Oleh : Eva Yulia
(Aktivis Mahasiswa)

Mediaoposisi.com- Pemerintahan Adil
Masa Kepemimpinan Umar Bin Khattab selama lebih dari sepuluh tahun  sebagai Amīrul Mukminīn dan kepala pemerintahan penuh dengan capaian prestasi.  Umar Bin Khattab sebagai Khalīfah tidak sekadar kepala negara dan kepala pemerintahan, lebih-lebih dia sebagai pemimpin umat.
Ia sangat  dekat dengan rakyatnya dan berusaha menempatkan diri sebagai salah seorang  dari mereka. Meski telah masuk Islam, peranannya bagi masyarakat jahiliah sebelum ia masuk Islam, kepribadiannya sebagai manusia Arab dan kemudian sebagai Muslim merupakan teladan yang sukar dicari tolok bandingnya dalam sejarah.
Pada masa kepemimpinan Umar bin khattab, selain sebagai kepala pemerintahan, ia juga berperan sebagai seoarang Fāqih. Peranannya dalam ijtihad dan pengaruhnya terhadap perubahan pandangan hukum berpengaruh besar pada masanya hingga saat ini.
Di kalangan Muslimin, Umar Bin Khattab terkenal karena ijtihadnya yang luar biasa dan berani dalam memecahkan masalah-masalah hukum, sekalipun yang sudah termaktub dalam al-Qurān.
Kehadiran Rasūlullah Muhammad Saw, telah membawa perubahan yang sangat besar bagi masyarakat Arab khususnya Umat Islam. Selain lihai dalam menyelesaikan masalah politik dan urusan konstitusional Rasulullah SAW juga merubah sistem ekonomi dan keuangan negara, sesuai dengan ketentuan Al-Qurān.
Dalam Al-Qurān telah dituliskan secara jelas semua petunjuk bagi umat yang tentunya dapat diambil dan diadopsi menjadi petunjuk untuk  semua urusan manusia.
Pada masa  khulafāur rāshidīn, syariat Islam juga tidak dapat diberlakukan secara sempurna. Saat itu, para sahabat  dihadapkan pada berbagai kenyataan hidup dan kondisi sosial yang berbeda dengan yang terjadi pada masa Rasul, sehingga menuntut mereka untuk melakukan ijtihad, serta bermusyawarah di antara mereka.
Suatu saat, para sahabat dapat saja sependapat dan bersepakat mengenai satu hal, tetapi  pada saat lain tidak menutup kemungkinan justru berselisih pendapat. Hal tersebut juga terjadi pada masa kekhalifahan Umar Bin Khattab.
Umar bin khattab adalah seorang yang dipandang sebagai penggagas terbentuknya ilmu pemerintahan Islam. Dia adalah seorang yang pertama kali memberikan ketentuan-ketentuan atau peraturan-peraturan baku yang terkait dengan hukum dan peradilan, bagaimana mengatur pemerintahan dengan membaginya ke beberapa daerah kecil untuk lebih mudah mengaturnya dan sebagainya.
Umar bin khattab adalah seorang yang dalam memutuskan sesuatu yang terkait dengan hukum, selalu berpegang teguh pada al-Qur’ān sebagai perundang-undangan (dustur) utama dan pertama. Setiap pandangan hukum yang dikeluarkannya selalu dibangun berdasarkan ketentuan tersebut, dan tidak pernah menyalahinya.
Akan tetapi sebagian besar pemahaman yang dibentuk untuk menetapkan suatu hukum, oleh Umar Bin Khattab tidak lepas dari aspek-aspek kemaslahatan masyarakat (umat), seperti menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan, kebaikan, tolong menolong, dan penegakan hak-hak yang ada dalam masyarakat, termasuk dalam kebijakan-kebijakan ekonomi.
Umar Bin Khattab terkenal sangat berani melakukan ijtihad, hal ini dilakukan karena Umar melihat lebih jauh dan lebih dalam terhadap ajaran Islam, yaitu adanya prinsip kemaslahatan umat.
Pemerintahan Zhalim
Berbicara tentang Negara kita Indonesia tentu tidak akan lepas dari utang negara yang makin hari makin tinggi.
Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia mengumumkan posisi ULN atau utang luar negeri Indonesia pada kuartal-I 2018 tumbuh melambat. ULN Indonesia hingga akhir Maret ini tercatat sebesar USD 358,7 miliar atau sekitar Rp 5.028,97 triliun (kurs Rp 14.020 per dolar AS).
Posisi ULN tersebut naik dibanding realisasi per Februari 2018 yang mencapai USD 356,23 miliar atau setara dengan Rp 4.907,42 triliun.[MO/sr]

--------

Berbeda dengan sistem pada masa khilafah, sistem keuangan pada masa khilafah adalah sebuah sistem yang terdiri dari beberapa unsur sistem sosialis, karena rakyat secara serentak ikut serta dalam memberikan pemasukan (Income) kepada negara untuk diambil dan dibagikan kepada mereka. Juga suatu sistem yang beberapa sisinya mengandung unsur kesukuan, karena pembagiannya yang berdasarkan asas kabilah (Qabiliyyah). Dari sini juga dapat kita tegaskan bahwa kesuksesan Agama Islam sampai saat ini adalah berkah dan wasilah Tuhan melalui Sayyiduna Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu, sekaligus membantah klaim syi’ah atas tuduhan-tuduhan mereka terhadap khalifah Umar.

