Oleh: Isnani Az Zahidah

Mediaoposisi.com-  Masih ingat berita setahun lalu terkait dengan tepuk anak sholih yang dipersoalkan? Ketua Himpaudi Banyumas, Khusnatul Mufidah meminta lagu anak sholih dihentikan atau syairnya diubah. Pasalnya syair yang diakhiri ‘Islam Yes, Kafir No, dianggap intoleran (Republika.co.id/28/7/17).

 Kondisi ketakutan akan metode dan cara pendidikan terhadap anak berbasis Islam kembali terulang lagi saat ini, yaitu tuduhan bahwa penyebaran paham radikalisme berpotensi bisa menyebar melalui sekolah informal, khususnya sekolah rumah atau homeschooling tunggal yang diadakan oleh orang tua dalam satu keluarga.

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat Kemendikbud Harris Iskandar tak menampik homeschooling tunggal mungkin menjadi sarana baru bagi orang tua mengajarkan radikalisme pada anak. Hal ini terkait anak-anak pelaku teror bom bunuh diri di Surabaya dan Sidoarjo yang merupakan korban indoktrinasi orang tuanya. Mereka tidak mendapat pendidikan formal dan dipaksa mengaku homeschooling (CNNIndonesia.com, Jumat (18/5).

Masih menurut Harris,  homeschooling sebagai lembaga yang dapat menyebarkan bibit radikalisme maka harus ada pengawasan pembelajarannya meski  pengawasan pembelajarannya tidak akan semudah sekolah formal pada umumnya.

Pendidik PAUD dan homeschooling kebanyakan kaum perempuan dan ibu, karena mereka identik dekat dengan anak-anak, tahu dengan dunia anak dengan segala macam permainannya. Kalau hanya permainan tepuk anak sholih saja diduga bisa menjadikan anak-anak radikal maka itu tuduhan yang berlebihan. Pasalnya makna ‘radikal’ jika identik dengan terorisme dan kekerasan maka apa korelasinya antara bermain tepuk dengan fakta kejadian tindak kekerasan dan teroris?

Jika alasanny karena isi dari tepuk itu semisal penggunaan kata ‘kafir’, merupakan penanaman bibit ekstrimis dan radikalisme maka itu tuduhan yang lahir dari orang-orang yang ketakutan terhadap Islam (islamophobia). Ketakutan jika penggunaan kata ‘kafir’ mengancam keberagaman dan berpotensi menciptakan konflik.

Perempuan, Keluarga, dan Radikalisme

Radikalisme sudah mengakar dalam keluarga, demikian menurut Ketua umum PBNU Said Aqil Siroj. Kasus deportasi WNI melibatkan anak-anak oleh otoritas Turki yang diduga ingin masuk ke Suriah sebagai pusat ISIS. Sejak 2014 ISI telah menjadi asarana bagi Barat untuk menyudutkan Islam, atas semua aktivitas yang disebut radikal dan ekstrim. 

Agar radikal tidak menyasar ibu-ibu, Rakernas Fatayat NU di Palangkaraya, Kalteng merekomendasikan dakwah berbasis keluarga melalui penanaman nilai-nilai Islam Nusantara sebagai penangkal gerakan radikal (epaper1.kompas.com/2017). Imam Besar Masjid Istiqlal Prof Nasarudin Umar berpendapat penyebaran bibit radikalisme dapat ‘diamputasi’ di level keluarga dengan membekali ibu rumah tangga dengan pemahaman nilai kebangsaan (republika.co.id/31/8/17).

Lalu mengapa narasi radikalisme harus dihubungkan dengan perempuan dan keluarga? Muaranya adalah kerja pemerintah yang tertuang pada Kegiatan Prioritas Nasional Penanggulangan Terorisme dalam RPJMN (rencana Pmbangunan Jangka Menengah Nasional) 2014-2019, yangmenunjuk BNPT sebagai coordinator penanganan terrisme.

BNPT menggandeng 27 kementrian dan lembaga negara (3/1/2017) diantaranya TNI dan polri, Kenesos, Kemendikbud, Kemenristek, Kemenristekdikti, Kemenag, Kemenhuk-HAM, Kemenkominfo, Kemenaker, Kemendagri, Kementrian Pemuda danOlahraga, PPATK, Kemendes, Kemenkop-UKM, juga Kementrian Perempuan Perlindungan anak (KPP PA).

Di akhir tahun 2017 KPP PA menyelenggarakan Simposium Nasional “Peran Ibu untuk Perdamaian di Jakarata dalam rangka Peringatan hari Ibu ke 89. Kegiatan yang diikuti perempuan dari berbagai ormas, organisasi perempuan dan Kepala Dinas di lingkungan KPPA PA seluruh Indonesia, akademisi dan penelitian bertujuan agar kaum perempuan dapat berperan dalam pembentukan karakter dan menumbuhkan rasa cinta perdamaian di keluarga dan masyarakat "(Republika.co.id/4/12/17). Tentu saja yang dimaksud adalah karakter yang sejalan dengan ide Islam moderat

Propaganda Barat untuk menyerang Islam.  

