Oleh: Reka Nurul Purnama
(Mahasiswi STAI Yapata Al-Jawami Bandung)

Mediaoposisi.com- Menjelang pilkada 2018 pemilihan gubernur dan wakil gubernur, ramai berbagai kampanye digencarkan oleh seluruh pasangan calon, partai pengusungnya dan para aktifis dan relawannya.

Mulai dari sosialisasi program ketika terpilih, janji-janji manis kepada masyarakat kalangan bawah, iklan di layar televisi sampai baliho foto pasangan calon yang memenuhi sepanjang jalan raya akhir-akhir ini. Semua ini tidak lepas dari besarnya harapan paslon dan partai pengusungnya untuk menang dalam pilgub nanti.

Tidak ada paslon dan partai pengusung yang menginginkan kekalahan, semua ingin menang. Semua yang mencalonkan diri sama-sama ingin menjadi pemimpin di daerahnya.

Perjuangan para paslon untuk menang pada pilkada tanggal 27 Juni 2018, suasana dan pemandangannya sama dengan pilkada yang sudah berlangsung dulu, tidak ada beda, karena beginilah "cara main" paslon untuk menjadi seorang pemimpin daerah.

Yang menarik, dahulu justru terjadi sebaliknya dari sekarang. Yaitu ketika kehidupan ada dibawah kepemimpinan sistem Islam (Khilafah). Dulu jangankan mengajukan diri menjadi pemimpin,  ada yang menunjuk untuk menjadi pemimpin saja ditolak, karena sadar akan beratnya tanggung jawab menjadi pemimpin.

Seperti yang terjadi pada masa khulafaur Rasyidin, yakni khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar bin Khattab, Khalifah Utsman bin Affan dan Khalifah Ali bin Abi Thalib. Terpilihnya keempat Khalifah setelah meninggalnya Rasulullah Saw, menyimpan kisah dan pelajaran luar biasa. Seperti kisah menarik dari terpilihnya Abu Bakar As-Siddiq sebagai Khalifah.

Di Bukit Saqifah umat berkumpul untuk memilih pemimpin pengganti Rasulullah Saw dan di depan umat itulah Abu Bakar berpidato agar umat memilih Umar atau Abu Ubaidah. Tapi keduanya menolaknya.

Bahkan Umar dan Abu Ubaidah bersepakat untuk membaiat Abu Bakar. Belum juga mereka menjabat tangan Abu Bakar, Basyir bin Sa’ad yang berasal dari kaum Anshar, menjabat tangan Abu Bakar dan langsung membaiatnya.

Dari sini lalu khalayak membaiat Abu Bakar, baik dari kalangan Anshar, Muhajirin, dan tokoh Islam lainnya. Abu Bakar tidak lagi sanggup menolak amanah yang diberikan umat kepadanya.

Lalu kisah Umar bin Khattab -yang sempat menolak untuk menjadi pemimpin sepeninggal Abu bakar- menangis ketika dilantik menjadi seorang Khalifah. Orang-orang pun bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, mengapa engkau menangis menerima jabatan ini?”.

"Aku ini keras, banyak orang yang takut padaku. Kalau aku nanti salah, lalu siapa yang berani mengingatkan?”. Begitupun yang terjadi pada Utsman bin Affan, yang terpilihnya beliau menjadi pemimpin setelah Umar, memerlukan waktu tiga hari tiga malam sampai memutuskan Utsman sebagai Khalifah.

Adapun Ali bin Abi Thalib sempat bersikukuh menolak untuk menjadi pemimpin, namun dukungan umat terlalu besar, sehingga Ali bin Abi Thalib pun menjadi Khalifah semata-mata untuk melanjutkan dakwah Islam, amanah dari sang Ilahi.

Lalu kita dapati perbedaan yang signifikan terjadi pada zaman dimana Islam berjaya dengan zaman sekarang dimana Barat yang berkuasa. Di zaman kekhilafahan seorang pemimpin sadar betul tanggung jawabnya menjadi pemimpin sangat berat, sehingga dia sungguh-sungguh menjadi pemimpin yang adil, amanah.

Mereka berhasil menjalankan peran pemimpin sebagi Pelindung dan perisai bagi umat, yaitu terdepan membela ketika ada pelecehan dan penindasan kepada umat misalnya yang pernah dilakukan oleh Khalifah Mu'tasim Billah.

Melindungi umat dari kemiskinan, kebodohan, kemaksiatan, yaitu dengan menerapkan aturan-Nya dalam negara, Khalifah Umar bin Abdul Aziz terbukti berhasil mensejahterakan rakyatnya pada masa kepemimpinannya.

Riuh ramai pilkada, seharusnya tidak melenakan kita dari menyadari bahwa pertama, suatu saat di yaumul hisab seorang pemimpin akan dimintai  pertanggungjawaban atas dirinya dan rakyat seluruhnya, apabila dia berlaku adil dan berhasil mensejahterakan rakyatnya secara materil maupun moril, maka dia akan mendapatkan balasan kebaikan.

Begitupun ketika dia berlaku tidak adil dan banyak menyengsarakan rakyatnya, maka akan ada balasan atas kedzaliman yang dilakukannya. Kedua, pemimpin seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali tidak mungkin terlahir di sistem selain islam. Sadar tanggung jawab sebagai pemimpin hanya akan terwujud pada sistem yang membuat seorang pemimpin takut kepada Allah sang Pencipta.[MO/sr]

Posting Komentar