsa AS. Secara psikologis,  mereka tak siap dengan wilayah yg besarnya tetap. Ketika mereka baru menempati daerah timur. 
Mereka selalu memberikan alasan kepada penguasa wilayah barat sbg " manifest destiny" (takdir nyata)  milik ras kulit putih. Ketika seluruh wilayah negara telah penuh, maka AS memperluasa makna Takdir Nyata keseluruh  pasifik dan atlantik (joel andres, 2004).

Penguasaan Kuba, panama  dn filipina sama sekali tidak dianggap sbg kesalahan oleh mrka.. Krna kenyataanya, kongres AS mendukung serangan itu.  Berikutnya,  pada perang dingin,  AS memperluas lagi makna takdir nyata untuk seluruh dunia, nah ini sudah global lagi makna yg mereka cap kan.

Perbedaan dari setiap partai yang ada adalah terdapat pada kepekaan mereka mencium suara rakyat dan sikapnya pada luar negri. Tpi persoalan imperialisme adalh persoalan psikologis bangsa sejak awal.
Dengan ini sering kali AS memberikan alasan  bhwa itu demi kepentingan nasional.  Bila Presiden AS pertama George Washington masih hidup, ia akan menyetujui perang di iraq. 

Sistem ekonomi eksploitatif
Mengenai kebijakan ekonomi  AS yg mesti kita amati adlah ciri khas sistem ekonomi mereka. Ekonomi negara ini dipelopori oleh Para Konglomerat AS yang menguasai timur  laut AS dimasa revolusi serta berjasa mendanai AS untuk bebas dari kekhaisaran inggris.

Revolusi AS 1776, yang memerdekakan AS dari inggris berbau anyir revolusi "orang kaya". Revolusi ini didukung oleh konglomerat yg sejak jaub seblm masa revolusi telah menjadi pengusaha status quo diwilayah timur itu,  karenanya revolusi ekonomi AS itu sejatinya didukung oleh para kapitalis kaya. 

Dengan latar belakang sistem ekonomi seperti ini, maka sistem ekonomi ini bervisi menjadi AS dengan negara yang berkekuatan besar yang memberikan keleluasaan yang luar biasa pada kekuatan dagang untuk bersaing dengan kekuatan dagang yang disegani di dunia . Hal ini lah yang menjadi dasar kehancuran ekonomi dunia karena yang menjadi dasar pijakkanya adalah eksploitatif.

Sistem ekonomi AS berpijak pada kapitalisme klasik yang dibawa oleh adam smith.  Solusi sistem ini mengatakan bahwa negara tidak boleh campur tangan,  biarkan infuvidu menjalankn roda ekonomi nya sesuai keinginan mereka sendri karena ekonomi akan berjalan apa adanya.

Fenomena ini menyebabkan AS cenderung menyerahkan  seluruh urusan ekonomi ke swasta . Sementara swasta sesuai dengan orientasi mereka adlh bisnis bukan pelayanan- tujuan mereka adalah keungan bukan pemerataan dn kesejahteraan. Penyebabnya banyak rakyat AS itu sendri terekploitasi sebagai konsumen dan buruh.

Serta para politikus sebagai abdi kekuasaan bisnis . Hal ini diperparah dengan hadirnya para penguasa pengusaha besar akibatnya kesenjangan terjadi secara signifikan. Prof Noreena Hertz mengatakan sewasta  bukan tak bermoral, tpi menyerah kan ekonomi secara penuh kepada swasta adalah salah alamat .

Inilah istilah yang tepat untk sistem yg demikian, dari perusahaan oleh perusahaan  untuk perusahaan.  Dan kondisi ini menjadi kn para politisi pejuang dunia untuk menjadi kn AS pembisnis menguasai dunia.  Negara-negara ketiga tidak akan pernah bisa mengalahkan dn menjalankan fungsi nya krna dikendalikan oleh konglomerat dunia.

Oleh karena itu memahmi sejarah AS yg imperialis serta kebijakan ekonomi yg eksploitatif, tentu tak selayaknya kita melihat AS kedepan semata dgn melihat siapa presidennya dan bgtu dengan indonesia hari ini. [MO]

Posting Komentar