Di zaman modern, penjajahan secara fisik (militer) tidak menonjol lagi dan sudah tidak popular. Meski demikian nafsu kolonial masih belum bisa dihapuskan dan mucul dalam bentuk wujudnya yang baru, dalam gaya yang lebih halus dan membuai daripada gaya penjajahan model lama.

Lihat saja dominasi negara-negara besar dalam bidang politik, ekonomi, militer, dan kultural, masih dipertahankan melalui berbagai organisasi internasional semacam PBB, Dewan Keamanan, Bank Dunia, IMF, UNESCO,  dan sebagainya. Berbagai organisasi itu tidak lebih dari semacam alat untuk menjalankan kolonialisme bentuk baru.

Belum lagi keberadaan Rand Corporation yaitu Pusat Penelitian dan Kajian Strategis tentang Islam di Timur Tengah dimana dana operasionalnya berasal dari proyek-proyek penelitian pesanan militer.

Sebagai lembaga think-tank (gudang pemikir) AS yang memberikan jasa informasi kepada Pentagon, Rand Co menciptakan suatu agenda dan strategi AS di masa depan mengenai perang melawan terorisme, isi dokumen Rand Co menyimpulkan bahwa AS harus menghentikan “perang melawan teror”-nya dan mengubah strateginya dalam melawan terorisme, dari strategi yang mengandalkan kekuatan militer menjadi strategi yang lebih mengandalkan kebijakan dan kerja-kerja “intelijen”. 

Tahun 2007, Rand menerbitkan sebuah dokumen berjudul “Building Moderate Muslim Networks”, secara jelas Rand Co bertujuan membangun jarigan muslim moderat untuk memecah belah umat Islam. Isi dokumen ini memuat langkah-langkah membangun Jaringan Muslim Moderat pro-Barat di seluruh dunia yang terdiri dari elemen intelektual, pemuda, ulama, jurnalis dan elemen lainnya. AS mendukung jaringan Muslim moderat sebagai pihak yang bersebrangan dengan Islam radikal.

Termasuk di kawasan Asia Tenggara, Indonesia dengan penduduk muslim terbesar, menjadi mitra potensial untuk melawan radikalisme dengan ide moderasi Islam.

Sebagai perlawanan terhadap kemunculan radikalisme Islam, Barat menciptakan narasi Islam moderat untuk dijejalkan pada benak umat. Karakter Islam moderat yang dibentuk Barat adalah seseorang yang menerima budaya Barat yakni mendukung demokrasi, mengakui HAM –termasuk kesetaraan gender dan kebebasan beragama, menentang terorisme dan kekerasan –sesuai tafsiran Barat (Published 2007 by the Rand Corporation).

Untuk mengaruskan dan melaksanakan program-program sesuai arahan Rand Co maka Barat dalam hal ini AS memakai para penguasa di negeri-negeri muslim yang notabene mereka adalah kaki tangan  atau penguasa boneka AS.

Di Indonesia dilakukan efektif oleh seluruh stake holder, lembaga formal dan non-formal dan juga kelompok masyarakat. Hal ini tertuang pada Kegiatan Prioritas Nasional Penanggulangan Terorisme dalam RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) 2014-2019. 

Sadarlah Wahai Kaum Muslim

Sudah sangat jelas bahwa Barat berusaha untuk melemahkan Islam dan kaum muslimin dengan cara-cara yang terencana dan strategis melalui propaganda serangan pemikiran. Berbagai macam propaganda negatif diberikan seperti  Islam ekstrimis, fundamentalis, radikalis, dan teroris . Semua propaganda diaruskan untuk menciptakan Islamophobia bagi masyarakat dunia tidak terkecuali bagi kaum muslimin sendiri.

Kaum muslim akan semakin menjauh dari keislamannya. Tidak akan menjalankan Islam secara kaffah, terutama dengan propaganda Islam moderat semakin menjauhkan kaum muslim dari ajaran Islam yang sempurna sebagai agama dan ideologi. Islam sebagai ideologi yang harusnya  mulai ditanamkan dan dipahamkan sejak dini dalam lingkup keluarga merupakan suatau ancaman sehingga harus diawasi.

Islam sebagai sebuah ideologi yang harusnya dilaksanakna dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, dikerdilkan dan dicukupkan sebagai agama ritual saja dan  menafikkan peran politik dengan malna politik yang sesungguhnya menurut Islam.

Muslimah mengharuskan meyakini bahwa orang-orang kafir tidak akan berhenti untuk memerangi kaum muslimin dengan berbagai macam cara. Muslimah mengharuskan memahami Islam kaffah selain juga mengajarkan untuk keluarga dan masyarakat. Muslimah mengajarkan Islam kaffah pada generasi sejak dini dalam rangka menjalankan perintah Allah untuk menyiapkan generasi peradaban cemerlang seperti masa kejayaan Islam.

Kaum muslim mengharuskan mempunyai bekal bukan hanya bekal pemahaman Islam sebagai agama ritual tetapi pemahaman Islam sebuah ideologi yang mengatur semua urusan kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Mendapatkan bekal dengan cara mengkaji Islam secara kaffah dan selalu mengikuti perkembangan politik dalam negeri maupun luar negeri.
Meskipun sebagai seorang muslimah juga tidak akan tabu untuk mengikuti berita perpolitikan sebagai bekal seorang muslimah ideologis.[MO/sr]


Posting Komentar