Dari sinilah kita dapat pula menyaksikan kepiawaian sayyiduna Umar bin Khattab dalam berijtihad, dan membuka pintu dzari’at sebagaimana ia dapat dibuka. Beliau juga menetapkan keputusan-keputusan baru dengan berpegang kepada qiyas, serta mewakafkan begitu banyak tanah-tanah Fay’ seperti Irak, Syam, dan Mesir.

Adapun peristiwa Assassination (Ightiyal) Sayyiduna Umar bin Khattab maka para sejarawan berbeda pendapat dalam hal-hal yang kecil saja, namun secara garis besar menunjukkan bahwa pembunuhnya adalah dari golongan orang yang tidak menyukai kemajuan Islam dan Bangsa Arab pada khususnya.

Lantas apa yang dapat disimpulkan dari penjelasan diatas berkenaan dengan pembentukan negara pada zaman Khulafaur Rasyidin?

Dapatlah kita simpulkan bahwasannya negara Islam adalah negara yang berdiri diatas asas musyawarah (Syura) dan dalam keputusan dan eksekusi hukum diambil oleh sang Khalifah terpilih, serta sumber kehidupan negara adalah mengambil dari rakyat, dan untuk diserahkan pula kepada rakyat. Serta pengelolaan sumber daya negara untuk kemaslahatan Ummat dalam jangka panjang . Ia adalah negara yang berdiri diatas poros hukum agama. Yaitu negara yang condong kepada sistem sosialis dalam menata keuangannya, dan berafiliasi kepada bangsa Arab dalam pendistribusian harta dan militernya.

Disamping itu sebuah negara hendaknya dipimpin oleh seorang saja, dan ditangannya segala kekuasaan, yang mana semuanya berdasarkan Syura dan Bai’at. Disana terdapat kontrak moral antara sang pemimpin, Ahlus syura, dan masyarakat dimana sang pemimpin wajib memenuhi kebutuhan rakyatnya dan memberikan hak-haknya serta mengayomi, yang mana ia juga berhak mendapatkan ketaatan dan loyalitas penuh dari rakyatnya.

Sebaliknya, rakyat wajib untuk taat secara total dan mereka berhak untuk menuntut hak-hak mereka kepada pemimpin negara, dan dapat menurunkan pemimpinnya dengan jalan musyawarah melalui wakil-wakil mereka yang arif dan bijak (Ahlul Hilli Wal ‘Aqdi) yang tetap berpegang kepada hukum Allah dan merekalah orang-orang terpilih bagi pemimpin dan juga rakyatnya. Proses pemakzulan pemimpin haram dengan cara pemberontakan. Begitupula sebaliknya, status rakyat hendaklah diperjelas apakah rakyat tersebut Bughat (pemberontak atas pemerintahan yang sah) ataukah sang pemimpin memang dzalim dan berhak dimakzulkan, bukan dengan pembantaian. Dan hendaklah keduanya mengambil jalan damai yang tidak menumpahkan darah seorang muslim yang tidak berdosa. Dengan memahami hal-hal yang dijelaskan diatas insya Allah akan lebih memudahkan kita memahami fitnah-fitnah yang terjadi setelahnya, terutama fitnah pembunuhan sayyiduna Utsman bin ‘Affan Radhiyallahu ‘anhu.

Penulis nukilkan pesan Rasulullah saw kepada kaum anshar yang marah dan tidak terima karena memberikan ghanimah dan fay’ kepada penduduk Makkah yang baru saja memeluk agama islam hingga berucap. “Semoga Allah mengampuni Rasul-Nya, dia memberi Qurays dan membiarkan kita padahal pedang-pedang kita masih meneteskan darah mereka.”

Maka Rasulullah saw menjawab yang Artinya: “Hai kaum Anshar, aku telah mendengar perkataan kalian! Bukankah ketika aku datang kalian masih dalam keadaan tersesat kemudian Allah memberikan hidayah kepada kalian dengan perantaraan aku? Bukankah ketika itu kalian masih bermusuhan kemudian Allah mempersatukan hati kalian dengan perantaraanku? Bukankah ketika itu kalian masih hidup menderita kemudian Allah membuat kalian berkecukupan dengan perantaraanku?“ Setiap kali Rasulullah bertanya, mereka menjawb: “Benar! Allah dan Rasul-Nya lebih pemurah dan utama.“ Selanjutnya Nabi saw bertanya: “Hai kaum Anshar, kenapa kalian tidak menjawab?“ “Apa yang hendak kami katakan wahai Rasulullah? Dan bagaimanakah kami harus menjawab? Kemuliaan bagi Allah dan Rasul-Nya”, sahut mereka.

Nabi saw melanjutkan: “Demi Allah, jika kalian mau, tentu kalian dapat mengatakan yang sebenarnya: Anda datang kepada kami sebagai orang yang didustakan, kemudian kami benarkan. Anda datang sebagai orang yang dihinakan kemudian kami bela. Anda datang sebagai orang yang diusir kemudian kami lindungi. Anda datang sebagai orang yang menderita kemudian kami santuni.“ Mereka menyahut histeris: “Kemuliaan itu bagi Allah dan Rasul-Nya.“ Rasulullah saw meneruskan: “Hai kaum Anshar, apakah kalian jengkel karena tidak menerima sejumput keduniaan yang tidak ada artinya? Dengan sampah itu aku hendak menjinakkan suatu kaum yang baru saja memeluk Islam sedangkan kalian telah lama berislam.









Posting Komentar