Oleh: Nurhayati
(Mahasiswa, aktivis Back to Muslim Identity Community Samarinda)

Mediaoposisi.com-  Razan al Najjar namanya. Menjadi relawan tenaga medis, perempuan Palestina berusia 21 tahun tersebut ditembak mati oleh sniper Israel yang juga seorang perempuan berusia 18 tahun. Kabar kematian muslimah ini membawa duka di hati setiap muslim di dunia. Sosoknya yang berani, tak gentar menolong saudara seiman meski harus menukar nyawa membawa Palestina semakin larut dalam kedukaan.

Razan bukanlah yang pertama. CNN Indonesia mengabarkan Yasser Murtaja, seorang fotografer yang bekerja untuk kantor berita Ain Media di Gaza meninggal akibat luka tembak oleh tentara Israel. Murtaja tewas dengan mengenakan rompi pers saat melaksanakan tugas. [https://m.cnnindonesia.com/internasional/20180407173631-120-289102/satu-wartawan-palestina-tewas-ditembak-tentara-israel].

Pada tahun 2010 tentara Israel menghadang kapal Mavi Marmara, bantuan kemanusiaan dan relawan untuk korban Palestina. Sedikitnya dikabarkan 19 orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka. [https://dunia.tempo.co/amp/253088/inilah-kisah-detil-penyergapan-tentara-israel-di-atas-kapal-mavi-marmara].

Sepanjang perjalanan sengketa wilayah Palestina, Israel kerap tak mengindahkan hukum internasional. Berbagai resolusi yang dikeluarkan sejak tahun 1920, mulai dari resolusi perdamaian hingga kecaman dari pihak PBB selalu menuai jalan buntu.

Dalam konvensi yang mengatur tentang perang (hukum humaniter), tenaga medis, bangunan kesehatan, rohaniawan serta media informasi wajib dilindungi. Pemukiman, warga sipil, perempuan dan anak-anak tidak boleh terlibat dalam konflik mematikan tersebut. Namun Israel mengabaikan segala regulasi yang ada dengan berlindung dibalik veto Amerika. Hingga pada situasi terparah, pengakuan sepihak Yerusalem sebagai ibukota Israel.

Sejak kaum Muslim kehilangan perisainya yakni runtuhnya daulah Islam pada tahun 1924, Yahudi dengan kalap mencabik-cabik kehormatan Islam. Penderitaan kaum Muslim di Palestina semakin terpampang nyata sejak Yahudi berhasil mendeklarasikan negara Israel melalui peresmian pencaplokan 55% wilayah Palestina pada Resolusi PBB Nomor 181 tanggal 29 November 1947.

Tujuan utama Yahudi ialah menguasai Palestina. Mereka tidak akan berhenti sampai berhasil menguasai seluruh wilayah dan mengusir kaum muslim yang tinggal disana. Mereka akan melakukan berbagai cara untuk menduduki kiblat pertama Islam tersebut.

Tentang bangsa Yahudi, Allah menerangkan dalam Al-Qur’an bahwa mereka tidak akan pernah senang hingga kaum Muslim mengikuti agamanya (QS Al-Baqarah:120), selalu menyembunyikan kebenaran (QS Al-Baqarah: 146), berusaha memurtadkan kaum muslim (QS Al-Baqarah: 109), serta akan senantiasa menyesatkannya (QS Ali Imran: 69). Di masa Rasulullah, Yahudi menjadi pengkhianat atas janji yang mereka buat dengan daulah Islam.

Wahai kaum muslimin, harus meregang berapa nyawa lagi baru kita sadar, permasalahan Palestina bukan sekedar soal kemanusiaan. Sangat tidak adil ketika saudara kita di Palestina berdiri kokoh membela negerinya sedang yang dihadapinya adalah Israel dengan hegemoni besar dibelakangnya. Palestina tak berdaya, kocar kacir tanpa komando pemimpin Islam sedang Israel berdiri gagah dengan komando pasukan dan persenjataan lengkap.

Ketidaktaatan Israel pada hukum internasional menjadi bukti bahwa Israel disokong oleh kekuatan besar. Sedang kaum muslim di Palestina? Berdiri lemah tak berdaya.

Kita tentu sudah letih mendengar penderitaan saudara kita di Palestina. Tentu kita tidak lagi ingin mendengar isak tangis ibu yang kehilangan nyawa anaknya. Kita bahkan terlalu lelah dengan semua fitnah yang ada. Lantas kemudian, kapan diri akan tergerak? Bangkit melawan kafir penjajah yang senantiasa menyiksa saudara kita? Ataukah perumpamaan satu tubuh yang disabdakan Rasulullah tak lagi terasa? Telah lumpuhkah kita wahai jiwa-jiwa yang beriman?

Umat butuh persatuan. Dalam membungkam Yahudi, membalas pengkhianatannya, saat daulah Islam tegak Rasulullah bersama para sahabat melakukan jihad. Jika Israel menyerang dengan ribuan pasukan maka seharusnya juga dilawan dengan ribuan pasukan. Karenanya Palestina butuh Khilafah, sebuah institusi pemersatu yang dipimpin oleh seorang khalifah.

Dengan adanya Khalifah, komando perjuangan akan menyatu, seluruh kaum muslim di dunia akan mampu menolong tidak hanya penjajahan di Palestina, tapi juga di Suriah, Irak, Rohingya dan negeri-negeri lainnya. Karena itu umat butuh Khilafah. Sebab Rasulullah sendiri telah mencontohkan dengan mendirikan daulah Islam, urusan umat, kehormatan serta keamanannya akan dilindungi oleh negara, perisai utama kaum muslim di dunia.[MO/sr]



Posting Komentar