Oleh: Ahmad Khozinudin, S.H.
(Advokat, Aktivis Hizbut Tahrir)

Mediaoposisi.com- Pagi itu, Ahad 27 Mei 2006 penulis terpelanting dari kamar tidur. Getaran dahsyat pada bumi menghantarkan seisi penghuni kos berhamburan keluar. Semua saling menatap dan bertanya, ada apa gerangan. Belum ada info yang memberi kabar atas kejadian barusan.

Saat itu, penulis menduga yang terjadi gempa vulkanik akibat gunung Merapi meletus.

Sebab, pada hari-hari sebelumnya penulis yang masih mahasiswa dan selaku Ketua BEM FH UM.Magelang, bersama aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Magelang (IMM), sering berkunjung bolak-balik dari kampus di Jl. Tidar Magelang ke pusat siaga Merapi di dusun Srumbung, untuk antisipasi meletusnya gunung Merapi yang beberapa kali terlihat aktif.

Sejurus kemudian, beredar kabar melalui radio bahwa telah terjadi gempa bumi di Jogjakarta. Beberapa layanan telekomunikasi seluler di jogja mati. Radio Retjo Buntung, adalah radio yang paling aktif mengabarkan situasi terkini ketika itu.

Beberapa hari kemudian, banyak lembaga sosial, aktivis kemanusiaan, tdk terkecuali HTI Wilayah DIY membuka posko Tabbani Masalih Jogja (posko penanggulangan bencana gempa jogja). Penulis, saat itu selain menjalani aktivitas sebagai mahasiswa hukum juga aktif mengkaji pemikiran Islam yang disampaikan aktivis HTI daerah Magelang.

Singkat cerita, penulis Ikut rombongan Syabab HTI Magelang pergi ke jogja untuk menjadi Relawan membantu korban bencana gempa jogja.

Penulis lupa tempat pastinya, tetapi seingat penulis ketika itu kami ada di wilayah kabupaten Bantul. Ciri lokasi yang paling diingat, posko dekat dengan masjid dan ada pol armada bus tetapi tidak terlalu besar.

Kami dari Magelang bekerjasama dengan Syabab HTI yang berasal dari wilayah jogja. Karena aktivitas recovery fisik telah banyak dilakukan ormas atau relawan yang lain, saat itu kami lebih fokus mengambil program mental recovery dan penyaluran bantuan sosial.

Termasuk layanan kesehatan, karena ada beberapa muslimah HTI Jogjakarta yang berstatus dokter, KoaS, dan perawat, ada juga yang menempuh pendidikan jurusan kedokteran diperbantukan.

Program pertama, kami melakukan pembenahan masjid agar layak untuk sholat dan bisa menjadi sarana mengumpulkan warga untuk program pembinaan. Para Syabab HTI spesialis "ndongeng", banyak mengurusi anak anak, dengan program TPA darurat dan kombinasi berbagai permainan.

Tapi bagi kami yang ada di bagian pembinaan mental para orang tua, kami kesulitan untuk bisa mengumpulkan warga korban bencana. Mereka begitu terpukul, dan terhadap para relawan belum terlalu kenal. Jadi butuh program pengakraban.

Lantas, seorang Syabab memberi tahu seorang ustadz mantan Rocker dari Jakarta, mau bertandang keliling jogja untuk memberikan ceramah agama. Beliau adalah Ust Hari Moekti.

Akhirnya kami mengejar tim manajemen untuk mendapatkan jadwal. Alhamdullilah, Ust Hari Moekti berkenan singgah memberi ceramah agama di posko yang kami dirikan.

Ala kuli hal, kami membagi tugas. Saat itu, penulis kebagian tugas dengan beberapa Syabab untuk mendatangi kafilah-kafilah korban gempa, untuk mengundang hadir mengikuti pengajian yang diisi oleh seorang da'i mantan artis terkenal.

Dengan bahasa kromo inggil sebisanya, penulis mendatangi, mengenalkan diri, mengundang, dan meyakinkan agenda pengajian banyak manfaatnya. Dari satu titik korban bencana ke titik-titik lainnya.

Akhirnya, hari H telah tiba. Tak kurang 500 an jamaah, pria dan wanita hadir dalam pengajian yang diselenggarakan di masjid. Ust Hari Moekti, tentu saja pada awal pengajian menyitir beberapa penggalan syair lagu andalannya (ini ciri khas ceramah almarhum), sekedar untuk memantik ingatan dan ketertarikan peserta.

Gaya ceramah renyah, lugas, sistematis, diselingi humor logis, membuat peserta asik duduk hingga hampir 2 jam. Terlihat, wajah peserta mengkonfirmasi semburat keterhiburan dan tambahan pengetahuan.

Setelah selesai, Ust. Hari Moekti langsung pamit, untuk mengunjungi posko lainnya yang juga sudah menjadwal ceramah. Penulis, tidak sempat berbicara khusus dengan almarhum ketika itu.

Pada tahun 2009 penulis hijrah ke Jakarta, penulis lebih sering berinteraksi dan mengikuti orasi-orasi memukau beliau pada gelaran agenda masyiroh yang diadakan HTI. Juga di berbagai Tablig Akbar dimana beliau tampil sebagai Penceramahnya. Meski tidak sampai akrab, setidaknya penulis jadi lebih dekat mengenal beliau.

Tidak terasa, pada Ahad  malam tanggal 24 Juni  2018 (kemarin), beliau dipanggil Allah SWT. Ada perasaan kaget, sedih, haru, sekaligus gembira dan bahagia. Penulis haru dan sedih, karena sosok yang menginspirasi itu telah pergi.

Sosok yang banyak menjadi panutan kafilah-jafilah umat untuk hijrah kembali kepada Islam. Gembira dan bahagia, karena beliau meninggal dalam keadaan iman Islam, dalam keadaan Istiqomah sebagai pejuang Khilafah. Karenanya, penulis ridlo dan ikhlas atas kepergian beliau.

​اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّهِ مِنْ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنْ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ أَوْ مِنْ عَذَابِ النَّارِ.

Semoga Almarhum Ustadz Hari Moekti husnul khotimah, diterima segala amal ibadahnya, diampuni dosa-dosanya dan diberikan tempat yg mulia di sisi الله سبحانه وتعالى dalam jannah-Nya serta keluarga yg ditinggalkan diberikan kesabaran dan ketabahan.[MO/sr]


Posting Komentar