Oleh: Trisnawati 
(Pembina BEM STIKes MSB)

Mediaoposisi.com- Dunia dakwah kembali kehilangan sosok dai terbaik dan sosok yang memberikan inspirasi dalam keteguhan berhijrah. Dari seorang rocker papan atas memilih untuk hijrah.
 Pria kelahiran Cimahi yang bernama asli Hariadi Wibowo, memulai karir keartisannya sebagai penyanyi Rock (Rocker) tahun 1987. Suatu hari dia bertemu seorang produser rekaman yang mendengarnya bernyanyi lalu menawarinya rekaman kepada Hari Mukti.

Saat itulah kehidupan Hari Moekti berubah, dari seorang remaja biasa menjadi artis yang tenar, dan terkenal di seluruh penjuru tanah air. Saat itu tidak ada seorang remaja pun di Indonesia yang tidak tahu nama Hari Mukti, rocker terkenal sekaligus idola mereka.

Beliau menjadi sosok yang ditiru dan role mode bagi kalangan remaja saat itu seperti gaya celana jean sobek. Jadi saat itu jika ada remaja yang pakai celana jean kok gak sobek, berarti gak gaul.

Namun kehidupan yang glamor, serba berkecukupan tak lantas membuat beliau bahagia dan tentram. Hingga pada Ramadhan 1995, beliau diundang dalam acara dialog interaktif ‘Buka Puasa Bersama Artis’ di SMAK Analisis Kimia Bogor. saat itulah pintu hijrah terbuka dan hidayah menghampirinya melalui seorang dai muda.

Darinya seorang rocker mengagumi cara berfikir yang begitu mencerahkan akal. Beliau mendapatkan pencerahan tentang kepemimpinan berfikir yang menjadi landasan bagi seorang yang beiman dalam berfikir dan bersikap yaitu kepemimpinan berfikir islam.

Islam yang seharusnya menjadi rujukan bagi seorang hamba, tidak hanya dalam beribadah namun juga dalam melakukan aktifitas apa pun harus bersandarkan kepada syariatNya.

Sejak saat itu cara berfikir beliau mulai berubah perlahan namun pasti juga memberikan pengaruh pada prilaku Beliau.  Beliau akhirnya memilih meninggalkan "kesenangan dunia" dengan hijrah dan memilih mencari rizki dengan cara yang halal walau harus jatuh dalam kebangkrutan.

Beliau akhirnya benar-benar memahami islam saat itu. Walau beliau telah beragama islam sejak lahir namun saat setelah hijrah dan mengikuti kajian-kajian islam yang menyeru kepada islam kaffah dengan menerapkan syariatNya, akhirnya beliau paham tentang islam kaffah.

Islam yang memberikan rahmatan lil 'alamin bagi seluruh dunia dan seisinya. Bagaimana seorang muslim beramal dengan agamanya. Jika sebelumnya beliau beramal karena ketenaran dan mencari kesenangan. Namun amal beliau di ibaratkan seperti lilin, yang menerangi orang lain namun menghabisi diri sendiri.

Begitulah amal atau aktivitas seorang artis. yang menjadi panutan dan role mode namun menghabisi diri dengan dosa yang terus mengalir.

Pemikiran dan aktivitas beliau pun berubah. Yang dulunya dari panggung ke panggung untuk bernyanyi ala rocker, namun sekarang dari panngung ke panggung, dari mesjid ke mesjid, dari kota ke kota beliau menyebarkan islam dan menjadi dai yang energik dan inspiratif. Bahkan sebuah video yang viral sebelum akhirnya beliau wafat diusianya yang 61 tahun tepatnya 24 juni 2018.

Di video tersebut dalam kondisi sakit pun beliau tetap mengingatkan akan islam kaffah yang memberikan rahmat bagi seluruh alam yang hanya dapat di rasakan ketika islam dan syariatnya diterapkan dalam bingkai khilafah.

Bahkan nasyid yang begitu dikenang oleh para pengemban dakwah lainnya dengan judul " Indonesia Milik Allah" berikut beberapa bait nasyid tersebut:

Indonesia Milik Allah
Kembalikan kepadaNYA
Indonesia Milik Allah
Terapkan Syariat Muliakan kita
Indonesia Milik Allah
Kami taqwa kepadaNYA
Indonesia Milik Allah
Pasti cemerlang dengan Khilafah

Biarlah engkau dikenang sebagai pejuang syariah dan khilafah karena kata-kata itu yang selalu engkau ucapkan, bukan sebagai mantan rocker. Biarlah hijrahmu karena syariah dan Khilafah karena dengannya engkau meninggalkan dunia penuh kemaksiatan ke dunia yang penuh dengan dakwah dan perjuangan.

Selamat Jalan pejuang syariah dan khilafah kami akan melanjutkan perjuanganmu. Semoga Allah memberikan tempat yang terbaik bersama Rasulullah dan para pengemban dakwah lainnya. Aamin ya Rabba'alamin.[MO/sr]

Posting Komentar