Oleh : Arlianah 
(Mahasiswi STEI Hamfara Yogyakarta)

Mediaoposisi.com- Indonesia kembali dikabarkan dengan fenomena yang selalu terulang. Tidak kalah penting untuk menjadi pembahasan adalah masalah keuangan suatu negara. Perekonomian suatu negara sangat ditentukan dengan sistem keuangannya. Sehat atau tidaknya pengelolaan dana menjadi standar penilaian pertumbuhan ekonominya.

Utang pemerintah RI kian menumpuk. Totalnya mencapai Rp 4.180,61 triliun hingga April 2018. Jumlah ini melonjak menjadi Rp 44,22 Triliun dibanding posisi Maret sebesar Rp 4.136,39 Triliun. (Liputan6.com)

Waktu lalu hingga saat ini, Indonesia masih berada pada posisi yang sama bahkan lebih menderita. Tidak ada kemandirian yang terlihat dari tanah air ini. Sumber daya alam yang melimpah justru membuat negeri ini manja dan berbuat semaunya seakan merasa negeri kaya ini tidak akan berada pada posisi bangkrut, nol , bahkan minus.

Dalam pemenuhan kebutuhan tanah air , negara mengambil suatu satu jalan yang disebut hutang . Bukan hanya kepada pihak dalam negeri, namun luar negeri selalu turut diikutsertakan. Nyatanya ini merupakan penjajahan dengan gaya baru. Negara kreditur secara halus masuk ke negeri-negeri lemah untuk merekrutnya menjadi boneka. Dan sayangnya, target ini tidak sadar bahkan menilai ini sebuah peluang untuk menciptakan kesejateraan dan pertumbuhan ekonomi dalam negeri.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa utang kepada luar negeri sejatinya tidak bisa dijadikan solusi atas permasalaahan ekonomi negeri ini karena hal demikian justru membukakan jalan yang lebih praktis kepada penjajah untuk menghancurkan negeri sasarannya . Melalui utang tersebut, pihak kreditur dengan bangga hati semakin mudah melakukan penjajahan dengan mengambil alih sumber daya alam negeri dengan dalih pengembalian pinjaman.

Namun, tau kah kita dampak yang ditimbulkan oleh peminjaman dana tersebut ? tentu negara debitur harus siap mengikuti aturan main dari kreditur, siap menerima risiko . Dalam sistem ekonomi kapitalis , tidak dinamakan utang jika bunga tidak diikutsertakan. Seakan-akan kedua hal ini memang sebuah pasangan yang tidak bisa dipisahkan.

Inilah akar permasalahan dari keuangan Indonesai yang semakin lama justru semakin mengerikan. Hal tersebut dikarenakan oleh adanya pelanggaran yang dilakukan negeri ini , yakni mengambil riba pada saat peminjaman uang tersebut . Dalam Al-Qur’an Allah swt berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُّضَاعَفَةً وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat-ganda dan bertaqwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapatkeberuntungan.” (Q.S. Ali Imran: 130).

Maka , tidak akan ada pertumbuhan ekonomi selama tata kelola sumber daya masih menggunakan sistem dan struktur yang lemah bahkan menyimpang dari Peraturan Pencipta. Luar negeri yang mengadopsi bunga peminjaman menjadikan negeri debitur semakin kesulitan untuk membayar pinjaman tersebut.

Inilah sesungguhnya cara mereka untuk menguasai negara tetangga. Apabila terus begini, bukan pertumbuhan yang terjadi. Seharusnya sebagai negeri yang melimpah kekayaannya, bisa mengubah pola  praktis menuju pola solutif.[MO?sr]

Posting Komentar