Oleh : Nida Husnia 

Mediaoposisi.com-  Syahru Ramadhan adalah momen yang paling ditunggu seluruh kaum Muslim. Masjid-masjid dan surau-surau dipenuhi jamaah tarawih. Lantunan Qur’an dalam kegiatan tadarus selepas tarawih begitu indah didengar. Televisi dan radio berlomba-lomba mengadakan agenda musabaqoh tahfidz dan tilawah Qur’an, ceramah, bahkan iklan sirup yang masyhur senantiasa mampir disela acara.

Menjelang berbuka jalan raya dipenuhi aksi bagi takjil, para pedagang pun bersiap mendirikan stand dagangannya. Tak ada momen yang paling berkesan selain momen Ramadhan, tapi itu tidak berlaku dinegri saudara kita.

Di Palestina, Ramadhan mereka menjadi pilu. Sebab Kedubes Amerika telah meresmikan kantor kedutaannya di Yerussalem. Al-Quds direbut dengan paksa, sehingga kaum Muslim disana melaksanakan tarawih dibawah langit kelam, masih dengan kekhawatiran akan datangnya serangan udara maupun darat dari tentara Israel.

Merebut tanah kehormatan kaum Muslim saja tidak cukup. Sejak 30 Maret 2018, sudah ada sekitar 112 warga sipil tidak bersenjata yang dibunuh militer Israel dalam aksi protes menuntut hak rumah dan tanah yang dirampas. Sedang militer Israel hanya mendapati 3 tentaranya yang luka ringan. (m.liputan6.com)

Pada 30 Mei 2018, zionis Israel melancarkan serangan bomnya ke sebuah sekolah bernama SMA Abdullah bin Rawahah di Gaza. Bom tersebut jatuh saat para siswa melaksanakan ujian, namun Alhamdulillah tidak ada siswa yang terluka. (sahabatalaqsha.com)

Di Afghanistan, serangan roket militer Amerika Serikat sebagaimana yang dilaporkan pada (31/5/2018) meghantam 2 rumah, menewaskan 5 warga sipil dan 3 lainnya terluka. Di wilayah Loghar, serangan militer Amerika menewaskan 3 polisi dan melukai 12 orang lainnya. (internasional.sindonews.com)

Belum lagi di Rohingya, Suriah, dan negara konflik lainnya. Bagaimana mereka sahur dan dengan apa mereka berbuka? Sedangkan rumah dan hartanya habis dibantai oleh penjajah. Kaum Muslim kini berada dalam keadaan terhimpit, sesak oleh tekanan dan kediktatoran Barat yang menjadikan para penguasa negri-negri Muslim sebagai alat untuk mewujudkan cita-citanya menguasai dunia.

Tak ada pelindung dan pembela para Muslim yang disiksa, diusir, dibunuh, bahkan anak-anak yang tak tahu cara melempar kerikil pun menjadi sasaran tembakan militer penjajah. Apa yang bisa dilakukan penguasa Muslim dalam hal ini? Mengecam, satu-satunya hal yang bisa dilakukan hanya mengecam perilaku biadab zionis Israel, Rusia, Amerika dan lainnya. Kecaman itu tak sebanding dengan kekuatan militer mereka yang terus melakukan serangan bombardir.

Ramadhan kita bukan Ramadhan bahagia, karena saudara kita disana menangis dan terlunta-lunta hidupnya. Setiap hari aktifitas  mereka adalah menunggu giliran mati sembari melakukan perlawanan dengan persenjataan seadanya. Bantuan  makanan dan perlengkapan rumah tangga bukan solusi real yang bisa menyelamatkan mereka. Sebab yang dilakukan militer penjajah adalah serangan dengan senjata, rudal, dan bom. Dan serangan harus dilawan dengan serangan serupa.

Mengingat kisah seorang Khalifah bernama Mu’tashim Billah Abu Ishaq yang menyiapkan pasukan sepanjang gerbang istana Khalifah (Baghdad)  hingga kota Ammuriah (Turki) demi membela budak perempuan yang dilecehkan sekumpulan orang Romawi saat berbelanja di pasar. Satu orang dilecehkan, ribuan pasukan dikerahkan. Hari ini, ribuan muslim dibantai, tak satupun militer diberangkatkan.

Kekosongan Khilafah selama 94 tahun  ini menyebabkan malapetaka bagi kaum Muslim. Sejak keruntuhan Khilafah Utsmaniyah kaum Muslim mulai diperlakukan semena-mena. Bahasa Arabnya dihapus, al-Qur’an nya dilecehkan, syariatnya dibuang, mereka mengalami penyiksaan tanpa ampun. Peradaban gemilang dunia Islam telah diporak-porandakan.

Terlebih lagi di bulan Ramadhan ini saudara kita di daerah konflik tak bisa menjalankan ibadah Ramadhan dengan tenang dan khusyuk.

Tak ada penyelesaian lagi selain dengan tegaknya Khilafah. Karena hari ini Kapitalisme terbukti membungkam pembelaan terhadap Muslim. Sistem Khilafah bukan ancaman, ia adalah kebutuhan seluruh kaum Muslim saat ini. Apalagi berhukum dengan hukum syara’ adalah kewajiban bagi setiap Muslim. إن الحكم الاّ للّه "Tidak ada hukum yang lebih baik selain hukum Allah".[MO/sr]
 







Posting Komentar