Oleh : Masniati Sabarudin
(Member Akademi Menulis Kreatif Reg. Bima)

Mediaoposisi.com-  Sudah menjadi mahfum dikalangan umat Islam bahwa salah satu diantara keutamaan bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al Qur'an. Itulah yang kita kenal dengan Nuzulul Qur'an yaitu hari diturunkannya Al Qur'an.

Ini diperkuat oleh firman Allah Ta'ala:

"Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah."
[QS. Al-Baqarah: Ayat 185]

Satu hal yang perlu kita ingat adalah bagaimana gelap dan rusaknya peradaban manusia jauh sebelum Al Qur'an itu diturunkan. Kita flash back pada peradaban Arab jahiliyah yang penuh dengan kerusakan di segala sendi kehidupan.

Dari sisi aqidah , kehidupan bangsa Arob dipenuhi dengan kesyirikan, khurafat dan paganisme. Dari aspek sosial, kerusakan moral akibat merajalelanya perzinahan, khamar, perjudian, bayi-bayi perempuan dikubur hidup-hidup dan kerusakan moral lainnya.

Dalam aspek ekonomi, unsur ribawi dan kecurangan mewarnai aspek bisnis dan muamalah di tengah masyarakat Mekah. Belum lagi dari aspek politik, bangsa Arab kala itu dipandang sebelah mata oleh bangsa digdaya Imperium Persia dan Bizantium.

Namun, Peradaban hina itu berbalik 360 derajat setelah Islam datang dengan Al Qur'an sebagai pelita dan petunjuk hidup manusia.

Sejak saat itulah lahir peradaban gemilang yang mengakat manusia dari jurang kesesatan menuju caha petunjuk yang menyelamatkan manusia.

Bangsa Arob menjadi masyhur. Disegani oleh kawan maupun lawan. Dengan menjadikan Al Qur'an sebagai pedoman kehidupan manusia, ternyata mampu membuatnya bertahan hingga lebih kurang 13 abad dan menguasai 2/3 dunia. Ma syaa Allah, bukan waktu yang singkat untuk menjadi digdaya yang membawa kegemilangan peradaban agung sepanjang sejarah umat manusia.

Namun, peradaban agung itu tak lagi ada. Kajiliyahan kini kembali menyelimuti umat manusia. Satu hal yang harus kita renungi ada apa dibalik semua ini??

Ya, tak perlu heran jika dulu kejahiliyahan itu ada sebelum Islam datang, maka kembalinya masa itupun tatkala Al Qur'an dijauhkan dari kehidupan manusia.

Lihatlah kini, apa yang kita saksikan sungguh memiris hati. Berkali-kali kita telah melewati Ramadhan setiap tahunnya. Berkali-kali pula di dalamnya diperingati nuzulul Qur'an. Namun, semuanya tidaklah membawa perubahan yang lebih baik. Para khatib dalam khutbahnya dan para da'i dalam ceramah-ceramahnya sering menyampaikan bahwa Al Qur'an adalah pedoman dan petunjuk hidup. Namun realisasinya dalam kehidupan nihil.

Yang lebih menyayat hati umat saat ini adalah ketika Al Qur'an yang mulia malah dijadikan sebagai alat bukti terorisme. Ini menunjukan bentuk fitnah dan penghinaan atas kalamullah yang agung. Seharusnya ini memberi gambaran ke kita bahwa Al Qur'an akan semakin dijauhkan dari kehidupan umat.

Al Qur'an dibiarkan untuk dilantunkan dengan merdu dalam perlombaan-perlombaan berhadiah. Hafidzal Qur'an dijadikan sebagai life style (gaya hidup) dan dijauhkan dari penerapannya dalam mengatur kehidupan umat manusia.

Dari itu, Nuzulul Qur'an Ramadhan tahun ini semoga menjadi momentum bagi kita untuk mengembalikan penerapan kandungan Al Qur'an sebagai aturan bagi kehidupan manusia hingga kita meraih kemuliaan dunia wal akhirat.[MO/sr]




Posting Komentar