Oleh: Aprizen

Mediaoposisi.com-  Garuda Pancasila di dadaku, honor besar di kantongku. Inilah kira-kira selogan yg akhir-akhir ini menjadi tranding topik di sosial media. Bagaimana tidak, Badan Pembina Ideologi Pancasila (BPIP) yang langsung dikomandoi oleh Megawati sang pemilik partai banteng moncong putih memiliki gaji yang sangat fantastis, yaitu Rp. 112 juta dan Rp. 100 juta untuk para anggatanya.

Jelas ini sangat menjadi tanda tanya, sekaligus menyakiti hati rakyat. Sebab di pelosok sana masih banyak guru pancasila yang belum jelas gajinya, bahkan masih jauh dari kata cukup. Inilah mungkin menjadi salah satu alasan koran Radar Bogor mengangkat judul "Ongkang Ongkang kaki gaji 112 juta " yang langsung membuat PDIP dan kadernya mengamuk dan menyerunduk kantor Radar Bogor tersebut.

Sepontan tindakan PDIP itu mendapatkan kecaman dari netizen karena yang disampaikan oleh koran Radar Bogor adalah fakta adanya. Ketika megawati berteriak saya pancasila, mata kita langsung tertuju dan melihat bagaimana pengamalan pancasila oleh pertai dan para kadernya. Sudah sejauh mana pembinaan pancasila kepada partai dan kadernya?

Apakah pancasila identik dengan kebrutalan, premanisme, dan bar-baran? Ini akan menimbulkan pertanyaan, bagaimana mau menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada rakyat Indonesia yang majemuk ini, sedangkan anggota partainya sendiri jauh dari nilai-nilai Pancasila.

Sehingga tidak heran jika kasus ini tidak segera diselesaikan oleh polisi, publik akan berkesimpulan bahwa polisi tidak tegas kepada PDIP dan bisa jadi publik berasumsi inilah contoh pengamalan pancasila yang dibina oleh BPIP .

Maka PDIP belajarlah kepada HTI bagaimana berpancasila yang baik. Yaitu mengamalkan pancasila poin demi poin dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Silakan dilihat dan periksa jejak digital dimanapun, setiap kegiatan HTI adalah dalam rangka menyelamatkan negeri ini dari penjajahan.

Sebut saja ketika Timor Timur lepas, HTI paling lantang menolak hal tersebut, dibidang sumber daya alampun seperti itu. HTI anti penjajahan yang bermotif investasi untuk merampas SDA negeri ini. Dan masih banyak lagi jejak digital yang tidak bisa berbohong tentang kontribusi positif HTI untuk negeri ini.

Pada intinya HTI tidak menginginkan negeri ini dijajah oleh negara-negara imperialis. Bukankah ini yang dicita-citakan oleh leluhur bangsa Indonesia? Sudah pasti sesuai dengan pembukaan UUD 1945 dan Pancasila tentunya.

Dan lihatlah PDIP yang berkoalisi dengan pemerintah secara jelas dan vulgar mempertontonkan kepada rakyat Indonesia telah menjual dan menggadaikan negeri ini pada negara-negara penjajah. Sebut saja SDA, infrastruktur, aset negara, bahkan hutang luar negeri. Bukankah PDIP sedang berkuasa di pemerintahan ini? maka belajarlah kepada HTI dalam berpancasila. 

Ketika HTI dicabut secara paksa BHPnya oleh pemerintah, lagi lagi HTI menujukkan bagaimana pengamalan pancasila yg sejati. Yaitu tidak melakukan aksi protes dijalan-jalam apalagi brutal. Begitupun ketika pengadilan mengalahkan HTI, maka HTI pun sujud syukur atas kedzaliman yang dilakukan penguasa negeri ini dan terus berupaya agar kedzaliman ini segera berakhir.

Tentunya dilakukan dengan cara konstitusional. Belum lagi di daerah-daerah,  para kader dan pendukung HTI tidak jarang diperkusi, di batalkan pengajianya, dan fitnah. Lantas adakah kader HTI berlaku brutal? Tidak. Karena itu bukan tipe dakwah HTI. Kader HTI lebih mengedepankan dakwah tanpa kekerasan, bukankah ini bentuk yang sebenarnya pengamalan pancasila wahai PDIP? Maka belajarlah kepada HTI untuk berpancasila yang benar.

HTI adalah partai politik non kekerasan, mengedepankan pemikiran dan gagasan bukan mengedepankan otot apalagi kebrutalan dan premanisme. Maka belajarlah pada HTI cara berpolitik yang sesuai dengan Pancasila kewahai PDIP. 

Rakyat sedang melihat secara jelas siapa yang sedang benar berpolitik menyelamatkan bangsa ini dan siapa yg sedang berpolitik untuk mengisi kantong-kantong pribadi dan kelompoknya. [MO/sr]

Posting Komentar